
Demian semakin mengikis jarak dan mengecup kening Lia. Di saat yang bersamaan Arvan datang membuka pintu.
"Maaf. Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat." Arvan memundurkan langkahnya dan hendak menutup pintu kembali. Namun langkahnya terhenti saat Lia memanggilnya.
"Van, masuklah. Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Lia mencoba meluruskan kesalahpahaman.
"Ini seperti yang kau pikirkan. Aku menyukai Lia. Meskipun Lia bilang tidak, aku yakin suatu saat dia akan menerimaku. "Jawab Demian dengan sangat percaya diri.
"Aku juga menyukainya. Kita bisa bersaing secara sehat untuk mendapatkannya." Arvan tak kalah percaya dirinya dari Demian. Ia memutuskan mengutarakan perasaannya yang selama ini ia pendam.
Sementara itu Lia memijat keningnya yang tidak pusing karena terjebak dalam situasi semacam ini.
"Kau mau apel Lia? Aku akan mengupasnya untukmu?" Tawar Arvan kepada Lia.
"Tidak, terimakasih. Aku ingin minum saja." Jawab Lia.
Arvan segera mengambil air mineral untuk Lia. Tapi ia kalah lebih dulu dari Demian.
"Minumlah." Demian menyodorkan air mineral yang seal nya sudah ia buka terlebih dahulu.
"Hei, hei. Kau curang. Ucap Arvan dengan wajah kesal.
"Sudahlah jangan ribut, aku mau istirahat." Lia memiringkan tubuhnya dan tidur membelakangi Demian dan Arvan. Ia hanya pura-pura tidur.
Pantaskah aku untuk di perebutkan seperti ini? Aku hanya gadis dengan begitu banyak kekurangan.
Lia bermonolog di dalam hati. Ia begitu takut memikirkan tentang masa depannya. Yang ia inginkan hanyalah sederhana, bisa hidup dengan normal dan melihat keluarganya bahagia.
****
Seminggu berlalu. Lia sudah pulang dari rumah sakit dan kembali melakukan rutinitasnya.
"Kamu baru saja sembuh nduk, jangan ke ruko dulu." Pinta Amira dengan kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku sudah sehat buk, Justru badanku terasa sakit semua jika hanya diam terus di rumah." Lia mengusap lembut punggung tangan ibunya dan meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Kamu itu memang keras kepala. Yasudah ibu izinkan tapi janji jangan terlalu memaksakan diri. Kalau capek istirahat."
"Iya iya." Lia mencium tangan Amira dan berpamitan. Sesampainya di teras ia mendapati Demian sudah duduk sambil memainkan ponselnya
"Kau. Mau apa sepagi ini sudah kemari?" Tanya Lia penuh selidik.
"Mengantarmu kerja." Jawab Demian sambil beranjak dari duduknya.
"Astaga. Jarak ruko dari rumahku hanya dua ratus meter. Dan kau datang jauh-jauh dari batas kota kemari hanya untuk mengantarku ke ruko?" Lia menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Apa salahnya?" Jawab Demian dengan senyum tengil.
Tak berselang lama tampak mobil klasik berwarna hitam berhenti di halaman rumah Lia. Dia adalah Arvan.
"Hei, mau apa kau kemari,bocah." Tanya Demian.
"Aku mau mengantar Lia ke ruko." Jawab Arvan.
"Lia akan berangkat bersamaku. Harusnya kau kuliah sana. Belajarlah yang rajin." Ucap Demian.
"Jangan dengarkan dia Lia. Hari ini aku tidak ada kelas. Lagi pula dia terlalu tua untukmu." Protes Arvan yang tak terima dibilang bocah oleh Demian.
Lia memutar bola matanya malas dan berjalan meninggalkan keduanya.
Arvan dan Demian pun turut berjalan mengekor Lia dan meninggalkan mobil mereka di sana.
Lia berjalan sambil menoleh ke belakang.
Astaga. Apa mereka sama sekali tidak ada kerjaan. Kelakuan mereka benar-benar seperti bocah. Tak sesuai dengan badannya yang kekar. Batin Lia.
Sesampainya di ruko Demian melangkah dengan lebar dan mendahului Lia. Ia membukakan pintu untuknya.
"Silahkan nona manis." Ucap Demian dengan sedikit membungkukkan badan.
Tentu saja hal itu membuat ketiga karyawan Lia saling berbisik.
"Kau akan kembali ke Swiss?" Tanya Lia dengan sedikit terkejut.
"Tidak. Kami akan meeting secara virtual."
Ada sedikit kelegaan di hati Lia. Ia merasa damai jika Demian berada di dekatnya. Semakin ia menepis perasaannya, semakin terasa sesak dan menyakitkan.
Lia berperang dengan batinnya sendiri. Jika ia menghindari Demian, hatinya bagai tersayat sembilu. Tapi jika ia membuka hatinya untuk Demian, ia merasa tidak akan bisa membuatnya bahagia. Dan penyakit yang ia derita saat ini tentu akan selalu mempersulit kehidupan Demian.
"Pergilah. Ada aku disini yang akan menemani Lia." Arvan mengusir Demian secara halus.
"Berhati-hatilah Lia. Jangan tertipu dengan wajah polos bocah ini." Demian menanggapi Arvan dengan santai.
Lia menutup kedua telinganya dengan tangan. "Stop! Jangan mulai lagi. Bisakah kalian akur sebentar saja? Ucap Lia.
"Tidak." Jawab Arvan dan Demian secara bersamaan.
Setelah Demian pergi, Ketiga karyawan Lia menghampiri Lia dengan antusias.
"Aaaa mbak Lia. sumpah ganteng banget. Bule nyasar dari mana? Teriak salah satu karyawan Lia yang bernama Resa.
__ADS_1
"Mbaaakk. kenalin sama kita-kita dong. Ucap karyawan Lia yang lainnya sambil menarik ujung kemeja Lia dan menggoyang-goyangkannya.
Lia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala menanggapi rengekan karyawannya.
"Sudah sudah, kembali kerja sana." Perintah Arvan kepada karyawan Lia.
Arvan sudah sangat akrab dengan karyawan Lia karena ia sering membantu Lia di ruko. Atau hanya sekedar mampir sebentar sepulang dari kampus. Arvan juga sangat dekat dengan Kiara dan sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Hari ini Lia menerima pesan dari SURVIVOR, komunitas di jejaring sosial yang ia buat untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Baik itu perihal dukungan moral ataupun bantuan biaya pengobatan.
Seseorang bernama Nur tengah meminta bantuan kepada Lia. Ia adalah anak tunggal dari seorang pebisnis handal asal Malaysia. Keberadaannya di sembunyikan oleh ayah kandungnya sendiri. Nur mengidap vitiligo, suatu kondisi yang menyebabkan kulit tidak dapat memproduksi melanin atau senyawa yang menentukan warna kulit. Kondisi tersebut menyebabkan kulit tampak belang dan berbeda dengan warna kulit aslinya.
Ayah Nur menganggapnya aib yang harus di sembunyikan.
***
"Lia. Kau yakin akan kesana?" Tanya Arumi yang sedang membantu Lia mengemas pakaian.
"Sangat yakin. Aku ingin sisa hidupku bermanfaat untuk orang lain Ar."
"Kau sudah memberitahu Demian?" Tanya Arumi.
"Jika aku memberitahunya, dia akan selalu mengikutiku Arumi. Sedangkan kau tau, aku ingin menghindarinya."
"Kau jadi mengantarku ke bandara?" Tanya Lia.
"Tentu saja. Kau sudah siap?"
"Ya. Aku sudah siap. Kau memang sahabat terbaikku."
Lia keluar dari kamar membawa tas besar dan berpamitan dengan ibu serta adiknya. Di ikuti Arumi yang keluar membawakan koper Lia yang tak terlalu banyak barang bawaan.
"Hati-hati di negeri orang nduk. Jaga kesehatan, jangan lupa selalu kabari kami." Amira tampak berkaca-kaca menahan air mata yang kian mendesak. Sedangkan Kiara memeluk Lia dan menangis sesenggukan. "Jaga ibuk ya Kiara. Mbak nggak lama kok." Ucap Lia yang tengah mengusap-usap punggung adiknya dan di jawab anggukan oleh Kiara.
Sebelum berangkat ke bandara, Arumi tampak sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon. Lia memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil sambil sesekali melirik sahabatnya itu. Tak biasanya Arumi menjauh ketika mengangkat telepon dari seseorang.
"Telponan sama siapa?" Tanya Lia.
"Ada deh. Buruan ih masuk mobil." Jawab Arumi cengengesan.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju bandara.
Untung saja Lia tidak curiga. Ucap Arumi di dalam hati.
Ya, Saat ini Arumi sedang merencanakan sesuatu kepada Lia.
__ADS_1
Bersambung..