
Sylvia bangkit dari sofa saat melihat kedatangan Cedric kembali.
"Tuan, darimana saja? " Cedric tidak menjawab pertanyaan Sylvia.
Cedric menutup pintu ruangannya dengan dibanting keras. Ia melonggarkan dasinya lalu duduk di kursi kerjanya sembari memijat pelipisnya.
Tak lama John datang
"Tuan, apa hal yang membuat Anda memecat staff tadi?, dia bersikeras bahwa tidak pernah melakukan kesalahan apapun. " John meminta penjelasan terhadap Cedric.
Sylvia ikut berargumen "Kakak, ada apa denganmu? kau memecat staff tanpa alasan. Tega sekali..! "
"Diam kalian!! " Cedric membentak mereka berdua.
"Aku sedang tidak ingin berdebat" Cedric melanjutkan.
Sylvia kesal pada Cedric, ia tidak ingin berkomentar apapun lagi. Sylvia meninggalkan kantor Cedric dan masuk ke ruangannya di sebelah kantor Cedric.
"Tuan, sekitar sejam lagi Mr. Lui Zhang akan datang. Bersiaplah, panggil aku jika butuh sesuatu. " John juga meninggalkan ruangan Cedric dengan perasaan kesal.
Cedric kembali melihat laptop nya yang masih tersambung dengan CCTV dapur, Ia memandangi Nana yang sedang mondar mandir mengambil bahan baku.
"Kelinci kecil kau harus bertanggung jawab karena kau telah membuatku marah"
Cedric tersenyum smirk ke arah layar yang menampilkan Nana, terlihat jelas disana Nana sedang yang kebingungan.
Saat sedang mencuci bowl Nana mendadak teringat masa-masa dulu, Dimana ia selalu menganggu ibunya yang sedang mencuci peralatan masak dengan merengek meminta makanan untuk cepat matang.
"Dulu aku selalu mengganggu ibu saat sedang cuci piring, aku sangat suka meminta ibu membuat rujak saat cuaca panas sekali, ibu membuat rujak tumbuk lalu aku dan ayah, menyiapkan karpet di teras. Ehhh sebentar... kenapa tidak terpikirkan dari tadi ya.. baiklah aku akan membuat rujak tumbuk saja untuk appetizer nya"
Nana mulai menyiapkan bahan baku untuk Rujak tumbuk nya. Ia mengambil Nanas, Ubi mentah, Pisang batu, Mangga muda, Bengkoang, jambu air, dan kedondong.
"Ia sekarang kita akan menghaluskan dulu bumbunya. Bawang putih 2siung, Cabai rawit 5 buah, segenggam Kacang tanah, terasi sedikit saja dan gula merahnya.. tidak lupa seasoning se cubit garam"
Nana menghaluskan bumbunya, dengan cara ditumbuk menggunakan lumpang dan alu. Suara buk buk buk. Memecah keheningan akibat kejadian tadi.
__ADS_1
"Apa yang kau buat Na? " Bima bertanya pada Nana penasaran.
"Aku membuat rujak tumbuk untuk appetizernya" Nana menjawab dengan antusias.
"Apa itu tidak terlalu biasa? " Bima merasa ragu dengan menu pembuka pilihan Nana.
"Kau meragukan keahlianku? hahh!!! pergi kau.. " Nana menjadi kesal mendengar Bima yang terus bertanya.
"Sisakan sedikit Na" Bima meminta jatah pada Nana.
Nana hanya menjawab dengan pelototan. Ia melanjutkan aktivitasnya, saat bumbunya sudah jadi ia pun memotong Bahan baku lainnya agar mudah untuk ditumbuk. Dan semua rasanya menyatu.
"Wahhh segar dan enak sekali, hahaha Nana Handmade.. " Nana terkesan dengan kelihaian tangannya. Ia memuji dirinya sendiri.
"Aku akan, menambah tortilla jagung sebagai pelengkap. "
"Dannn walllaaaa, sudah jadi.. aku tinggal memikirkan Main course dan dessertnya"
Di samping itu Hobi Cedric saat ini adalah mengawasi Nana lewat layar laptopnya yang tresambung dengan CCTV. Ia melihat Nana cekatan dalam setiap langkahnya, membuat mood nya yang tadi rusak berangsur membaik.
"Tuan, Pak Anwar sudah datang"
"Suruh dia masuk" Cedric bangkit lalu merapikan jasnya.
Pak Anwar masuk ke ruangan Cedric dengan wajah gugup. Lalu duduk berhadapan dengan Cedric. Sedangkan Sylvia duduk disebelah Cedric.
Pak Anwar mengelap keringat di wajahnya dengan saputangan terus menerus seperti sedang khawatir akan sesuatu.
"Pak Anwar bisa bapak jelaskan ini? " Sylvia menyodorkan Laptopnya, ia memperlihatkan Data keuangan Sincere Cosmetic.
"Ituu, bukan aku. Karyawan ku lah yang selalu mencuri produk lalu menjualnya secara mandiri kepasar gelap dengan harga miring. Tapi anda tidak usah khawatir mereka sudah aku pecat semua" Pak Anwar tiba-tiba menjelaskan dengan terburu-buru.
"Hahahaha bodoh. bodoh!!!!!"
__ADS_1
Cedric tertawa dengan menyeramkan
"Sudah kuduga! " Cedric berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Pak Anwar ada apa denganmu, aku menyuruhmu menjelaskan data penjualan Sincere Cosmetic tahun kemarin yang tetap stabil. Lihatlah"
Sylvia tertawa mengejek melihat reaksi Pak Anwar yang semakin salah tingkah.
"Ohhh, ohhh benarkah? " Pak Anwar tersenyum kikuk lalu meraih laptop dari tangan Sylvia.
Cedric tertawa semakin menakutkan.
Lalu ia bertepuk tangan hal itu membuat Pak Anwar terkejut.
"Kau bersikeras menyembunyikan kebohonganmu Pak tua! Mau aku yang katakan Atau kau yang katakan? "
Cedric bangkit lalu mengambil berkas yang tadi John bawa dan melemparkannya ke meja.
"Jelaskan lah apa ini?!! "
Isi dalam berkas itu berhamburan. Keterkejutan tergambar jelas di wajah Pak Anwar, disitu berserakan foto-foto bukti penggelapan produk yang dilakukan oleh dia sendiri.
"Tuann, tuann, maafkan aku. Berikan aku kesempatan. Aku terpaksa melakukan itu, Istriku amat sangat menyukai uang, ia tidak pernah puas akan gajiku.. tolong tuan"
Pak Anwar langsung terduduk dilantai sambil memohon agar Cedric memaafkannya.
Cedric hanya melihatnya tanpa rasa iba ataupun kasihan.
"Kau dipecat.! " itulah kata yang keluar dari bibirnya.
"Tuann, tuannn aku mohon.. tuan Cedric. "
Pak Anwar masih berusaha meminta maaf pada Cedric. Cedric bangkit dan menjauh. John datang dengan membawa dua orang security berbadan besar.
"Bawa dia" John memerintah kan dua security itu untuk membawa Pak Anwar keluar dari kantor Cedric.
__ADS_1
"Tidaaakkk, tidakk tuannn Cedric!! "...
Meski sudah diseret Pak Anwar masih saja meronta hingga ia menghilang dari pandangan Cedric.