Gadis Tangguh Kesayangan Mr. Cedric

Gadis Tangguh Kesayangan Mr. Cedric
Kau pengganti Adikku


__ADS_3

Selang beberapa menit John dan Sylvia menyusul Cedric masuk ke dalam mobil. John duduk di kursi kemudi dan Sylvia disebelahnya. Mereka lalu pergi menuju Kantor Pusat Sincere untuk meeting bersama Mr. Ali pengusaha Akomodasi asal Qatar.


"Tuan, kenapa anda membatalkan kontrak Resort seharga ratusan miliar yang telah disepakati bersama Mr. Ali. " John bertanya mengenai kontrak Resort yang akan Cedric batalkan padahal kontrak itu bernilai fantastis.


"Aku hanya tidak suka Mr Ali, dia banyak bicara" Jawaban Random Cedric sukses membuat John dan Sylvia geleng-geleng kepala.


30 menit berlalu mereka akhirnya tiba di Kantor. Cedric memasuki gedung dengan tergesa-gesa disusul oleh Sylvia dan John dibelakang langkahnya. Sapaan dari para karyawannya bersautan apalagi para karyawati yang selalu mengaguminya.


"Sore Mr. "


"Good Afternoon, Mr. Oh my god dia selalu tampan. Walau wajahnya sedang terluka" para karyawati menyapanya dengan antusiasme.


"Selamat Sore Tuan" Cedric hanya menjawab dengan anggukan.


Cedric memasuki ruangan kantornya yang berada di lantai teratas. Nuansa kegelapan sangat memenuhi ruangan yang didominasi warna hitam itu. Cedric lalu berjalan kearah jendela. Pemandangan Kota Bandung sangat indah dilihat dari lantai 20, ini adalah aktivitas favorit Cedric saat tidak mood.


"Kenapa ia belum tiba? "


"Mungkin sebentar lagi tuan" Sylvia selalu memanggil tuan apabila sedang di lingkungan kerja tanda bahwa ia menghormati Cedric.


Beberapa saat kemudian Sylvia mendapat kabar bahwa Mr. Ali sudah menunggu di ruang meeting. Mereka pun bergegas menuju ruang meeting, tapi Sylvia entah kenapa ia merasa cemas seakan ada hal buruk yang akan terjadi.


Benar saja disana Mr Ali dengan sekretaris dan beberapa bodyguard nya sudah menunggu.


"Ya Salam, Mr Cedric apa maksudmu. aku dengar kau ingin membatalkan kontrak resort yang sebelumnya kau setujui? " Mr. Ali to the point.


Cedric duduk di kursi kepemimpinan nya. Ia hanya melirik tajam kearah Mr. Ali.


"Iya, Aku ingin membatalkan kontrak kerja yang sudah disepakati." Cedric mulai memainkan sebuah rubik ditangannya.


"Kau tidak bisa begitu, kau sangat tidak Profesional!!!!. Aku ingin tau alasan yang tepat. Aku tidak Terima dihina seperti ini. Aku akan menuntutmu!!! Aku akan membuatmu menderita, aku akan menghancurkan perusahaan mu!!!!" Mr. Ali mendadak menjadi emosi.


Cedric berhenti melakukan aktivitasnya. "Lalu aku harus menerima kontrak kerja dari orang yang bekerja sama dengan pamanku. Yang mencoba untuk membunuhku dimalam itu!"


"Kkkkkau tau? " Mr. Ali tergagap.


"Apa yang ku tau" Cedric berbalik bertanya.


"Sialannnn kau, Cedric" Mr. Ali mengacungkan senjata tepat kearah wajah Cedric.


"Aaaaaaaa... " Sylvia berteriak dan menutup telinganya.


John mengacungkan senjatanya ke arah Mr. Ali sambil memberikan kode pada Sylvia untuk keluar. Langkah Sylvia terhenti karena beberapa Bodyguard Mr Ali sengaja menghalangi pintu.

__ADS_1


Mr. Ali justru gemetaran saat melihat ekspresi wajah Cedric yang datar tidak bergeming.


"Hari ini juga akan ku bunuh kau. !!!! "


Cedric bangkit dari duduknya dengan santai, dengan pistol yang masih mengarah padanya.


"Justru aku lebih takut dia kambuh" John berkata di dalam hatinya.


Saat Mr. Ali menarik pelatuknya dan siap untuk menembak Cedric. Cedric menahan tembakan itu dengan telapak tangannya. Sehingga peluru itu melukai telapak tangan Cedric, namun anehnya tidak sampai melubangi telapak tangannya hanya darah yang bercucuran.


Mr. Ali terkejut melihat hal itu, lalu dengan liciknya ia menarik Sylvia dan mengarahkan pistol ke kepala Sylvia.


"Aaaaaa, Kakak" Sylvia berteriak Histeris.


John terkejut, namun tangannya langsung ditahan oleh sekretaris Mr Ali yang bertubuh besar.


Cedric masih diam dengan wajah datarnya ia seperti tidak merasakan sakit ditelapak tangannya. Hal itu yang membuat Mr. Ali semakin jengkel dan sengaja memprovokasi nya.


"Hmmmm wangi sekali wanita ini, Hahahaha aku sudah terpikat saat pertama kali kita mengadakan pertemuan" Mr Ali merobek baju bagian bahu Sylvia


"Hahahahahah" Mr Ali, dan para bodyguard nya tertawa mengejek.


"Kakak tolong aku... Hiksss hiksss" Sylvia sangat histeris, ia tampak sangat ketakutan.


Sylvia mengambil kesempatan itu untuk menelpon polisi meskipun dalam keadaan traumatik.


Cedric menghajar Mr. Ali tanpa ampun, ia meninju wajahnya, mengangkat tubuhnya lalu membantingkannya ke bawah, memukul perutnya, berulang. Para bodyguard Mr Ali yang memiliki tubuh seperti raksasa pun tidak kuat menahan tenaga Cedric. Cedric seperti kerasukan iblis, ia terus menghajar Mr Ali tak kenal ampun


"Bugggg bugggg bugggg.... brakkk" Cedric terus memukulnya tanpa berbicara sedikitpun.


"Bbbbaaa baiklah aku mohon ampuni aku, sudddah aku mohonnn.. " Mr Ali sudah menyerah tapi Cedric malah semakin menghajarnya.


John yang sudah membuat semua bodyguard Mr. Ali tidak sadarkan diri menghembuskan nafasnya kasar melihat Cedric yang terus menghajar Mr. Ali meski sudah minta ampun.


"Ini yang ku takutkan" John berguman.


Polisi akhirnya tiba disana, para karyawan dan karyawati berdesakan penasaran akan apa yang terjadi. mereka terkejut melihat pemandangan didepan mata mereka.


Cedric terus memukul wajah Mr. Ali meski ia sudah tidak sadarkan diri.


"Tuan sudah tuan.. " John mencoba menahan tangan Cedric tapi Cedric malah mendorongnya dengan kasar.


"Bugggg bugggg bugggg" Wajah Mr Ali setengah hancur ia sudah tewas tapi Cedric belum menghentikan pukulannya polisi pun tidak bisa mencegahnya karena mereka tunduk pada Cedric.

__ADS_1


"Kakak sudah.. a, aaku tidak apa-apa"


Sylvia mendekatinya menahan tangannya akhirnya Cedric bisa berhenti. Ia menoleh ke arah Sylvia yang berantakan. Ia bangkit lalu memakaikan jas menutupi tubuh Sylvia. Lalu berjalan keluar ruang meeting.


"Bersihkan ini"


"Baik tuan" Para polisi menuruti perintah Cedric.


"Apa yang kalian lihat!!!!! kalian tidak bekerja hahhh!! " John membentak para karyawan yang berkerumun. Merekapun bubar karena takut.


Mereka bertiga menaiki lift.


Sylvia tampak masih gemetaran, Kilasan-kilasan kejadian buruk dahulu yang membuat calon suaminya tewas kembali menghantuinya.


"Tiddddakkkkkkkkkkk" Sylvia tiba-tiba berteriak mengejutkan John dan Cedric.


"Kakak.. Kakak tolong aku, mereka... mereka.. akan memperkosa ku.. kakak Lucas.. diaaa meninggal gara-gara aku.. kakak.. Lucas.. " Sylvia menangis histeris ia meracau sambil gemetaran.


John menatapnya iba. Sylvia tiba-tiba pingsan. Cedric mengangkat tubuh Sylvia. Saat sampai di ruangannya ia menidurkan Sylvia di sofa.


John mengambilkan air, minyak angin dan obat penenang milik Sylvia. Cedric menyangga kepala Sylvia lalu meminumkan obat penenang padanya.


"Biarkan ia istirahat" Cedric duduk di Kursi kebesarannya dan terlihat menyambungkan telepon dengan seseorang.


"Trauma mu belum hilang Sylvia, kau tidak bisa membohongi kami" John bergumam ia merasa sangat kasihan pada Sylvia. Ia teringat adik perempuannya yang masih balita yang meninggal bersama orangtuanya dalam sebuah insiden kecelakaan mobil.


Beberapa saat kemudian Sylvia terbangun ia nampak sudah agak tenang.


"Ada dimana aku? " John nampak ketiduran di sofa lain dekat Sylvia akibat kelelahan.


Cedric mendekat kearah Sylvia.


"Kau sudah sadar" Cedric menyodorkan minum padanya.


"Terima kasih Kakak " Sylvia memimun air itu.


"Kakak terimakasih banyak telah melindungi ku selama ini. Padahal aku yang membuat kakak kehilangan adik kesayangan kakak" Sylvia tiba-tiba menangis, wajahnya tampak masih pucat.


Cedric duduk di sampingnya.


"Aku melindungimu karena kau pengganti adikku, jadi aku tidak pernah benar-benar kehilangan seorang adik, lupakan masalalu, jangan terus menyalahkan dirimu"


Sylvia memeluk Cedric, Cedric balas mengelus kepalanya lembut. Ia menyayangi Sylvia seperti layaknya menyayangi Lucas. Ia berjanji pada Lucas akan selalu menjaga Sylvia.

__ADS_1


__ADS_2