Gadis Tangguh Kesayangan Mr. Cedric

Gadis Tangguh Kesayangan Mr. Cedric
Bisikan Maut


__ADS_3

"Tuan, aku mendapatkan kabar dari sekretaris Mr. Lui Zhang bahwa mereka sedang menuju kemari. "


Sylvia bangkit dari sofa setelah mengakhiri sambungan telepon dari sekretaris Mr. Lui Zhang.


Cedric yang sedang duduk di kursi nya dengan kemarahan yang belum hilang atas kejadian tadi, ikut bangkit dari duduknya sambil merapikan jasnya.


"Apa Dining Sky sudah siap John? "


Cedric bertanya pada John.


"Sudah tuan, Semuanya sudah siap. Hanya tinggal menunggu kedatangan Mr. Lui Zhang. sebaiknya kita langsung saja menunggu disana".


 John membukakan pintu untuk Cedric dan Sylvia, mereka berjalan menuju Dining room di Rooftop hotel.


*Disisi lain


Nana sedang sibuk membuat dessert, ia baru saja mendapatkan kabar dari Executive Chef bahwa jadwal makan siang CEO dipercepat itu artinya test food pun dipercepat. Nana isi kepala Nana hampir meledak. Namun tak disangka saat ia hampir menyerah bayangan wajah Sean melintas di benaknya.


"Kalau kau mengaku sebagai sahabatku buatkan aku dessert box setiap hari...!! "


Itulah yang dikatakan Sean di benak Nana, sehingga Nana mendapatkan ide cemerlang.


"Huhhhhh selesai juga...!!!! "



Berkat keliahaian tangannya Nana mampu membuat dessert box dengan berbagai filling, kenapa tidak? karena ia hampir tiap hari membuatnya untuk Sean sekalian juga Bety.


"Father semua sudah Ready, tinggal food Checker yang bekerja"


 Nana berbicara kepada Father sambil mengusap keringatnya akibat kelelahan.


Father tertawa melihat Nana yang kelelahan. Ia juga takjub dengan hasil hidangan yang dibuat Nana.


"Kau memang hebat Na" Father menepuk pundak Nana lalu menghampiri Food Checker.


"Aku hampir menangis Na melihatmu yang berjuang sebegitu hebatnya!"


Bima mengambil kesempatan dengan hampir Nana.


"Terimakasih, kau sudah mengkhawatirkan aku karena kelelahan. "

__ADS_1


Nana balas memeluk Bima.


"Aku hampir menangis bukan karena iba melihatmu kelelahan Na. "


Nana melepaskan pelukan Bima.


"Lalu, karena apa bodoh? "


"Karena wajahmu sangan kusut seperti kanebo kering... hahahah"


Bima berlari sambil tertawa mengejek.


"Awas kau ya.. pria gila!! "


Nana tidak habis pikir dengan kelakuan Bima.


Nana memutuskan untuk mencuci mukanya dulu dan merapihkan penampilannya sebelum mempresentasikan hidangan yang telah ia buat kepada CEO. Nana pergi menuju toilet karyawan wanita sembari was-was, ia takut Cedric kembali menariknya dan memojokkan dirinya. Untung saja disana tidak ada siapapun.


Setelah selesai dengan penampilannya, kepercayaan diri Nana kembali. Ia siap untuk bertemu dengan Cedric.


"Huhhhh... anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi.! "


Nana menenangkan dirinya lalu bergegas keluar toilet menuju Rooftop.



"Dimana Si mata Elang, Psyco itu.. dasar maniak gila. Father juga dimana? "


Pandangan Nana tampak mencari Si Maniak yang tak lain adalah Cedric tapi ternyata tidak ada. Ia bernafas dengan lega setidaknya ia bisa menyiapkan diri lebih lama lagi.


Nana memutuskan untuk bertanya mengenai keberadaan Father pada seorang pelayan yang sedang mengelap meja di dekat kolam ikan koi. Namun, saat ia akan berbalik...


"Kau mencariku! " Cedric berbisik tepat disebelah telinga Nana.


Bisikan maut yang membuat Nana terkejut setengah mati sampai berteriak lumayan kencang, hingga membuat dirinya hampir terjatuh tapi Cedric menahan tubuh Nana dengan tangan kekarnya. Sylvia dan John pun terkejut mendengar teriakan Nana, tapi saat melihat kearah suara itu berasal dengan disuguhkan pemandangan romantis John dan Sylvia mengalihkan pandangan mereka seolah tidak melihat apapun.


"Kau hampir jatuh Kelinci kecil"


Cedric mendekatkan wajah tampannya, ia seperti hendak mencium Nana. Nana segera menginjak kaki Cedric dengan keras. Tapi Cedric tak bergeming. Akhirnya Nana mendorongnya sekuat tenaga.


Cedric mundur beberapa langkah melepaskan pelukannya. Lalu tersenyum dengan nakal kearah Nana.

__ADS_1


"Kau memang pria gila! " Nana pergi meninggalkan Cedric.


"Aku gila karenamu kelinci kecil. " Cedric balas menjawab.


John tampak menggelengkan kepalanya sambil menyeruput kopi.


"Ehmm, ehmmmm panas sekali ya John disini"


Sylvia mencoba mengalihkan suasana.


Cedric berjalan menuju meja, ia duduk di salah satu sudut kursi. Ia melihat jam ditangannya.


"Bagaimana, ada kabar baru tentang Mr. Lui Zhang? " Cedric bertanya pada Sylvia.


"Menurut sekertaris nya kira-kira mereka akan sampai 5 menit lagi. Tuan tidak usah khawatir"


Sylvia mencoba menenangkan Cedric.


"Kita harus segera menyelesaikan meeting, karena setelah itu kita harus bergegas kembali ke Amerika. Perasaan ku tidak enak Tuan"


Jelas John pada Cedric dan Sylvia.


"Kau benar John, semoga Anggota kita menjaga anak-anak baik untuk sementara waktu".


Cedric mengetukaan jari-jarinya diatas meja.


Sementara itu, Nana yang masih dalam kondisi kaget mendapat telepon dari Sean.


" Na, ada yang harus kita bicarakan.. ini sangat penting. Bety juga seperti nya punya sesuatu untuk dibicarakan tadi dia menghubungiku. "


"Tumben kau berbicara lembut dan sopan padaku Sye.. berarti sesuatu itu sangat penting kan.? "


Nana berdiri tepat dipagar pembatas Rooftop sambil melihat pemandangan kota Bandung dari atas sana.


"Iya, makannya setelah selesai bekerja kau harus datang ke rumah bety oke. kami tunggu disana! awas kalau kau lupa.. ku cincang kau !! "


Sean memperingati Nana.


"Iya.. iya dasar bawel! yasudah aku tutup dulu, aku sangat sibuk sekarang, kau malah mengganggu ku dasar bajingan! dahhh "


Nana langsung menutup telepon dari Sean. Nana melihat kearah pintu lift yang terbuka ternyata disana tampak Father yang keluar dari lift. Dia berjalan kearah Father.

__ADS_1


"Gara-gara bisikan maut dari seorang maniak, aku jadi gugup begini sialan! "


Nana berjalan sambil bergumam.


__ADS_2