
"Hoaaaammmm Aku mengantuk" Nana menguap sambil meregangkan otot tubuhnya. Lalu menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Enak sekali ya, sudah dapat makan siang gratis kau mengantuk! Bangun Na.." Sean berusaha mengangkat kepala Nana.
"Heyy ini sudah jam 2 siang, aku lupa belum menyiapkan tugas untuk anak-anak besok. Sebaiknya aku pulang sekarang. " Bety merapikan tasnya dan bangkit dari kursi terburu-buru.
"Kau tidak akan berpamitan pada kami" Sean menghentikan langkah Bety.
"Oh iya aku lupa ada kalian.. heheh dahh Dua wanita jadi-jadian..."
"Sialan kau Bety..!! " Sean tidak Terima dengan ucapan Bety. Ia kembali membangunkan Nana.
Bety melanjutkan langkah sambil mencari kunci mobilnya didalam tas, tapi karena ia tergesa-gesa, kuncinya pun jatuh ke lantai. Saat ia hendak mengambilnya, tangan Seorang pria tampak mengambilkan duluan untuknya.
Pandangan mata mereka bertemu, reaksi pertama kali yang Bety rasakan adalah salah tingkah.
"ekkhhmmmm.. Terima kasih tuan"
"Sama-sama"
Pria itu adalah John, John berjalan kembali kearah mejanya dan Cedric berada, Sedangkan Bety masih merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Dilihat dari dekat mirip Min Ho oppa.. Ottoke? ehhh tidakk tidakkk. Sadarlah Bety. "
Bety berjalan menuju pintu Cafe lalu menaiki mobilnya yang terparkir tepat di depan jendela Cafe.
"Tuan aku perhatikan, sejak tadi pandangan anda tidak lepas dari wanita berseragam koki itu. Mungkinkah dia Wanita yang Tuan Ceritakan tempo hari?" Tanya John pada Cedric penasaran sambil menyodorkan minuman milik Sylvia dan Cedric.
"Hmmm... " Jawab Cedric cuek menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih John" Sylvia membuka lembaran-lembaran dokumen yang biasa ia bawa lalu larut dalam aktivitas nya menganalisa statistik pendapatan.
"Apa yang akan tuan lakukan sebagai tanda terimakasih pada wanita itu.? " tanya John menelisik.
"Entah, Akan kupikirkan"
"Tuan lihatlah ada yang janggal dengan laporan ini, pendapatan Sincere Cosmetic selama tahun ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya tetapi laporan penjualan menyatakan produk kita telah banyak terjual dilapangan dibanding tahun kemarin. Seharusnya kan jika Produk lebih banyak terjual maka pendapatan juga akan meningkat bukannya menurun. " Sylvia menjelaskan segala permasalahan dalam laporan secara rinci kepada Cedric.
"Nanti akan kita usut " singkat, padat dan jelas.
"Kak, ini hal yang serius" Sylvia kesal dengan jawaban singkat yang diberikan Cedric.
__ADS_1
"Aku tau Sylvi" Cedric menyeruput Espresso miliknya.
"John.... " Sylvia mencoba meminta pertolongan pada John.
Tapi John hanya mengedikkan bahunya.
"Kak Cedric aku tau kakak membangun perusahaan ini hanya untuk Balas dendam terhadap paman kakak. Tapi sayang apabila perusahaan sudah berkembang pesat seperti ini hannua untuk dijadikan sebagai batu loncatan. Kak, Jangan bilang kau akan kembali ke Black Phantera? "
"Aku tidak pernah kembali, aku memang selalu milik Black Phantera. " Cedric dengan santainya merokok.
"Apa tuan sudah tau siapa dalang dibalik penyerangan malam itu? "
"Ya, Dark Crows. Aku melihat Tatto Gagak Hitam di pergelangan mereka. Tak kusangka mereka akan menyusulku ke Negara ini. " Cedric tersenyum mengejek.
"Apa yang akan Tuan lakukan? " John menanyakan itu karena tau bagaimana Cedric akan membalas orang yang telah mengusiknya.
"Akan ada kejutan untuk mereka malam ini. Tunggu saja"
"Huhhhhhh.. Kak.. kak" Sylvi menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya.
*Kembali Ke Sean Dan Nana
"Hoammm, Ya allah aku ketiduran. "
"Haha, Sye sye OCD abal-abal".. Nana mengambil sehelai tisu lalu mengelap sudut bibir Sean.
Nana tak sengaja melihat kearah Cedric, alangkah terkejutnya ia mendapati pandangannya bertemu. Ia melemparkan senyum kepada Cedric tapi Cedric balas dengan mengerutkan kening.
" Pria aneh, dia terus memandangiku tapi saat aku beri senyuman malah seolah meledek ku."
"Aku harus pulang sekarang, besok kan Test food untuk menu baru." Nana berbicara kepada dirinya sendiri.
"Dahhh Sye, aku pulang dulu ya.. terimakasih Burritonya.. " Nana berbisik ditelinga Sean, takut Sean akan terbangun. Ia pun bergegas keluar cafe lalu menaiki Johan untuk segera tiba di rumah.
"Kak, kau tidak menemuinya dan berkenalan dengannya atau sekedar mengucapkan terimakasih begitu. Dia kan yang telah membantumu saat kau hampir diambang kematian. Tanpa pamrih pula. Beda dari yang lain, yang mendekatimu untuk sekedar mendapatkan uangmu juga pengakuan publik"
Sylvia gemas pada sifat acuh Cedric. Ia menyayangkan Cedric membiarkan Nana pergi begitu saja. Padahal ia tau Cedric sudah mencari Nana kemana-mana. Karena pada malam itu CCTV disekitaran jalan sudah sengaja dirusak. Akan sangat sulit mencari siapa yang telah membantunya. Tapi takdir berkata lain mereka dipertemukan di Cafe Anumertha ini.
"Vyvy kau tidak usah khawatir. Aku sudah tahu semua tentangnya. " Cedric menjawab semua kekesalan Sylvia.
"Sudah tau? " tanya vyvy heran.
__ADS_1
"Bahkan tentang siapa saja orang terdekatnya nya" John tiba-tiba menimpal. Lalu John memutar Laptopnya agar bisa menunjukkan apa yang ia dapatkan pada sylvia.
"Wahhhh kalian berdua sangat hebat. " Sylvia sampai ternganga.
"Nana alias Ariana Zoya Helianthus. Lahir di Bandung 15 Maret 2000. Umur 23 tahun, Anak angkat dari Karan Cayoglu dan Yanti Amira. Pekerjaan Sous Chef di The Grand Lavierre Internasional Hotel. Dari riwayat pendidikan nya ia anak yang berprestasi. Dilihat dari Wajahnya sepertinya ia berdarah campuran tapi tidak ada informasi lebih disini. Kedua orangtua angkatnya pun telah meninggal dalam kecelakaan" Jelas John.
"Ternyata ia sangat dekat dengan kakak, ia bekerja di Lavierre. Dunia memang sangat sempit ya. Ohhh lalu wanita dan pria yang duduk dengannya tadi, siapa mereka dan apa pekerjaan mereka? " tanya Sylvia penasaran.
"Mereka berdua sahabat baiknya" Jawab Cedric singkat.
"Bety Bianca Budiman, ia seorang guru Bahasa Inggris di Mentari International School dan Sean Snape van Voldemort ia pemilik cafe ini dan juga seorang designer yang baru meluncurkan sebuah brand. Nama brandnya Syecretly Heaven."
"Wahh bahkan sahabatnya pun sangat hebat." puji Sylvia sambil menoleh ke arah Sean yang sedang tertidur.
"Tapi yang bernama Sean itu Nama tengah dan belakangnya membuat ku merinding. Snape dan Voldemort mereka kan karakter Menakutkan di Harry Potter. " sambung Sylvia.
"Mungkin ibunya tau bahwa dia akan sedikit gemulai setelah dewasa. Kasihan sekali dia" jawaban cuek John membuat Sylvia tertawa.
"Hoaaammmmmm, ya ampun aku ketiduran juga ternyata. Jam berapa ini? " Sean meregangkan otot-otot nya.
"Kemana wanita Amazon itu, apa dia pulang tanpa bilang padaku.? Dasar.." Sean berdiri, menyemprotkan disinfektan pada seluruh tubuhnya lalu berjalan menuju ruangannya.
"Tolong bersihkan meja D4 ya" Sean menyuruh karyawannya membersihkan meja bekas ia, Bety dan Nana.
"Baik Boss. "
"Coba sini aku ingin lihat dan baca sendiri" Sylvia sangat antusias ingin mengetahui lebih jauh siapa itu Nana.
"Wahhh dia memang sangat cantik ya, dia juga hebat bisa menjadi seorang chef yang sudah diakui diusia muda. Dia juga aktif di bidang amal dan pendidikan anak kurang beruntung, Perfect sekali. Pantas saja dia sangat tulus membantu kakak tanpa meminta apapun. " Sylvia sengaja memanas-manasi Cedric.
Cedric hanya tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Sylvia. Sylvia saja yang tidak tau rencana apa yang ada di otak Cedric sekarang.
John Melihat jam yang ada ditangannya, menunjukan pukul 16.00
"Sekarang jam 4 sore, ayo kita kembali. " John membantu Sylvia merapikan Dokumen.
"Aku akan menunggu dimobil" Cedric pergi duluan menuju mobil, lalu ia duduk di kursi belakang. Ia segera mengeluarkan HP nya dari saku dalam jas nya.
Cedric memandangi foto Nana yang ia unduh dari sosial media Nana.
__ADS_1
"Kau memang sempurna, Kau harus bertanggung jawab karena aku mulai tertarik padamu. Wanita seperti mu hanya untukku. "