
Cedric menyuruh John mengantarkan Sylvia pulang karena ia masih khawatir akan kondisi Sylvia.
Lalu ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di ruang pribadi yang ada di kantornya. Ia mulai melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuhnya, juga perban yang menutupi wajahnya, tampaklah beberapa bekas luka seperti sayatan besar ataupun kecil di perut dan punggungnya, lalu dia melangkah masuk kedalam kamar mandi. Cedric menguyur tubuhnya dibawah Shower.
Luka wajahnya sudah mulai mengering dan memudar. Ia melirik pada luka ditelapak tangannya. Luka sekecil itu tidak ada apa-apa nya bagi Cedric, dia mencabut peluru yang masih menempel di telapak tangannya sendiri. Dia sudah terbiasa dengan luka tubuh yang lebih besar daripada itu.
Cedric menunduk, dia bernafas dengan kasar, bayangan wajah Nana melintas dibenaknya.
"Rambutnya hitam bergelombang, manik mata hazel yang memikat, bulu mata lentik, bibir yang merah merona, senyuman yang indah dan yang terpenting..... Kebaikan yang tulus. Harus menjadi milikku. " Cedric berbicara sendiri. Ia semakin terobsesi untuk membuat Nana menjadi miliknya.
Sedangkan di tempat lain yaitu dirumah peninggalan orang tua angkatnya Nana sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Ia sedang mendesign Plating untuk test food menu baru di Hotel tempatnya bekerja.
"Aku sudah memiliki banyak ide untuk menu baru Savory, namun kali ini konsepnya mengusung tema kenangan tapi aku merasa sangat gugup. Karena besok akan ada pria aneh itu, maksudku CEO Sincere yang mencicipinya langsung. Aku bisa gila.. "
Nana berbicara pada dirinya sendiri, ia merasa frustasi karena besok adalah hari yang sangat penting bagi kemajuan karirnya. Ia melirik foto ayah dan ibu angkatnya di sebelah laptopnya. Ia tiba-tiba merasa merindukan mereka.
"Ayah, Ibu aku harus membuat hidangan bertemakan kenangan. Tapi kenapa otaku tidak bisa berfikir sekarang. Bantulah aku.. " Nana berbicara pada foto mereka.
"Hoaaammm aduhhh mataku ini sangat lengket sekali, tidur sebentar tidak masalah sepertinya. " Nana tidak dapat menahan rasa kantuk akhirnya ia tertidur didepan laptopnya yang masih menyala.
*Kembali ke Cedric
Cedric sudah siap dengan pakaian serba hitam. Ia juga mengenakan Jaket kulit hitam yang menambah ketampanannya.
__ADS_1
*Nada dering (Fur Elise-Ludwig Van Beethoven)
Ponsel milik Cedric berbunyi, nama John yang tertera disana. Cedric lalubmengangkat teleponnya.
Cedric: "Hmmmm ada apa? "
John:"Tuan, Henry dan anggota sudah meledakkan markas Dark Crows di kawasan hutan lindung Lembang, ternyata memang benar paman anda Joseph dan Mr. Ali bekerjasama dengan Boris pemimpin Dark Crows musuh anda untuk membunuh anda malam itu. Mereka sengaja membangun markas darurat di negara ini karena mendapatkan informasi dari paman anda, bahwa anda sedang melakukan perjalanan bisnis di negara ini. Mereka kira kita tidak punya anggota disini."
Cedric: "Ternyata pamanku masih saja menganggap ku lemah dan bodoh, dia sendirilah yang bodoh" Cedric tersenyum smirk.
John:"Henry dan anggota juga sudah menangkap beberapa anggota Dark Crows yang tidak sempat menyelamatkan diri. Dari merekalah kami tau informasi itu setelah kami paksa."
Cedric menaiki motornya.
Ia mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar untuk menghajar mereka.
Tak berselang lama ia sampai di sebuah Hutan. Langit malam yang gelap mengiringi langkah Cedric. Suara-suara hewan terdengar memekakan telinga. Cedric melihat cahaya diantara gelapnya hutan, ia mendekati cahaya itu yang berasal dari beberapa obor yang mengelilingi 4 orang pria yang terduduk ditanah dengan tangan yang masing-masing terikat tali tambang dan wajah penuh luka lebam akibat dihajar anggota Cedric.
John tampak sudah berada disana ia melihat kedatangan Cedric.
__ADS_1
"Tuan itu mereka yang aku ceritakan, tapi sayang Boris berhasil kabur, Henry bilang ia kembali ke Amerika beberapa waktu yang lalu" John menunju ke arah para pria itu.
"Iya tuan, Setelah mengetahui kabar Mr. Ali tewas, Boris dan Joseph bertemu di markas darurat Dark Crows. Tapi saat kami serang mereka berhasil kabur dan kembali ke Amerika."
Cedric mendekat ke salah satu pria yang memiliki bekas luka sayatan di area matanya.
"Apa yang akan direncanakan Boris selanjutnya"
"Aku tidak akan memberitahu mu" Pria itu menolak menjawab pertanyaan Cedric. Wajah Cedric tampak datar.
"Ku tanya sekali lagi, Apa yang akan direncanakan Boris? " Cedric bertanya lagi dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Hahahhaha. Aku tetap tidak akan memberitahukannya padamu sialan. Aku akan membuatmu terus bertttaaa" Sebelum pria itu melanjutkan perkataannya Cedric menusuk leher pria itu, seketika darah pria itu menciprat ke arah rekannya yang lain.
"Tuannn, tuan kami mohon lepaskan kami." Pria lainnya memohon pada Cedric agar dilepaskan.
"Apa yang direncanakan Boris dan Joseph? " Cedric bertanya untuk yang terakhir kalinya.
"Didi...dia akkk..kan menculik semua anak asuh pppeeerempuan maauu punn lakiii-lakki di Panti asuhan Angelina House milik anda. Dan akan menjuuuaall mererekka kepadaaa paraaa pejabaat yanggg memilikkkiii keellainan pedofilia dengggaann harga tinggii."
"Bajingann..!!!!!!!!! " Cedric menyayat bibir pria itu lalu menembak kepalanya. Ia juga menembak dua pria yang tersisa.
"John kita kembali ke Amerika. " Cedric mengelap wajahnya yang penuh darah dengan sapu tangan.
__ADS_1
"Baik tuan " John dan anggota Black Phantera lainnya mengiyakan perintah Cedric.