Gadis Tangguh Kesayangan Mr. Cedric

Gadis Tangguh Kesayangan Mr. Cedric
Pria Bermata Elang


__ADS_3

Nana mencuci tangannya di wastafel, tak lama seorang wanita berpakaian kantor masuk ke dalam toilet, lalu Merapikan rambutnya disebelah Nana. Nana melihat Name tag milik wanita itu sekilas.


"Sylvia Aurora Belle, Sekretaris, PT. Sincere Lifestyle. Bukankah itu Perusahaan yang menanungi Hotel tempatku bekerja?" Nana berbicara didalam hatinya.


Nana keluar dari toilet dan berjalan kearah meja tempat ia dan para sahabatnya duduk tadi.


"Kau sudah tidak marah padaku kan? Sye. hhehe"


"Tidakkkkk!!! "


"Judesss sekali" Nana meraih Sisir di dalam tasnya, dan mulai membuka ikatan rambutnya lalu menyisir rambutnya yang hitam panjang bergelombang.


"Kau itu memang cantik sekali, tapi sayang agak gila" Bety memuji Nana.


*Tringgg tringgg


Pintu Cafe terbuka, dan masuklah dua orang pria tampan dan gagah menggunakan setelan jas kantoran. Perhatian mereka bertiga teralihkan saat melihat dua pria itu.


Tapi Nana terfokus pada salah satunya yang mengenakan jas berwarna hitam dan kemeja putih, yang membuat Nana tertarik melihatnya karena sebagian wajah pria itu dibalut perban, saat pandangan mereka bertemu Nana seakan terhipnotis dibuatnya.


"Pria itu, tatapannya sangat tajam seperti burung Elang. Dia juga memiliki aura yang aneh, aku merasa seperti pernah bertemu dengannya tapi entah dimana " Nana merasa Pria itu terkejut melihatnya tak lama ia terus memandangi Nana seakan ingin melahapnya.


Pria itu duduk bersama rekannya tepat berhadapan diseberang meja yang di tempati Nana.


"Sepertinya mereka orang penting, lihat saja dari pakaian mereka. Apalagi pria yang wajahnya seperti mummy itu William westmancott Ultimate Bespoke, kalian tau berapa harga setelan jas itu.. Hampir 1milliar." Sean memanfaatkan keahliannya dibidang fashion.


"Apa!!! " ucap Bety dan Nana berbarengan.


"Dengan uang sebanyak itu aku akan shoping setiap hari. Atau liburan setiap hari. " Bety menghayal.


"Kalau aku, ingin membuka Restoran khusus Tuna wisma, jadi mereka tidak perlu membayar jika makan di restoran ku. " Nana juga ikut menghayal.


"Terus saja menghayal, tidak habis pikir" Sean mulai jengkel dengan kelakuan dua wanita Amazon ini.


"Ehhh ehhh, sepertinya aku tau pria yang mirip mummy itu. Ohhhhh dia itu Mr. Cedric Barandy pengusaha No. 1 di Amerika dan Pengusaha terbaik nomor 2 di dunia. Dia CEO Sincere grup. Fashion, Akomodasi, Pertambangan dia memiliki semua cabang bisnis. Oh my god dia datang ke Cafe ku, ".. Sean kegirangan.


" Benarkah, tapi kenapa dia seperti mummy? " tanya Bety penasaran.


"Tidak tau Yeti, tanyakanlah sendiri. Kau ini... apa aku harus mendatanginya ya? pansos gitu" Sean sangat bersemangat sekali.


"Jangan bodoh, mereka kan punya privasi. Nanti kalau kau tiba-tiba kesana mereka pasti tidak nyaman. " Jelas Bety.

__ADS_1


"okee.. oke"


"Untuk apa ya dia kemari?, maksudku ke kota ini.. " Nana merasa tidak nyaman saat pria itu terus memandangi nya.


Wanita yang berpapasan dengan Nana di dalam toilet tadi, ikut bergabung bersama dua pria itu. Mereka tampak membicarakan hal yang penting.


"Tuan, jadwal terakhir anda hari ini adalah meeting bersama Mr. Ali mengenai pembatalan kontrak Resort, meetingnya bertempat di Gedung Sincere. Dan besok pukul 12.00 siang anda ada pertemuan bersama Mr. Lui zhang mengenai Hotel Sangri-la meetingnya bertempat di Grand Lavierre. " jelas wanita bernama Sylivia itu kepada Si pria bermata Elang.


"Baiklah" pria itu hanya menjawabnya dengan singkat.


"Tuan Cedric, anda ingin makan dan minum apa? biar saya pesankan" Sylvia bertanya kepada Bossnya.


"Espresso saja. "


"Biar aku saja" Pria bersetelan jas berwarna Navy blue menawarkan diri untuk memesan apa yang diinginkan bossnya tadi.


"Kau mau apa Sylvia, biar sekalian ku pesankan" sambung pria itu.


"Caramel machiato saja John, terimakasih" jawab Sylvia kepada pria yang ia panggil John itu.


 Cedric sedang tidak nafsu makan, ia nampak tengah memikirkan sesuatu. Sedari tadi Ia tak ingin melepaskan pandangannya dari seorang wanita yang duduk di seberang mejanya yang tak lain adalah Nana.


"Dia wanita di malam serangan itu, sepertinya dia lupa.. " Cedric berbicara di dalam hati.


*Flashback


"Jo... sepi sekali, ada apa ini ya. Perasaanku tidak enak Jo... Ayo kita ngebut saja Jo.. "


Saat Nana akan menancapkan gas tiba-tiba terdengar suara tembakan bersahutan.


*Dorrr... dorrr.. dor...


"Aaaaa.. "


"Kejar dia, sebelum dia kabur terlalu jauh... Ayoo Cepat.. cepat.. Tolol kalian.. "


"Jo.. jo... ada apa ini, Ayoo Jo kita harus cepat. Aku tidak mau berurusan dengan mereka, Aku memang bisa bela diri tapi saat ini aku sedang lemah karena menahan buang air kecil... aduhhh.. "


Nana mencoba melewati jalan tikus bergang-gang sempit dan berbelok-belok agar bisa segera tiba di rumahnya. Sampai akhirnya di salah satu gang sempit ada orang asing yang terduduk lemas dengan luka tembakan di lengan dan darah bercucuran dari sebagian wajahnya.


Awalnya Nana hanya melintasinya saja berpura-pura tidak melihat, Namun dia merasa kasihan pada orang asing itu Nana berbalik arah dan menghentikan Johan tepat di depannya dan orang itu adalah Cedric yang sedang tak berdaya.

__ADS_1


"Tuan, tuan.. maaf apa anda baik-baik saja, anda bisa mendengarkanku.. tuan"


"Aaaakkhhh... aaaa"


Cedric tidak menjawab perkataan Nana, ia hanya bisa meringis kesakitan. Karena kondisi gang yang gelap akibat sudah larut malam dan lampu jalan pun redup Nana tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas tapi Nana terpesona akan tatapan mata Cedric yang seakan menghipnotis nya.


"Matanya bermanik hijau, tatapannya tajam dan sinis seperti burung Elang sepertinya dia bukan orang Indonesia" Nana berbicara di dalam hatinya.


"Tuan, darahmu mengalir terus. Kita harus menghentikannya sebelum kau kehabisan darah. Tunggu sebentar Tuan"


Nana meraih pisau lipat dari tasnya . Lalu ia mulai melepas mantelnya dan merobek kemejanya dengan pisau itu. Ia berusaha menekan luka tembak di lengan pria itu agar darahnya tidak bercucuran terus. Tapi sayang usaha Nana sia-sia karena luka tembaknya terlalu dalam harus segera ditangani oleh yang ahli.


"Aduhhh bagaimana ini.., tuan jangan mati.. Tuan bertahan ya!! " Nana mencoba menenangkan pria itu.


"Kemana dia ya.. ayo terus cari!! " suara orang-orang yang mengejar Cedric terdengar kembali membuat Nana semakin panik. Nana terfikir untuk membawa Cedric ke rumah sakit terdekat.


"Aku pasti bisa, bagaimana ya agar tidak terlihat oleh para penjahat itu. Ya Allah bantulah otak beku ini untuk berfikir.. " Nana memohon kepada yang maha Kuasa agar diberikan ide.


"iyaaaa, Mantelku besar kan.. pasti muat.. iyaaa ya mantel. " Nana segera memakaikan mantelnya kepada Cedric dengan tergesa-gesa.


Lalu Nana memakaikan hat chefnya dikepala Cedric


"Sentuhan terakhir. "


Nana mencoba memapah Cedric, untungnya pria itu masih memiliki sisa tenaga.


"Ayo naik tuan, kita tidak punya waktu lagi. "


Pria itu menuruti perkataan Nana. Johan pun segera meninggalkan tempat itu. Para penjahat itu juga sudah tidak nampak. Saat yang tepat untuk menancap gas.


"Kau pasti bisa tuan, tunggu sebentar kita akan sampai bertahanlah.. "


Cedric tidak menjawab ia hanya bisa bersandar di punggung Nana.


Tak lama akhirnya Nana sampai di Rumah sakit Immanuel. Ia meminta pertolongan security untuk menurunkan Cedric dari Johan. Dua orang perawat keluar mendorong brankar pasien dan menidurkan pria itu disana.


Nana mengikuti mereka dari belakang. Saat tepat didepan pintu UGD Nana akhirnya bisa bernafas lega.


"Huhhhh, pria itu sudah ditangani. Aku bisa tidak usah khawatir lagi. Waktunya aku pulang sekarang. "


Nana pun meninggalkan rumah sakit dengan cukup lega.

__ADS_1


Cedric segera ditangani oleh dokter, Ia terluka cukup parah. Satu jam berlalu dokter pun bisa menanganinya dengan baik, Cedric tertidur. Namun Bayang-bayang wajah Nana saat panik menolongnya muncul terus dalam fikirannya.


*Flashback End


__ADS_2