Gadis Tegar

Gadis Tegar
ฺ´1.1` ฺ


__ADS_3

.../One By One\...


.........


...◎ ◎ ◎...


"Anak ibu pasti akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan kuat" Nyonya mirna mengelus rambut putri semata wayangnya.


"Kita akan selalu bersama, ibu" bisik natasya memeluk tubuh ibunya yang terlihat gelisah.


"Natasya sering melihat ibunya menitikan air mata saat malam hari. Ia yakin ibu menangis karena masih mengingat kenangan yang di tinggalkan ayah sejak kepergiannya 5 bulan lalu. Ayah meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan pulang. Natasya masih ingat ibunya sangat bahagia ketika mempersiapkan makanan kesukaan ayah karena hari itu adalah ulang tahunnya. mereka telah merencanakan untuk makan malam bersama dan meniup lilin di atas kue ulang tahun yang sudah susah payah ibu buat. kebahagiaan itu menjadi tangis berkepanjangan saat dering telepon yang berasal dari rumah sakit membawa kabar duka yang melukai hati.


Berminggu-minggu ibu seperti sosok mayat hidup yang menyedihkan. setiap hari dihabiskan dengan linangan air mata. Ibu juga tidak pernah menyentuh makanan atau minuman yang sudah natasya siapkan. Berkali-kali bibi santi datang dan berusaha memberikan semangat agar ibu kembali seperti semula namun usahanya gagal. Bibi santi akhirnya menyerah dan memilih untuk mengurus natasya yang berusia 5 tahun dan butuh banyak perhatian. Karena kebaikan bibi santi akhirnya natasya tetap bisa berangkat ke sekolah dan melakukan kegiatan seperti biasa.


Kesadaran ibu baru kembali setelah beberapa orang tak dikenal datang mencari ayah untuk secepatnya melunasi hutang-hutangnya. ibu tidak mengetahui jika perusahaan ayah mengalami krisis. selama ini ayah tidak pernah bercerita sedikitpun tentang kesulitan yang dialaminya.


Desakan demi desakan terus datang yang akhirnya memaksa ibu menjual rumah mewah yang selama ini kami tempati di kawasan jakarta. ibu tidak sanggup harus menghadapi berbagai pihak yang membuat keluarganya seperti pencuri kelas atas. Setelah membereskan semua hutang ayah kami pindah ke rumah yang jauh lebih kecil dan sederhana di dekat pasar ikan. kehidupan kami yang berubah drastis kembali membuat ibu tidak bisa menerima keadaan. Dengan mudahnya ia menghamburkan uang sisa penjualan rumah untuk membeli banyak barang-barang mewah. bibi santi sering memperingati untuk berhemat karena ibu tidak memiliki penghasilan tetapi ibu tidak peduli.


Hantaman kedua kembali datang saat ibu kehabisan uang dan nekat meminjam uang pada lintah darat demi memuaskan nafsu belanjanya. saat ibu tidak bisa melunasi hutangnya, dengan sangat terpaksa untuk kedua kalinya kami harus menjual rumah kecil yang kita tinggali. untuk sementara kami pindah ke bogor dan menumpang di rumah bibi santi yang hidup sederhana. saat itulah sikap ibu mulai berubah lebih menerima keadaan dan berusaha menyesuaikan dengan kehidupan yang dimiliki sahabat kecilnya.

__ADS_1


"Aku punya pertanyaan" ucap nyonya mirna menyadarkan lamunan panjang natasya.


"kenapa bu?" Tanya natasya


"Ibu akan mengembalikan semua yang pernah kita miliki, maukah kamu menunggu ibu?"


"Apa yang sedang ibu bicarakan?"


Nyonya mirna tersenyum lalu mengelus rambut putrinya.


"Ibu akan kembali ke jakarta untuk mencari pekerjaan, untuk sementara kamu tetap tinggal di bogor bersama bibi santi"


"Ibu janji akan menjemputmu setelah mendapat tempat tinggal dan pekerjaan yang layak"


"kapan ibu akan menjemputku?"


"Belum tahu, tapi ibu yakin itu tidak akan lama" janji nyonya Mirna.


Natasya menundukkan kepala dan menangis tersedu. Ia sungguh tidak menyangka di usia yang sangat muda ini harus di tinggal oleh kedua orang tua yang disayanginya. Nyonya Mirna memeluk tubuh natasya yang lemah. perasaan bersalah memenuhi pikirannya mengingat apa yang selama ini telah diperbuatnya.

__ADS_1


"Bersabarlah menunggu ibu" ucap nyonya mirna lalu melepaskan kalung peninggalan satu-satunya yang tersisa karena itu hadiah ulang tahun dari suaminya.


"Pakailah ini agar kamu selalu mengingat ibu," lanjutnya sambil memasangkan pada leher natasya yang masih menangis.


Malam itulah terakhir kali Natasya tidur di pelukan ibu karena keesokan harinya ia tidak mendapati tubuh ibu di sampingnya. Dunia seolah runtuh berantakan, sinar mentari pagi yang begitu cerah di musim kemarau tidak terasa hangat. Ia terus menangis hingga bibi santi memeluknya untuk berbagi kesedihan. Ia tidak bisa membayangkan hari yang akan dilaluinya tanpa ibu.


...◎ ◎ ◎...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...(Jangan Lupa Like, Comment, Dan Klik Favorite ya😊)...

__ADS_1


__ADS_2