
.../Two By Two\...
.........
...◎ ◎ ◎...
Dalam gelisah dan ketakutan yang menghampiri hanya bibi Sari yang berada di sampingnya. Ia tidak pernah lepas menggenggam tangan Tiara untuk memberikan kekuatan dan perasaan aman saat menunggu di depan ruang operasi. Setelah lebih dari 3 jam akhirnya operasi ayah berlangsung dengan baik tanpa kendala apapun. Semua janji yang telah diucapkan oleh Tiara di dalam hati akan ia katakan pada ayah saat sadar nanti. Ia kini menyadari jika ayah memang membutuhkan seseorang untuk menggantikan ibu.
"Maafkan aku ayah" tangis Tiara setelah tuan Aditya sadar pasca operasi.
"Kenapa menangis?Ayah tidak apa-apa" Tuan Aditya langsung mengelus rambut Tiara yang memeluk lengannya dengan erat.
"Aku janji akan menuruti semua perkataan dan perintah ayah asal jangan sakit lagi"
Tuan Aditya tersenyum melihat tangis putri kecilnya. Ia sebenarnya juga takut terjadi apa-apa dengan kesehatannya. Ia belum siap meninggalkan Tiara seorang diri menghadapi kehidupan yang keras ini.
Melihat kesehatan dan perhatian tulus bibi Sari membuat Tiara mengizinkan ayahnya untuk menikah kembali. Pernikahan dilakukan 3 bulan setelah ayah keluar dari rumah sakit. Upacara sederhana berlangsung disebuah gedung yang terletak di pinggiran kota Jakarta dan dihadiri oleh kerabat dekat dan beberapa staff dari perusahaan ayah.
Hari terus berlalu hingga hubungan Tiara dan bibi Sari seperti layaknya ibu dan putri kandung. Ayah benar jika sifatnya tidak berbeda jauh dengan ibu yang sangat baik dan perhatian. Tiara seolah merasakan kehadiran ibu ditengah keluarga mereka. Lain hari bibi Sari mengajaknya pergi ke Australia atau Jepang untuk rekreasi. Tiara senang melihat keluarganya kembali seperti semula dan ayah tampak jauh lebih sehat dan ceria dibanding sebelumnya.
...~~~...
Tiara menyiapkan bekal makanan untuk dibawa ke kantor. Hampir tiap hari ia membawakan satu kotak sarapan untuk diberikan pada Natasya karena ia jarang melihat gadis itu sarapan pagi seperti orang lain.
__ADS_1
"Untuk nona Natasya lagi?" tanya tuan Aditya sambil menyeruput teh manis kesukaannya.
Tiara mengangguk ceria.
"Ayah lebih suka kamu bersahabat dengan Natasya daripada Sarah."
Tiara mencibirkan bibir.
"Natasya bisa menjadi contoh bagimu bagaimana menjadi karyawan yang baik," lanjut tuan Aditya mengingatkan putrinya
"Aku tahu ayah! Sudah puluhan kali ayah memberitahuku agar seperti Natasya, aku bosan mendengarnya" gerutu Tiara
Tuan Aditya tertawa terbahak melihat wajah cemberut Tiara. Ia tidak tahu harus bagaimana membuat Tiara bersikap lebih sedikit dewasa. memimpin perusahaan saat nanti dirinya pensiun. sepertinya harapan itu akan menjadi mimpi semata melihat sifat manja dan kekanak-kanakan Tiara yang sulit hilang.
Karena itulah ia merencanakan untuk menjodohkan Tiara dengan putra dari Tuan Martin, pemilik Flaws Grup yang selama ini menjadi rekan bisnisnya. Ia yakin jika perusahaan mereka bersatu akan menjadi sebuah grup yang jauh lebih besar dan kuat. ia tidak perlu cemas memikirkan nasib perusahaannya karena telah diurus oleh menantunya.
"Ada acara apa ayah?" Tiara balik bertanya karena heran kenapa untuk makan malam saja ayahnya harus bertanya.
"Ayah mengundang Tuan Martin dan putranya untuk makan malam bersama kita."
Tiara mulai sedikit mengerti kemana arah pembicaraan ayah.
"Apa ayah ingin mengenalkanku dengan anak paman Martin?"
__ADS_1
Tuan Aditya mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak mau! Aku tidak suka dijodohkan dengan siapapun" tolak keras Tiara.
"Apa ayah mengatakan akan menjodohkanmu? Ayah bilang ingin mengenalkanmu dengan putra paman Martin karena kalian akan bekerja sama dalam pekerjaan," elak tuan Aditya melihat penolakan keras Tiara.
"Pokoknya dengan alasan apapun aku tidak mau!" Tiara tetap keras dengan pendiriannya.
Nyonya Aditya menepuk bahu suaminya untuk tidak melanjutkan pembicaraan yang pasti akan berujung dengan pertengkaran.
"Ya sudah, jika kamu tidak punya waktu tidak apa-apa, biar ibu dan ayah saja yang menemui mereka," potong nyonya Aditya meredakan suasana sambil membereskan kotak makanan Tiara.
Dengan wajah cemberut Tiara meninggalkan ruang makan. Ia kesal karena ayah mulai ikut campur masalah pribadinya. Berkali-kali ia memberi sinyal pada kedua orangtuanya untuk tidak menjodohkannya dengan pria manapun. Ia yakin suatu hari nanti bisa menemukan pria baik yang akan membuatnya jatuh cinta tanpa harus melalui kencan buta apalagi perjodohan.
...◎ ◎ ◎...
...*...
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
...*...
...(Jangan Lupa Like, Comment, Dan Klik Favorite 😊)...