
.../One Two\...
.........
...◎ ◎ ◎...
"Sudah, jangan menangis! ibumu pasti akan datang menjemput dan kalian akan tinggal bersama selamanya," hibur bibi santi.
Detik, menit, jam, hari, bahkan bulan telah berlalu. Tak sedikitpun kabar ibu yang datang menghampiri Natasya dan bibi santi. Ia bahkan telah merajut sebuah syal yang akan dihadiahkan pada ibu saat musim hujan tiba.
"Ibuuuu..... dimana dirimu? aku merindukanmu" Natasya berteriak keras di sebuah lapangan yang luas. Ia berharap suaranya akan terbawa angin dan sampai ke telinga ibu dimanapun ia berada.
DUA BELAS TAHUN KEMUDIAN
"Bagaimana? apakah tuan dan nyonya tertarik dengan penawaran paket bulan madu kami?" Natasya tersenyum ramah pada pasangan muda yang duduk di hadapannya.
"Baiklah, kami tertarik dengan daftar acara yang telah dibuat oleh perusahaan anda, jadi kami ingin mendaftar"
Natasya tersenyum lebar mendengar ada sepasang lagi kliennya yang mendaftar dalam paket bulan madu wisata ke pulau bali. Banyak pasangan yang baru menikah ingin menghabiskan bulan madu mereka ke tempat-tempat terkenal di Indonesia. salah satu tempat favorit adalah pulau bali yang terkenal dengan keindahan alam dan pantainya.
Setelah membereskan administrasi dan berbagai keperluannya pasangan itu pergi dengan bergandengan tangan seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Kamu iri ya lihat pasangan itu?" suara dari belakang Natasya mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Aku bahagia melihat orang lain bahagia" ucap Natasya sambil tersenyum
"Hmmm... bilang saja kamu ingin punya pacar kan? Ayo... ngaku!"
"Ah, kamu ini bisa saja!" Natasya mencubit pipi gadis yang kini duduk di sampingnya.
"Kamu cantik sekali hari ini" puji Natasya melihat Tiara yang memakai dress berwarna biru laut. Meski Tiara selalu terlihat cantik saat memakai apapun tapi kali ini ia terlihat berbeda.
"Terimakasih Kak Natasya" Tiara memeluk tubuh Natasya dengan manja. Ia selalu bahagia mendengar pujian apapun yang keluar dari mulut Natasya karena yakin bahwa ucapannya tulus.
"Kamu ada kencan makan siang?" ledek Natasya yang membuat Tiara terbahak.
"Tidak, baju ini baru kubeli minggu kemarin di bekasi" bisik Tiara.
Natasya tersenyum geli. Gadis ini selalu takut terdengar orang lain jika ketahuan berbelanja. Ia takut orang yang mendengar akan mengadu pada ayah dan berujung penghentian uang saku atau pemblokiran kartu kredit.
Natasya menggeleng keras. Ia selalu menolak jika Tiara membujuk atau merayu pergi ke pusat perbelanjaan untuk menemani berbelanja, bukan karena takut pada ayah Tiara tapi Natasya merasa itu bukanlah dunianya. Ia baru menyetujui permintaan Tiara jika ada hubungannya dengan pekerjaan seperti menemani tamu atau membeli perlengkapan yang akan digunakan untuk acara.
Jiwa Natasya sudah terlatih untuk menghadapi kehidupan yang keras dan kejam. selama 12 tahun ia berjuang menghidupi dirinya sendiri tanpa minta bantuan dari siapapun. Sejak ibu pergi meninggalkannya dengan bibi Santi, Ia sudah bertekad tidak akan menambah beban bagi satu-satunya keluarga yang dikenalnya.
Masih terbayang jelas dalam ingatannya melihat keadaan keluarga bibi Santi yang begitu sederhana tapi menyayanginya seperti Mawar dan Melati anak kandung mereka. Tak sedikitpun perbedaan sikap dilakukan oleh bibi hingga usianya kini. Perhatian dan kasih sayang itulah yang membuat Natasya berusaha sekuat tenaga untuk membalas jasa baik mereka.
Setahun setelah ibu tidak terdengar kabar, Bibi Santi dan keluarganya juga tidak pernah menyerah membantu mencari ibu kandung Natasya ke penjuru Indonesia. Bibi Santi bahkan selalu membawa foto ibu Natasya untuk ditanyakan pada pengunjung rumah makan miliknya. Ia berjanji akan terus bekerja keras agar bisa sukses dan bisa membalas semua jerih payah dan kasih sayang mereka.
__ADS_1
"Ayolah kakak?" rajukan Tiara menyadarkan Natasya dari lamunan panjang.
"Tidak mau! bukankah kamu lebih senang pergi dengan Sarah daripada denganku?" Natasya mengingatkan Tiara akan sahabat belanjanya.
"Pujian dia sangat tidak tulus," omelnya
Natasya kembali tertawa. Ia juga heran dengan jenis persahabatan antara Tiara dan Sarah meski mereka sering terlihat berbelanja bersama tapi tetap saja bersaing dalam mode berpakaian dan perawatan wajah. Sarah sepertinya tidak rela jika Tiara terlihat lebih cantik dibanding dirinya.
"Ya sudah, tidak usah belanja saja," ledek Natasya
Tiara mencibirkan bibirnya dengan wajah cemberut. Ia kesal dengan sikap Natasya yang selalu menolak tiap kali diajaknya berbelanja. Buat apa Natasya bekerja sekeras itu siang dan malam jika bukan untuk memanjakan diri. Ia tidak pernah melihat Natasya membeli sepotong baju atau celana jika sedang terpaksa menemaninya. Padahal beberapa kali Tiara membelikan pakaian bagus untuk dikenakan agar Natasya terlihat cantik dan modis.
Pernah suatu ketika Tiara menanyakan kemana semua hadiah yang pernah diberikan tapi jawaban Natasya selalu tidak masuk akal. Natasya selalu mengatakan jika ia tidak pantas mengenakan barang mewah jadi lebih baik hadiah itu diberikan kepada kedua adik kesayangannya. Awalnya Tiara ingin marah tapi melihat pancaran bahagia dari wajah Natasya saat bercerita mengenai kedua adiknya sangat senang diberikan barang mewah membuatnya senang.
...◎ ◎ ◎...
...*...
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
...*...
...(****Jangan Lupa Like, Comment, Dan Klik Favorite 😊****)...