
.../Three Three\...
.........
...◎ ◎ ◎...
"Lumayan! Jadi mulai kapan kamu akan menunjukkan semua tempat wisata itu padaku?"
Lumayan! Dia hanya mengucapkan satu kata itu setelah seminggu aku berjuang keras untuk menuliskannya dengan baik, Natasya menggerutu dalam hati.
"Bagaimana jika dimulai dari hari ini?" usul Natasya.
"Baiklah jika menurutmu bagus" Andika berdiri dan meninggalkan Natasya yang termangu.
Natasya menarik nafas panjang lalu mengambil catatan yang tersimpan di saku dan menjajari langkah Andika.
"Mungkin jika ke pantai Tuan sudah terbiasa jadi aku akan mengajak ke tempat lain yang mempunyai pemandangan indah."
"Panggil namaku saja tidak usah pakai tuan, kurasa usia kita tidak beda jauh," ledek Andika yang membuat Natasya terdiam.
"Kenapa? Apa kamu merasa sudah tua?" tanya Andika melihat mimik wajah Natasya.
"Aku? Aku masih muda! Kenapa harus merasa tua? Kamu sendiri yang merasa seperti itu kan?" balas Natasya tidak mau kalah.
"Kamu ini ..." Andika marah.
Natasya tertawa geli sambil menutup mulutnya. Siapa yang lebih dulu mengaku dirinya tua? Siapa yang memintanya menyebut kalimat itu? ledek Natasya dalam hati.
"Kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Andika sebal melihat Natasya masih saja tersenyum mendengar ucapannya.
"Aku akan membawamu ke Bali Planetarium"
__ADS_1
"Dimana itu?"
"Aku akan segera membawamu kesana"
"Baiklah!"
"Lokasinya jarang di datangi pengunjung karena akses jalan yang panjang dan curam serta tangga yang bentuknya sama" ucap Natasya.
Andika melangkah hati-hati menapaki anak tangga yang memang curam dengan jalan yang berliku
Natasya membawa Andika menjelajahi Bali Planetarium sambil menjelaskan kelebihan dan kekurangan tempat tersebut dengan detail.
"Kamu paham tempat ini dengan baik," ucap Andika mendengar keterangan panjang lebar Natasya.
"Aku pemandu tur jadi harus hapal tempat mana yang akan ku kunjungi."
Andika tersenyum melihat begitu antusiasnya Natasya menerangkan berbagai hal yang terdapat di dalam Planetarium.
Setelah itu Natasya mengajak Andika melihat teleskop bertenaga tinggi yang sudah di siapkan untuk para pengunjung.
"Siapapun tahu jika teleskop di gunakan untuk malam hari."
Natasya mencibir sebal.
"Aku bicara sesungguhnya kan? Mana ada orang ingin melihat bintang dan bulan di siang hari" ledek Andika.
Natasya pura-pura tidak mendengar ucapan Andika. Ia menjelaskan fungsi masing-masing teleskop sesuai kegunaannya.
"Sepertinya tempat ini bukan tempat favorit wisatawan," gumam Andika.
"Benar! Karena tempatnya yang belum terlalu mendapat perawatan Hingga lokasi jalan yang sedikit buruk,"
__ADS_1
Andika menganggukan kepalanya.
"Karena itulah aku membawamu kesini, tempat ini merupakan pusatnya ilmu pengetahuan tentang antariksa, jika orang tua mengajak anak mereka selain bisa berwisata juga menambah ilmu" terang Natasya.
"Perusahaan mu bisa menjadikan tempat ini jauh lebih bagus dan nyaman untuk membuat pengunjung betah dan berlama-lama disini." saran Natasya.
"Bagus juga saranmu itu, nanti akan ku pikirkan," ucap Andika.
Natasya berjalan cepat mendahului Andika setelah melihat seorang anak kecil tengah bersusah payah menuruni tangga yang tinggi dan curam.
"Adik kecil, dimana orang tuamu?" Natasya bertanya sambil menggendong anak lelaki yang berusia sekitar 5 tahunan.
"Ibuku dibawah sana" tunjuk nya.
"Kamu naik ke atas sendirian?"
Anak itu mengangguk pelan-pelan.
"Kakak, aku capek sekali," keluhnya.
"Aku akan menggendongmu," ucap Natasya sambil melangkah hati-hati menyusuri tangga yang curam. Berani sekali anak sekecil ini menyusuri tangga setinggi ini.
...◎ ◎ ◎...
...*...
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
...*...
...(Jangan Lupa Like, Comment, Dan Klik Favorite 😊)...