
Happy Reading
Beberapa hari kemudian.
Devina dan Alexander saat ini sedang berada di kamarnya. Keadaan Devina masih lemah, dia harus cuti kuliah untuk sementara
"Sayang di minum dulu susunya, biar calon baby kita tetap sehat di dalam sini," ucap Alexander sambil mengelus perut istrinya.
Devina tersenyum, kemudian mengambil segelas susu khusus ibu hamil itu dan meminumnya perlahan.
Alexander memang suami idaman, perhatiannya sangat besar untuk sang istri.
Setelah menghabiskan susunya, tiba-tiba Devina merasa sedih kembali, wajahnya terlihat sendu.
Alexander yang menyadari itu segera mengambil gelas kosong dari tangan Devina dan menaruhnya di nakas. Sungguh sakit rasanya melihat wanita yang dicintai terlihat rapuh seperti itu.
"Sayang, sudah lah jangan terus-terusan bersedih seperti ini, nanti kalau calon baby kita ada apa-apa gimana? Lihat Mamanya selalu sedih seperti ini," ucap Alexander menghapus air mata Devina.
Kemudian pria itu memeluk istrinya dan memberikan sentuhan halus dipunggung Devina.
"Aku merasa sangat bersalah, seandainya saja James tidak meninggal, rasa bersalahku tidak sebesar ini," jawab Devina.
__ADS_1
"Iya, aku tahu, tapi aku tidak suka kalau kamu juga terpuruk terus."
Alexander membaringkan tubuh istrinya, kemudian dia memeluk Devina dengan lengannya sebagai bantalan.
"Alex, apakah itu artinya aku telah membunuh James?"
"Ssttt ... tidak, itu adalah takdirnya, jadi kemungkinan takdir hidup James memang harus sampai disini, mungkin dengan lantaran dia menyelamatkan mu sayang, Tuhan telah memberikan jalan hidup masing-masing pada semua orang."
Alexander masih mengelus lembut punggung Devina, memberi semangat kepada sang istri. Support nya kali ini sangatlah penting, Alexander tahu jika apa yang di alami Devina tidak lah mudah.
"Sekarang kita harus bahagia dan bersukacita menyambut baby yang ada di perut mu ini," ucap Alexander.
Hening, tidak ada jawaban dari Devina, saat di lihat ternyata Devina sudah berada di alam mimpi.
Mungkin karena pria yang menjadi sahabat Devina itu telah menyelamatkan nyawa sang istri, jadi mungkin itu akan menjadi beban bagi wanita yang tengah mengandung anak pertamanya tersebut.
Antara bahagia dan duka juga dirasakan Alexander, diapun masih terus berusaha mencari keberadaan Celine, wanita yang telah merencanakan pembunuhan terhadap istrinya itu.
Pria itu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dengan perlahan Alexander keluar dan menutup pintunya hati-hati agar istrinya itu tidak terbangun.
Alexander menuju ke ruang kerjanya dan mengambil salah satu botol wine disebuah almari kaca
__ADS_1
"Celine! sebenarnya apa mau mu!! aku tidak percaya jika kamu sekejam itu dan berubah menjadi wanita iblis!" gumam Alexander sambil meneguk wine nya.
Berusaha meluapkan segala emosi yang berkecamuk di dadanya dengan minuman itu.
Di depan Devina, dia terlihat kuat dan baik-baik saja, tapi sebenarnya hatinya lebih sakit lagi melihat istrinya yang seperti itu.
Rasa bersalah selalu menganggu pikirannya, dimana dia selama ini yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
Apalagi pelaku kejahatan yang mengincar Devina adalah orang yang dulu pernah dekat dengannya.
"Celine, aku tidak akan pernah melepaskanmu!!!" seru Alexander meremas botol ditangannya.
"Aaggrrhh!!! seharusnya Devina selalu tersenyum bahagia dengan kehamilan anak kita, tapi kenapa harus terjadi seperti ini!! aku adalah suami tidak berguna, maafkan aku sayang!!" seru Alexander menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang kerja itu.
Mata Alexander memerah menahan amarah dan kesedihan yang mendalam. Dia marah terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istrinya.
Dia sedih dan hatinya terasa disayat saat melihat Devina yang menangis karena rasa bersalahnya.
Alexander meneguk wine nya lagi, dia selalu seperti yang ini saat Devina sudah tidur, hanya bisa mengalihkan rasa sakitnya lewat minuman itu.
Segala cara sudah dilakuan oleh Alexander untuk melacak keberadaan Celine, tapi sampai saat ini dia belum berhasil mendapatkan kabar baik dari para polisi dan orang suruhannya.
__ADS_1
Bersambung.