Gairah Dosen Introvert

Gairah Dosen Introvert
Operasi


__ADS_3

Maaf ya, othor jarang up-nya, mudah-mudahan akak2 reader semuanya gak bosen nungguin cerita Alexander dan Devina 🥰🥰


Happy Reading.


Di sebuah sudut kamar, terdengar suara decitan ranjang yang sedang bergoyang, suaranya selaras seirama.


Bahkan terkadang terdengar lenguhan-lenguhan kecil yang keluar dari bibir mungil seseorang yang tidak lain adalah Devina.


Devina merasakan kenikmatan yang tiada tara saat sang suami menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang senada.


Menghujam ke dalam menyentuh titik pusat Devina yang membuat wanita itu semakin tidak terkendali.


Peluh membasahi tubuh kedua sejoli yang sedang memadu cinta itu, mencari dan saling memberi kenikmatan masing-masing.


Alexander tidak pernah mengenal kata lelah kala memberikan apa yang diinginkan Devina, bukan hanya dia yang dipuaskan, tetapi Alexander juha harus bisa membuat istrinya itu meneriakkan namanya berkali-kali.


Alexander mengubah posisi mereka, membuat Devina semakin melayang karena dengan seperti ini membuat milik sang suami bisa menghujam semakin dalam.


Setelah tiga puluh menit kemudian keduanya melenguh panjang dengan sisa-sisa nafas yang masih terdengar terengah-engah.


"Terima kasih, sayang," Alexander mencium kening sama istri kemudian merupakan dirinya di samping Devina.


Devina tersenyum dan kemudian dia mengembalikan tubuhnya menghadap ke arah sang suami yang sudah terlihat begitu lelah, maklum ini sudah ronde kedua mereka memadu kasih.


Di usia kehamilan Devina yang sudah cukup besar membuat Alexander tidak berani meminta banyak ronde kepada sang istri.


"Sama-sama, sayang," kali ini Devina mencium bibir sang suami.


Alexander begitu gemas dengan istri kecilnya itu. Tidak terasa sudah 9 bulan lebih mereka menikah dan itu artinya usia kandungan Devina memasuki bulan ke-9

__ADS_1


Hpl kurang lebih masih tiga Minggu lagi, dan Alexander sudah mempersiapkan semuanya, dia ingin menjadi suami siaga.


"Ayo tidur, besok kamu akan pergi ke luar kota 'kan?" ujar Devina menarik selimut mereka dan menutupi tubuh polos nya dan sang suami.


"Iya, rasanya tuh males banget kalau pergi keluar kota tanpa kamu," jawab Alexander mengelus rambut Devina.


Menatap sayang kepada wanita yang selalu membuatnya merasakan kerinduan yang luar biasa.


Terkadang Alexander ingin mengajak Devina ke kampus ataupun ke perusahaan, karena pria itu merasa tidak ingin jauh-jauh dari istrinya itu.


"Ya, mau gimana lagi, aku nggak bisa naik pesawat apalagi usia kandunganku juga udah rentan banget masuk 37 minggu," jawab Devina merasakan keresahan suaminya.


Malam ini Alexander mengajak Devina lembur karena memang besok pagi-pagi sekali pria itu harus pergi ke Los Angeles.


"Kalau itu bukan hal yang penting, aku pasti sudah menyuruh Nickolas untuk pergi ke sana sendiri tanpa aku, tapi ini adalah suatu proyek yang besar jadi mau nggak mau aku harus terpaksa pergi dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun," ujar Alexander.


Sepertinya Devina sudah tertidur karena terdengar deru nafas yang teratur. Alexander mencium kening istrinya sekali lagi dan dia pun ikut masuk ke dalam alam mimpi bersama dengan wanita yang sangat dicintainya.


****


Semenjak kehamilannya menginjak usia trimester 3, Devina jadi sering ingin buang air kecil apalagi di sana malam hari.


Tidak jarang Devina merasakan perutnya kram karena mungkin calon baby nya menendang di dalam sana.


Devina mengambil piyama tidurnya yang tergeletak di samping ranjang, tadi dia memang belum sempat memakai bajunya kembali bahkan Devina tidak sempat membersihkan diri karena terlanjur kelelahan.


Dengan berjalan sedikit tertatih, Devina membuka pintu kamar mandi dan segera masuk. Tubuhnya masih sangat lelah, bahkan pinggulnya terasa pegal-pegal.


Devina menuntaskan hajatnya dan segera berjalan keluar, tapi tiba-tiba kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu yang membuatnya tergelincir.

__ADS_1


"Aaaakkkkk!"


Alexander yang masih terlelap pun kaget ketika mendengar suara teriakan dari istrinya.


"Devina!"


Alexander bangun dan mendapati istrinya tidak ada di sampingnya. Terdengar suara rintihan di dalam kamar mandi dan Alexander langsung melompat dari atas ranjang untuk berlari ke arah istrinya.


"ASTAGA!! Devina!!"


****


Daffa, Mommy Stella dan Daddy David nampak berlari tergesa setelah mendengar kabar bahwa Devina masuk ruangan ICU.


Alexander berdiri didepan ruangan itu dengan tubuh yang masih bergetar, sedangkan Mama Fraya sudah di peluk oleh Mommy Stella ketika melihat besannya itu tidak berhenti menangis.


"Bagaimana kabar Devina?" tanya Daddy David pada sang menantu.


Mereka langsung meluncur ke rumah sakit setelah Alexander menelepon jika Devina mengalami pendarahan.


"Belum tau, Dad, belum ada dokter yang keluar!" jawab Alexander.


Pikiran nya kacau dengan kaki yang berasa lemas, melihat banyaknya darah yang keluar saat tadi melihat istrinya terjatuh dilantai membuat Alexander ingin pingsan saja.


Tetapi tentu saja dia harus kuat ketika melihat istrinya yang merintih seperti itu.


Pintu ruang ICU terbuka, seorang dokter pria keluar dan langsung bertanya di mana keluarga pasien.


"Saya suaminya, dok!" ucap Alexander.

__ADS_1


"Begini Tuan, kita harus segera melakukan tindakan operasi, pasien kehilangan banyak darah dan bisa berakibat fatal jika tidak langsung mendapatkan penanganan. Tapi disini juga kondisi janinnya lemah, mudah-mudahan keduanya bisa tertolong dan selamat, jadi saya minta izin tanda tangan anda tuan agar operasi segera kita laksanakan!"


Bersambung.


__ADS_2