
Happy Reading.
Alexander menatap Devina yang sudah terlelap, mengecup dahinya pelan dengan penuh cinta, istri kecilnya itu mengalami depresi yang luar biasa. Sepertinya Alexander harus membawa Devina jalan-jalan, kalau perlu keliling dunia sekaligus baby moon.
Semenjak menikah mereka memang belum mengadakan bulan madu, karena kesibukan mereka masing-masing.
Di saat dia mengetahui kehamilan Devina, di saat itu juga sedang ada musibah yang menimpanya, ini semua dikarenakan oleh Celine teman masa lalu Alexander.
'Celine, kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal!'
Alexander merebahkan tubuhnya di samping sang istri lalu mendekap tubuh Devina erat. Sepertinya ia harus segera istirahat karena dia akan menemui Aaron besok yang mengatakan jika Celine bersama dengan dirinya.
Alexander tidak bisa berpikir kenapa keponakannya itu sampai bisa bersama dengan Celine, apakah Aaron berhasil menangkap Celine sebelum orang-orang suruhannya menangkapnya lebih dulu.
Tidak terasa Alexander terlelap ke dalam mimpinya bersama sang istri, tidak dipungkiri bahwa beberapa hari ini dia merasa sangat kelelahan.
Apalagi semenjak kejadian di mana James menolong istrinya dan mengorbankan dirinya sampai nyawanya pun tidak bisa tertolong.
Alexander dan Devina hampir tidak pernah bisa beristirahat. Mungkin jika seandainya James berhasil selamat dan sembuh, Devina juga tidak akan menjadi sangat sedepresi ini.
****
Celine membuka matanya perlahan merasakan seluruh tubuhnya yang terasa begitu sakit. Sungguh dia tidak menyangka jika pemuda yang menyekapnya itu malah menjadikannya sebuah alat pelampiasan.
__ADS_1
Mata Celine mengedar menatap sekeliling, dia pun bisa melihat Aaron tertidur di sofa dengan begitu lelap. Celine merasakan kemarahan untuk pria itu, Celine merasa begitu sangat membencinya.
Entah apa yang membuat Aaron begitu ikut campur dengan urusannya yang ingin menyelakai Devina, tetapi dia bisa melihat jika pemuda itu menyukai istri dari Alexander.
"Lihatlah bocah, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!! apakah kamu mengira aku begitu buruk!!" Perlahan Celine bangkit dari atas ranjang.
Melangkahkan kakinya menuju sudut kamar dimana terletak tongkat baseball di sana. Celine berjalan mengendap-endap, menjulurkan tangannya berusaha mengambil tongkat baseball itu.
GREP!
Celine tersenyum sedih setelah berhasil mengambil tongkat tersebut, kemudian dia berjalan ke arah Aaron yang tertidur pulas di sofa.
"Dasar pria brengsek!!" Celine mengayunkan tongkat itu ke atas.
"Aaakk!"
"Aww!! Hei, hentikan!!' Aaron yang terkena pukulan bertubi-tubi dari Celine hanya bisa menghindar.
"Brengsek kau Aaron!! Aku tidak akan melepaskan mu!!" teriak Celine seperti orang kesetanan.
Aaron belum sempat berlari saat tiba-tiba kepalanya dipukul dengan kuat oleh Celine.
Bugh!!
__ADS_1
BRUKK!
Tubuh Aaron tumbang dengan darah yang bercecer kemana-mana. Celine langsung melemparkan tongkat baseball itu ke sembarang arah.
Wanita itu berjalan mundur, menjauhi dari tubuh Aaron yang sudah tidak sadarkan diri.
"Apa dia sudah mati?" gumam Celine. Tiba-tiba tubuhnya terasa bergetar hebat, rasa takut menyeruak begitu saja dihatinya.
"Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini!!' Celine ketakutan, bagaimana jika Aaron mati, pasti Alexander juga akan membunuhnya.
Celine berlari ke arah pintu, mencoba membuka pintu itu tetapi tidak bisa.
"Sial!! Ternyata dikunci!!" Celine celingukan.
Mencari keberadaan kunci kamar yang pasti disembunyikan oleh Aaron.
'Ketemu!' Celine melihat sebuah kunci di atas meja. Perlahan wanita itu melangkah cepat menuju meja kecil itu dan segera mengambil kuncinya.
Celine memasukkan kunci tersebut, terdengar bunyi klik dan akhirnya pintu pun terbuka.
Wanita itu bergegas keluar dari dalam kamar, dia tidak akan berhenti berlari sebelum dia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara gaduh.
__ADS_1
"Kami dari kepolisian dan akan menangkap nona Celine, yang telah melakukan kejahatan dan menjadi buronan itu selama ini dengan tuduhan pembunuhan yang telah direncanakan."
Bersambung.