
Happy Reading.
Alexander menepati janjinya, dia membawa sang istri yang ingin melihat menara Tokyo di Jepang karena bawaan sang baby katanya.
Calon baby yang berjenis kelamin laki-laki itu tumbuh sehat di rahim Devina. Di usianya yang ke 20 tahun, Devina sudah mengandung calon anak dari keturunan Klan Wiliam.
Klan yang sangat berpengaruh di Amerika, dan juga klan Alvarez dari Ayah Devina. Membuat calon cucu dari dua pewaris besar ditunggu-tunggu kelahirannya.
"Suka, sayang?" Devina mengangguk. Senyum lebar menghiasi bibirnya.
"Aku gak suka ketinggian," ujar Devina.
"Makanya gak usah naik ke menara," Alexander memeluk istrinya dari belakang, meletakkan dagunya di atas bahu sang istri.
"Iya, aku sudah cukup bahagia, menanti kelahiran calon baby kita adalah waktu yang ku tunggu-tunggu," Devina membalikkan tubuhnya, menatap Alexander penuh cinta.
Begitu juga Alex yang setiap hari selalu merasa bangga bisa mendapatkan wanita secantik Devina.
Melihat sang istri bahagia itu sudah cukup membuat Alexander menjadi lelaki sejati, Devina adalah anugerah yang diberikan tuhan untuknya.
Dia merasa hidupnya sudah lengkap setelah hadirnya sang istri di kehidupannya. Devina Alvarez wanita yang usianya 10 tahun lebih muda itu benar-benar membawa warna baru dikehidupan Alexander yang dulunya selalu datar.
Alexander yang tidak suka dengan keramaian, bahkan dia cenderung menikmati kesendiriannya, hingga mendapatkan julukan dosen yang introvert, kini semua sudah berubah total dengan kehadiran Devina.
Gadis itu bukan hanya memberikan kebahagiaan untuknya, tetapi juga untuk sang Mama yang sejak dulu selalu takut jika putranya itu memiliki kelainan karena tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
Namun, dengan kehadiran Devina, sang Mama begitu bahagia bisa mendapatkan menantu yang dia idam-idamkan sejak dulu.
Maklum, Alexander sudah seharusnya memiliki anak seperti sahabat-sahabatnya diusianya yang menginjak 30 tahun.
"Alex, aku mau makan onigiri," suara lembut sang istri membuyarkan lamunannya.
Alexander tersenyum, tangannya terangkat mengelus pipi sang istri. "Oke sayang, ayo kita ke restoran yang ada di sebrang sana, ada yang jual onigiri, tuh!" Alexander menunjuk ke jejeran bangunan restoran dan toko-toko suvenir.
"Oke, ayo!"
****
Setelah kelelahan karena jalan-jalan seharian, akhirnya Devina tepar di atas ranjang, dia benar-benar sudah terlelap sebelum sempat membersihkan diri.
Alexander hanya geleng-geleng kepala, merapikan rambut Devina yang menutupi sebagian matanya.
"I love you, My wife!" bisik Alexander kemudian mencium kening sang istri.
__ADS_1
Pria itu memutuskan untuk membersihkan diri, Alexander masuk ke dalam kamar mandi dan menanggalkan seluruh pakaiannya, sekitar dua puluh menit kemudian Alexander sudah keluar memakai jubah handuk.
Devina masih belum bangun, mungkin karena kelelahan membuat istrinya itu begitu pulas. Alexander segera memakai kaos berwarna putih dan celana lain selutut.
Sepertinya dia juga sangat lelah, Alexander memutuskan untuk naik ke atas ranjang dan membawa Devina kedalam pelukannya.
****
Devina mengerjabkan matanya, merasakan pelukan diperut nya begitu erat.
"Euhgg!"
Alexander mendengar lenguhan Devina dan langsung terbangun.
"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Alexander.
"Heem, jadi aku ketiduran, ya?" Devina bangun untuk duduk.
Alexander ikut bangun dan bersandar di headboard. "Tadi kamu kecapekan, jadi nggak terasa tidurnya, mau mandi?"
Devina mengangguk, "pengen dimandiin!" rengeknya manja.
Alexander langsung menggendong istrinya ala bridal style, sayangnya tadi dia sudah mandi, tapi kalau Devina ingin lebih dari sekedar 'mandiin' Alexander selalu siap.
****
Aaron merasakan kepalanya berdenyut keras, rasanya sakit sekali, seperti dihantam palu besar yang mengenai kepala bagian belakang nya.
"Aarrgggkk!!!"
Zoey yang berada di dapur mendengar teriakan Aaron yang menggelegar.
"Aaron!" Zoey meletakkan alat masaknya dan berlari ke lantai atas untuk melihat kondisi suaminya.
"Sakit!!" Aaron terjatuh ke lantai sambil memegang kepalanya dan berteriak kesakitan.
"Aaron!! Ayo kita ke rumah sakit!"
Tidak lama setelah itu Mama Milea dan Papa Kevin berlari ke kamar Aaron dan melihat putra mereka yang sudah pingsan.
****
Aaron membuka matanya perlahan, dia melihat satu persatu orang yang saat ini tengah menatap.
__ADS_1
Ada Ayah Kevin, Mama Milea, beberapa orang yang diperkirakan dokter dan perawat dan yang terakhir, mata Aaron menatap wanita yang tengah terlihat begitu khawatir berada di belakang para orangtuanya itu.
Matanya menatap tajam pada wanita itu, sepertinya Aaron bisa melihat ketakutan dan kekhawatiran yang ada di bola matanya.
"Zoey!"
Semua orang yang ada ditempat itu pun tersentak kaget, sepertinya Aaron sudah bisa mengingat kembali.
"Aaron, kamu sudah ingat kami, Nak?" seru Milea.
Mata Aaron masih menatap istrinya, seperti ingin berbicara sesuatu, bibirnya membuka sedikit, dengan bergetar Aaron memanggil nama Zoey lagi.
"Zoey, ma-maafkan aku!"
Zoey terpaku ditempat, dia tidak menyangka jika hal yang pertama kali diucapkan oleh suaminya adalah permintaan maaf.
Perlahan Zoey berjalan mendekat ranjang di mana sang suami berbaring.
"Aaron, aku sudah memaafkan kamu, aku senang kamu sudah mengingat kamu!" ujar Zoey tersenyum tulus.
Perlahan air matanya mengalir begitu saja, dia sudah berjanji jika Aaron sembuh akan meminta cerai, melepaskan Aaron dari ikatan yang membelenggunya.
"Zoey," lirih Aaron.
Semua orang yang berada di ruang tersebut masih diam menyaksikan apa yang akan di ucapkan oleh Aaron
"Ya,," jawab Zoey menghapus air matanya, berusaha menampilkan senyuman.
"Jangan bercerai!" ucap Aaron menggapai tangan Zoey yang berada di sisi ranjang.
Tentu saja hal tersebut membuat Zoey benar-benar terkejut.
"Jangan menceraikan aku!" sekali lagi Aaron berucap.
Pria itu tidak ingin kehilangan wanita yang begitu tulus pada nya selama ini, tatapan mata Zoey selalu penuh dengan cinta dan rasa sakit.
Sejujurnya dia masih belum mengingat semuanya, dia hanya sesekali mendengar gumaman wanita yang mengaku sebagai istrinya itu akan pergi meninggalkan nya setelah sembuh.
Entah kenapa hati Aaron merasa begitu sakit saat mendengar ucapan lirih dari istrinya itu. Sepertinya kali ini dia akan berusaha berubah. Dia sedikit mengingat tentang kedua orang tuanya. Masa kecilnya dan juga remajanya.
Tetapi dia tidak ingat jika dia sudah menikah.
"Ayo kita mulai semuanya dari awal!" itulah tekad Aaron, dia merasa sakit jika harus ditinggalkan oleh Zoey.
__ADS_1
Sepertinya hati kecilnya memang menginginkan Zoey selalu berada disisinya.
Bersambung.