
Happy Reading.
Devina membuka matanya perlahan, mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
"Sayang, kamu sudah sadar!" Devina menoleh ketika melihat Alexander mencium punggung tangan kanannya.
Terlihat wajah khawatir, lelah dan lesu dari sang suami, bahkan Devina bisa melihat penampilan Alexander yang berantakan.
"Alex, bagaimana bayi kita?" itulah kata yang pertama kali terucap dari bibir pucat itu.
Alexander semakin mengeratkan genggamannya, mengecup nya beberapa kali dan tersenyum melihat sang istri.
"Bayi kita sangat tampan, seperti aku!" ujar Alexander membuat Devina langsung tersenyum.
"Benarkah? aku ingin melihat bayi kita, Alex!"
"Sebentar, aku akan panggil dokter dulu biar kamu diperiksa, setelah itu nanti kamu bisa melihat bayi kita," jawab Alexander kemudian menekan tombol samping ranjang untuk memanggil dokter.
Satu dokter dan satu orang perawat masuk ke dalam ruang rawat Devina, mengecek kondisinya, tekanan darah dan juga denyut nadi Devina yang tadinya melemah.
Alexander merasa sangat bersyukur karena istrinya itu benar-benar kuat, bahkan bayi mereka yang berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat.
Sungguh tidak pernah Alexander bayangkan bagaimana rasanya jika dia kehilangan dua orang yang sangat berharga dihidupnya itu.
"Semuanya stabil, kondisi Nona Devina sudah semakin membaik," ujar sang dokter.
Alexander tersenyum dan mengangguk, "terima kasih Dok, Apakah istri saya boleh melihat bayi kami?"
"Oh, tentu saja, nanti saya akan meminta perawat untuk membawa bayi kalian ke sini," jawab dokter tersebut.
__ADS_1
Setelah pemeriksaan selesai, Dokter dan perawat itu undur diri.
Devina merasa bahagia karena ternyata bayinya selamat, padahal saat itu Devina ingat jika perutnya terasa begitu sakit sampai Devina merasa seluruh pandangan yang gelap dan tidak ingat apapun lagi.
"Alex," panggil Devina pada suaminya.
"Iya sayang, ada apa?"
"Aku haus," Alexander segera mengambil botol air mineral di atas meja dan memberinya selang untuk Devina minum.
Setelah menghabiskan air setengah botol Devina kembali menyerahkan nya pada sang suami.
"Apa aku koma?" tanya Devina, dia penasaran berapa lama dia tertidur karena Devina sama sekali tidak ingat apapun.
"Kamu tidur sampai dua hari dan itu benar-benar membuat aku khawatir, apalagi Baby kita selalu nangis minta ASI, tapi untungnya di kasih susu formula, nah itu dia, jagoan Papa datang," Devina menoleh dan melihat seorang perawat membawa bayi mereka di dalam gendongan.
Mata Devina nampak berkaca-kaca saat perawat itu menyerahkan bayinya dan meletakkan di atas dada Devina.
"Coba disusui bayinya Nona, siapa tahu Asinya sudah keluar," ujar sang perawat.
Devina di bantu perawat itu membenarkan letak sang baby, agar dia bisa mulai mencari di mana tempat menyusunnya, Devina melakukan Inisiasi menyusui dini.
Alexander menitikkan air matanya, rasanya begitu terharu bisa melihat pemandangan di depannya saat ini. Melihat mulut mungil baby nya yang kini sudah bisa menemukan putting tetapi terlihat kesulitan.
'Istriku, putraku, kalian dua harta yang paling berharga di hidupku, kalian permata yang tidak ternilai harganya, terima kasih telah berjuang!' batin Alexander.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Alexander menjauh dari ranjang dan melihat siapa yang menelpon.
"Halo, Ma?"
__ADS_1
"Bagiamana keadaan Devina?
"Devina sudah sadar, sekarang sedang menyusui bayi kita."
Terdengar pekikan diseberang, Alexander sampai harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Syukurlah sayang, aku akan mengabari mertuamu, dan besok pagi kami akan ke rumah sakit!"
"Iya, ma!"
Setelah itu panggilan pun terputus, Alexander kembali menatap Devina yang saat ini juga tengah menatapnya
"Mama Fraya?"
"Iya sayang, karena sudah larut paling besok pagi Mama dan Mommy ke rumah sakit," Alexander duduk di kursi samping ranjang.
Menatap sang putra yang sedang menyusu dengan kencang. "Kamu pintar, nak, udah bisa menyusu dengan baik," ujar Alexander mengelus kepala putranya.
"Iya, aku kira tadi dia nggak mau, karena dua hari nggak langsung menyusi," Devina mengecup pipi sang putra. Tiba-tiba terdengar isakan dari mulut Alexander.
"Sayang, kok kamu nangis?" tanya Devina heran.
"Aku nangis karena masih bisa lihat kalian, aku takut, takut sekali jika salah satu diantara kalian pergi, aku nggak sanggup sayang, aku nggak sanggup kehilangan kalian berdua!"
Devina membelai pipi sang suami dan tersenyum. "Terima kasih sayang, aku juga masih ingin hidup lebih lama lagi, aku masih ingin melahirkan banyak anak darimu, jadi kami harus kuat," ucap Devina.
Alexander langsung mencium bibir sang istri dan merangkul bahunya dari belakang. Menatap sang putra yang masih menyusu dengan lahap.
"Namanya siapa?" tanya Alexander.
__ADS_1
"Keanu Philips Alvares William!"
Bersambung.