
Ellena terus mondar-mandir di depan ruang dokter sambil menggigit ujung kukunya. Sesekali ia melihat ke dalam ruangan, dan didalam dokter masih membersihkan dan mengobati luka di wajah Kevin.
Sebenarnya Ellena tidak dilarang masuk, dokter mengijinkannya untuk menemani suaminya, tetapi dia menolaknya. Ellena memiliki trauma pada darah, dan itulah yang menjadi alasan kenapa dia menolak untuk ikut masuk ke dalam. Beberapa kali dia berhadapan dengan Kevin yang terluka, itupun sambil berperang melawan phobianya.
Hampir tiga puluh menit menunggu. Akhirnya Kevin keluar dari ruangan itu, perban tampak membebat luka-lukanya. Dan itu membuat Ellena merasa amat sangat bersalah.
"Kevin," seru Ellena. Dia berkaca-kaca melihat perban yang menutup luka-luka di wajah Kevin. Untungnya luka di kelopak matanya tak sampai membahayakan penglihatannya. Luka itu dijahit dan juga ditutup perban.
Pria itu menatap Ellena dengan sendu. "Apa yang kau tangisi, aku baik-baik saja." Kevin menghapus air mata di pipi Ellena.
Ellena menundukkan kepalanya. "Maafkan aku Kevin, jika saja aku tidak keras kepala dan bersikeras menentangmu untuk menceraikan Ella. Hal semacam ini pasti tidak akan terjadi, aku yang membuatmu dalam bahaya, aku juga yang menyebabkanmu nyaris buta!!" Ucap Ellena penuh sesal.
Kevin menggeleng. "Tidak Ell, ini bukan salahmu. Apa yang menimpaku ini adalah musibah, dan aku tidak ingin mendengarmu mengatakan kalimat lagi, jangan menyalahkan dirimu sendiri!!" Pinta Kevin. "Ya sudah, ayo pulang." Kevin merangkul bahu Ellena, lalu keduanya berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit.
Meskipun Kevin tak menyalahkannya. Akan tetapi Ellena belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Jika saja ia bisa bersikap lebih dewasa dan tidak kekanakan. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi. Dan Kevin juga tidak akan terluka karena dirinya.
-
-
Ella membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat asing. Tak ada siapapun di ruangan itu, hanya ada dirinya sendiri. Dan selain itu, tangan dan kakinya juga terikat kuat. Membuat Ella bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya.
Krieettt...
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu dan menghampiri Ella. Ditangannya memegang sebuah nampan yang berisi makanan.
"Sebenarnya aku ada dimana? Dan ini tempat apa? Kenapa aku bisa berada di sini?" Tanya Ella mau minta penjelasan.
__ADS_1
Ini adalah rumah bordil, tadinya Tuan membuangmu di tepi hutan. Kemudian dia menghubungiku dan meminta supaya anak buahku menjemputmu lalu membawamu kesini, hari ini kau adalah bekerja di tempatku ini!!" Jawab wanita itu menjelaskan.
Ella membulatkan matanya. "Apa?! Rumah bordil?!" Dia menggeleng. "Tidak, aku mau disini, aku ingin pergi dari tempat ini!! Cepat lepaskan aku dan biarkan aku pergi!!" Pinta Ella menuntut.
Wanita itu menyeringai sinis. "Jangan harap kau bisa keluar dari sini. Karena siapapun yang sudah masuk ke tempat ini, maka dia tidak akan bisa keluar lagi!! Jadi bermimpi saja untuk bisa keluar dari sini!!" Jawab wanita itu menimpali.
"Kau wanita brengsek!! Cepat lepaskan aku!!" Pinta Ella menuntut.
"Makananmu aku letakkan disini, terserah kau akan memakannya atau tidak!! Kau mati kelaparan pun itu tidak ada hubungannya denganku!!" Ucap wanita itu dan pergi begitu saja.
Ella berteriak dan memaki wanita itu. Tapi teriakannya tak dihiraukan olehnya, wanita itu tetap melanjutkan langkahnya tanpa melirik sedikit pun pada Ella.
-
-
Kevin menghentikan mobil mewahnya dihalaman luas mansion mewah milik keluarganya. Kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh nyonya Xi yang sedari tadi mondar-mandir dengan gusar di teras rumahnya, ekspresi wajahnya menunjukkan kecemasan yang berlebih.
Luka di wajah Kevin memang lumayan parah, ada beberapa jahitan seperti di kelopak mata, pelipis dan tulang pipinya akibat tertancap serta tertusuk pecahan vas bunga yang dihantamkan oleh Ella ke wajahnya. Dan tanpa bertanya pun, tentu saja Nyonya Xi mengetahui bagaimana keadaan putranya.
Dari Kevin lalu pandangan wanita itu beralih pada Ellena. "Sayang kau tidak apa-apa kan? Mama dengar dari Kyra jika wanita itu hampir saja mencelakaimu." Tanya Nyonya Xi memastikan. Ellena menggeleng dan meyakinkan pada ibu mertuanya jika ia baik-baik saja.
"Kalian mengobrol saja, aku masuk dulu." Ucap Kevin dan pergi begitu saja. Jari-jarinya memegang perban yang menutup sisi wajah kanannya.
Perban itu membuat dirinya terlihat seperti mumi hidup karena ukurannya yang lumayan besar. Yang menutup luka dari kening sampai tulang pipi kanannya. Dan sepertinya akan lebih baik jika Kevin tetap di rumah selama beberapa hari sampai perbannya dibuka.
Ponsel dalam saku celana Kevin berdering yang menandakan ada satu panggilan masuk. iya pun segera mengangkat dan menerima panggilan tersebut. "Ada apa kau menghubungiku?" Tanya Kevin tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Tuan sesuai perintah Anda, saat ini wanita itu berada di rumah bordil, dan kami bisa memastikan jika dia tidak akan bisa kabur dari sana!!"
"Kerja yang bagus, betina itu memang sudah seharusnya berada di habitatnya!! Terus awasi dia, pastikan jika wanita itu tidak sampai membuat masalah apalagi merepotkan si tuan rumah. Dan jika dia berani membangkang, langsung saja beri hukuman!!"
"Baik, Tuan. Kami mengerti, akan kami lakukan sesuai permintaan Anda. Oya, Tuan. Mengenai transaksi malam ini, sepertinya kita harus menundanya. Pihak kepolisian sudah mengetahuinya!!"
"Tidak perlu ditunda, masalah ini serahkan saja padaku. Selama uang berbicara, apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Lanjutkan saja pekerjaanmu!!"
"Baik, Tuan!!"
Kevin melirik kebelakang dari ekor mata kirinya. Dia tau seseorang sedang menguping pembicaraannya. Orang itu bukan anggota keluarganya melainkan salah seorang pelayan yang datang membawakan obat untuknya.
"Masuklah," pinta Kevin dingin.
"Tu..Tuan Muda, Nona meminta saya mengantarkan obat untuk Anda." Ucapnya dengan suara bergetar.
"Letakkan saja dimeja. Aku akan meminumnya nanti. Lupakan apa yang kau dengar barusan, jangan macam-macam jika tidak ingin mendapatkan masalah besar!!" Ucap Kevin sedikit memberi ancaman.
Pelayan itu mengangguk cepat. "Sa..Saya tidak berani, Tuan Muda. Saya akan tutup mulut dan bersikap seolah-olah tak mendengar apapun," ucapnya meyakinkan.
"Hn, keluarlah!!"
Diam-diam Kevin menyimpan sebuah rahasia besar dari keluarganya. Insiden berdarah yang pernah menimpa keluarganya di masa lalu membuat Kevin tak bisa tinggal diam, seperti bayangan yang selalu bergerak di dalam kegelapan. Begitulah Kevin akan melindungi mereka yang ia sayangi.
Tak akan Kevin biarkan siapapun menyentuh apalagi menyakiti mereka semua, Ellena dan Ibunya terutama. Dan berani menyakiti mereka berdua, maka neraka adalah balasannya. Kevin yang memiliki pribadi tenang, bisa berubah menjadi iblis yang sangat mengerikan jika ketenangannya sampai terusik.
-
__ADS_1
-
Bersambung.