Gairah Liar Istri Kedua

Gairah Liar Istri Kedua
Bab 28: Seusia Kris


__ADS_3

"Bibi Marissa,"


Langkah kaki wanita itu terhenti makalah seseorang menegurnya. Nyonya Marissa menoleh dan mendapati Kris berjalan menghampirinya, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


"Kris," seru Nyonya Marissa manggil nama pria itu.


Kris tersenyum lembut pada wanita paruh baya di depannya itu. "Bibi sedang apa di sini? Apa untuk makan siang juga?" Tanya Kris memastikan.


Nyonya Marisa mengangguk. "Jika datang ke sini bukan untuk makan siang lalu untuk apa lagi, Kris. Dasar kau ini," ia terkekeh pelan. Kris ikut tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehehe, Bibi kenapa kau sangat serius sekali. Padahal aku asal bertanya saja," ucapnya merasa malu.


Nyonya Marissa memukul pelan lengan Kris sembari tersenyum. "Dasar kau ini. Karena sudah bertemu disini, bagaimana kalau kita makan siang sama-sama." Usul Nyonya Marissa.


"Boleh, bukan ide yang buruk. Tetapi Bibi yang harus mentraktirku," ucap Kris yang segera dibalas anggukan oleh Nyonya Marissa.


Jika hanya untuk mentraktir satu orang saja, tentu saja Nyonya Marisa tidak merasa keberatan. Apalagi yang dia traktir bukan orang lain, melainkan keluarganya sendiri. Keris adalah kakak Kevin, dan tentu saja sudah menjadi bagian dari keluarga Valerie.


Melihat Kris, membuat Nyonya Marisa teringat pada kata-kata mantan pelayannya. Jika putranya berada di keluarga Xi, dibandingkan dengan Kevin, usia Kris lebih masuk akal. Karena jika putranya masih hidup, mungkin dia sudah seusia Kris.


"Bibi, kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Kris kebingungan.


Nyonya Marissa menggeleng. "Tidak apa-apa Kris, hanya saja wajahmu mengingatkan Bibi pada seseorang." Jawab Nyonya Marissa.


"Benarkah, Jika boleh tahu memangnya siapa dia?" Tanya Kris penasaran.


"Seseorang dari masa lalu, Bibi. Lebih tepatnya mantan kekasih, Bibi. Cinta kami tidak direstui oleh orang tua, Bibi. Kemudian dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Bibi begitu saja. Dan akhirnya Bibi menikah dengan pria pilihan orang tua, dia adalah ayah Serra." Tutur Nyonya Marissa.


"Lalu apakah Bibi dan pria itu tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang?" Tanya Kris penasaran. Kenapa dia begitu tertarik dengan kisah Nyonya Marissa.


Nyonya Marissa menggeleng. "Sudah hampir 30 tahun kami tidak pernah bertemu lagi, dan Bibi dengar dia telah menikah dan memiliki kehidupan yang bahagia bersama istri juga anak-anaknya." Jawab Nyonya Marissa.


Kris bisa melihat kesedihan dan kepedihan dari mata wanita itu, dia pasti sangat merindukan mantan kekasihnya tersebut, mereka berdua yang saling mencintai namun tak direstui oleh takdir melalui orang tua Nyonya Marissa sebagai perantaranya.

__ADS_1


"Kenapa kita jadi membahas masa lalu, sebaiknya cepat pesan." Ucap Nyonya Marissa.


"Baik, Bibi."


-


-


Ting...


Sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya membuat perhatian Ellena sedikit teralihkan. Wanita itu meninggalkan meja riasnya lalu mengambil ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur.


Mata Ellena memicing melihat sebuah rekaman Vidio yang dikirim ke ponselnya. Dalam rekaman itu terlihat Ella yang baru saja meninggalkan gedung rumah sakit. Dan setahu Ellena, itu adalah salah satu rumah sakit para pengidap HIV.


"Pesan dari siapa, serius sekali?" Tegur Kevin sekembalinya dia dari kamar mandi. Kemudian Ellena menunjukkan pesan singkat yang dia terima padanya.


"Key, seseorang mengirim sebuah pesan video padaku. Kau lihat ini, bukankah dia adalah sekretaris di perusahaanmu. Tapi kenapa dia malah keluar masuk rumah sakit pengidap penyakit HIV, apa jangan-jangan dia terjangkit ya?"


"Aku akan meminta Felix untuk menyelidikinya."


"Lalu kalau dia memang terbukti terkena HIV, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ellena memastikan.


"Tentu saja mengusirnya keluar dari perusahaan, karena aku tidak Sudi menerima karyawan yang berpenyakitan, apalagi penyakitnya menular!!" Jawab Kevin menimpali.


Ellena tersenyum lebar. Wanita itu mendekati Kevin lalu memeluk leher suaminya. "Aku menyukai ketegasanmu, memang inilah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Bersikap tegas dalam mengambil sebuah keputusan," ucapnya.


Kevin mengecup singkat bibir Ellena. "Kalau tidak tegas. Tidak mungkin perusahaanku bisa maju dan berada di titik ini," balas Kevin menimpali.


Ellena mengangguk membenarkan. "Suamiku memang hebat, dari dulu sampai sekarang kau tidak pernah berubah. Kau memang yang terhebat dan terbaik, aku bangga menjadi istrimu." Ucapnya sambil mengunci sepasang biner hitam milik Kevin.


"Berapa kali kau mengatakannya, hm? Jika kau selalu memujiku seperti itu, bisa-bisa kepalaku jadi besar."


"Kekeke, mana mungkin bisa begitu. Dasar kau ini." Ellena terkekeh lalu memukul dada suaminya dengan gemas. "Oya, aku lupa. Aku ada janji untuk menemani Mama berbelanja. Kau mau ikut atau tidak?"

__ADS_1


"Kalian pergi berdua saja, aku masih banyak pekerjaan." Ellena mengangguk. Setelah meminta ijin pada Kevin, ia pun segera pergi menjemput ibunya.


Menunggu adalah hal yang paling Kevin benci. Apalagi menunggu para wanita berbelanja. Itulah kenapa Kevin menolak untuk ikut, lebih baik dia berkutat dengan tumpukan dokumen daripada harus menemani para wanita pergi berbelanja.


"Aku baru saja mengirim video padamu. Selidiki kenapa Ella keluar masuk rumah sakit itu." Pinta Kevin pada Felix. Dia ingin tau apa yang dilakukan oleh Ella di rumah sakit tersebut.


"Baik, Tuan."


Kemudian Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Ia memasukkan kembali benda tipis itu ke dalam saku celana bahannya. Kemudian ia melenggang keluar meninggalkan kamarnya dan melenggang pergi ke ruang kerjanya.


-


-


"Aaarrrkkhhh...."


Ella menghancurkan apapun yang ada di kamarnya, kabar buruk saat ini ia telah mengidap salah satu penyakit paling mengerikan di dunia yang hingga detik ini belum di temukan cara untuk menyembuhkannya.


Ada dua kemungkinan, Ella terjangkit ketika ia berada di rumah bordil, karena tak hanya satu dua tamu yang harus ia layani setiap malamnya. Dan parahnya lagi, Ella melayani mereka tanpa pengaman apapun.


Dan yang kedua, antara Leo, Tuan Su dan sopir keluarga Xi. Dan Ella tidak tau siapa sebenarnya yang membawa penyakit itu padanya. "Sial, sial, sial!! Kenapa harus aku yang menderita penyakit mematikan itu?! Kenapa bukan Ellena saja, kenapa dia selalu lebih beruntung dariku!!"


Bukannya menyadari kesalahannya, Ella malah menyalahkan orang lain. Dan lagi-lagi Ellena-lah yang dia salahkan, karena wanita itu selalu lebih beruntung darinya.


"Aku tidak ingin mati mengenaskan seperti ini!! Arrrkkhh, Tuhan kenapa kau tidak pernah adil padaku. Kau selalu pilih kasih, kenapa selalu Ellena yang kau buat beruntung sedangkan aku tidak, kenapa?!"


Ella benar-benar seperti orang kesetanan. Dia benar-benar tidak bisa menerima kondisinya sekarang yang jauh dari kata baik-baik saja.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2