Gairah Liar Istri Kedua

Gairah Liar Istri Kedua
Bab 27: Putra Nyonya Marissa


__ADS_3

"Nona, sebenarnya anakmu masih hidup. Saat Tuan dan Nyonya besar meminta saya untuk membunuhnya. Saya tidak melakukannya, karena saya tidak tega untuk membuang apalagi membunuh bayi yang tidak berdosa. Dan bayi itu berjenis kelamin laki-laki."


Seperti mendapatkan oasis di tengah padang pasir yang gersang, setelah mendengar penuturan wanita di depannya. Rasanya Nyonya Marissa tidak percaya saat mendengar jika bayi yang ia lahirkan malam itu masih hidup, karena setahunnya bayi itu telah meninggal dunia.


"Lalu di mana anak itu sekarang?" Tanya Nyonya Marissa.


Wanita tua itu menggeleng. "Saya juga tidak tahu, apakah dia masih ada di China atau tidak. Tapi saya pernah mendengar, jika anak itu saat ini ada di Korea." Ucapnya.


"China?! Apa maksudmu orang yang mengadopsi putraku adalah orang China?" Wanita tua itu mengangguk membenarkan.


"Bener Nyonya, pada saat itu saya memberikan putra Anda yang baru saja dilahirkan pada sepasang suami istri asal China. Awalnya saya ingin meletakkan bayi itu di teras panti asuhan, akan tetapi hal itu saya urungkan karena saya sendiri bingung takut jika Nyonya dan tuan besar sampai tahu. Mereka bisa berbuat nekat jika mengetahui bayi itu masih hidup." Jelasnya.


"Lalu Bagaimana ceritanya anakku bisa berada di orang China?"


"Sebenarnya pasangan itu adalah mantan majikan saya, abangnya sayur aku mereka akan menerima bayi itu. Tetapi melihat bayi Anda yang tampan dan sehat, akhirnya mereka setuju untuk mengadopsinya lalu membawa bayi itu ke Cina." Ujarnya.


"Apa kau memiliki alamat keluarga yang mengadopsi putraku?"


Wanita tua itu menggeleng. "Tidak Nona, sudah sangat lama saya tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga itu." Jelasnya.


"Lalu apa kau mengetahui nama marga yang mengadopsi anakku?" Tanya Nyonya Marissa.


Perempuan itu kemudian mengangguk. "Ya saya tahu nama marganya. Keluarga itu bermarga Xi," jawabnya dan membuat kedua mata nyonya Marissa membelalak sempurna.


"A..Apa, yang mengadopsi putraku bermarga Xi?" Mantan pembantu itu mengangguk membenarkan.


Tubuh Nyonya Marissa lemah seketika, jika yang mengadopsi putranya bermarga Xi, ada kemungkinan besar jika putranya adalah Kevin. Meskipun ia sendiri tidak yakin, apalagi yang bermarga Xi di China bukan hanya keluarga Kevin saja.


Tetapi jika putranya yang selama ini hilang benar-benar adalah dia, maka pernikahan antara Kevin dan Ellena adalah adalah sesuatu yang tidak benar. Tapi Nyonya Marissa tidak akan bertindak gegabah, dia akan menyelidiki dan mencari tau terlebih dulu.

__ADS_1


"Nona, apa yang anda lamunkan?"


Nyonya Marissa menggeleng. "Bukan apa-apa," dan tanpa mengatakan apapun lagi, ia beranjak dan pergi begitu saja. Nyonya Marissa bersumpah, jika dia akan menemukan kembali putranya.


-


-


Leo mendatangi perusahaan Kevin. Dia ingin meminta pada pria itu agar meninggalkan Ellena mengembalikan dia padanya. Karena menurut Leo, hanya dia yang layak dan pantas bersanding dengannya. Akan tetapi, bertemu dengan Kevin bukanlah perkara yang mudah. Tanpa membuat janji terlebih dahulu, Leo tidak mungkin bisa menemuinya.


"Maaf, Tuan. Tetapi Presdir kami sedang sibuk dan beliau tidak bisa diganggu, Jika anda ingin bertemu dengannya, sebaiknya buat janji terlebih dahulu." Ucap seorang resepsionis pada Leo.


"Kenapa harus membuat janji segala, aku ini mengenal Presdir perusahaan ini dengan baik. Katakan saja padanya jika Leo ingin bertemu, dia pasti akan langsung menerimaku!!" Leo bersikeras.


Resepsionis itu menggeleng. "Maaf, Tuan. Ini adalah pesan langsung dari Presdir, jika bukan tamu Yang penting. Saya tidak bisa menerimanya begitu saja tanpa ada janji terlebih dahulu!!"


Menggebrak meja resepsionis dengan keras. Dia benar-benar kesal setengah mati, rasanya ia ingin sekali menghancurkan apapun yang ada di tempat ini, akan tetapi Leo masih waras, Jika dia sampai melakukannya maka akan panjang urusannya.


"Aku akan menunggu saja sampai dia keluar dengan sendirinya!!"


"Itu terserah Anda, Tuan. Kalau begitu silakan Anda menunggu di sana saja."resepsionis itu menunjuk sofa merah yang ada di sudut ruangan.


Sementara itu...


Kevin baru saja mendapatkan laporan dari asisten pribadinya jika Leo datang ingin bertemu dengannya. Tapi sayangnya Kevin tidak mau menemuinya, jangankan untuk bertemu dan berhadapan dengannya, baru melihat mukanya dari kejauhan saja dia sudah merasa muak. Pria itu penuh drama dan tipu daya.


"Usir dia pergi dari sini, katakan saja padanya jika aku tidak ingin menemuinya!!" Pinta Kevin.


Alex mengangguk. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." kemudian Alex yang membungkuk pada Kevin dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Tanpa bertemu dengan Alex sekalipun, aja Kevin tahu apa maksud dan tujuannya datang menemuinya. Itu pasti ada hubungannya dengan Ellena, dan Kevin tidak ingin menanggapinya.


"Aku melihat Alex di luar, untuk apa dia datang ke perusahaanmu?" Tegur seseorang dari arah pintu.


Kevin mengangkat wajahnya dan mendapati Ellena berjalan menghampirinya. "Alex memberitahuku Jika dia datang untuk bertemu denganku," ucapnya.


"Ingin bertemu dengan mu? Mmangnya untuk apa?" Tanya Ellena penasaran.


Kevin menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, mungkin saja ada hubungannya denganmu. Pasti dia ingin meminta supaya aku dan kau berpisah, lalu mengajakmu untuk kembali lagi seperti dulu." Ucapnya.


"Aku tidak sudi!! Untuk apa aku melepaskan batu mulia hanya demi batu kerikil. Aku tidaklah sebodoh itu, Key. Lagi pula aku tidak sudi bersama dengan pria pengecut dan tukang selingkuh seperti itu." Tutur Ellena.


Kevin mengulurkan tangannya pada Ellena lalu menuntun wanita itu untuk duduk di pangkuannya. Seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Ellena datang mengantar makan siang untukmu.


"Tidak perlu membahas dia lagi, kau datang untuk mengantarkan makan siang kan?" Ellena mengangguk. "Kalau begitu aku akan mengambil makanan pembuka aku sekarang!!"


Dengan refleks Ellena memeluk leher Kevin ketika pria itu memagut dan mel*mat bibirnya dengan lembut. Sebelah tangan Kevin menekan tengkuk Ellena, sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang rampingnya. Ciuman yang awalnya begitu lembut berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.


Kevin terus mel*mat bibir ranum Ellena, atas bawah bergantian. Tak ada penolakan sama sekali, Ellena justru menerima ciuman tersebut dengan baik. Tak hanya puas berciuman saja, tangan Kevin mulai bergeliar nakal dipunggung Ellena yang tertutup oleh kain dress-nya.


Dan disaat pasangan itu sedang berciuman panas. Tiba-tiba pintu ruangan Kevin terbuka dan membuat orang yang berdiri diambang pintu sampai menelan ludah. Tak ingin terlihat konyol dan seperti orang bodoh. Kris pun memutuskan untuk langsung pergi.


Awalnya Kris datang untuk bertemu dengan Kevin. Tetapi dia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan adiknya itu ketika melihat adegan panas di dalam sana. Kris tidak ingin menjadi kambing congek karena melihat dan menunggu pasangan yang sedang berciuman.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2