
"Key, siapa orang-orang ini? Kenapa mereka ada di rumah baru kita?"
Ellena menatap bingung pada suaminya, dia bertanya-tanya akan keberadaan beberapa pria asing di kediaman baru mereka. Mereka terlihat menyeramkan, bertubuh tinggi besar, berwajah sangar dan berpakaian formal, seperti para mafia yang ada di film-film.
"Mereka adalah orang-orangku, aku sengaja menempatkan mereka disini untuk melindungimu. Kau adalah istriku, dan bagiku keselamatanmu adalah yang paling utama!!" Jawab Kevin mejelaskan.
Ellena menggeleng. "Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, memangnya perlu ya sampai seperti ini?! Apa karena kau takut jika orang yang tidak menyukaimu akan melampiaskan sakit hatinya padaku?"
"Lebih dari itu," jawab Kevin menimpali.
Ellena diam dan tidak memberikan respon apapun mendengar apa yang baru saja Kevin katakan. Apa begitu besar arti dirinya bagi pria di depannya ini, sampai-sampai Kevin tidak ingin jika dirinya terluka dan tersakiti. Sudut bibir Ellena tertarik keatas, ia kemudian berhambur ke pelukan suaminya.
"Terima kasih karena sudah menjadikanku sebagai prioritas utamamu," ucap Ellena sambil mengeratkan pelukannya.
Kevin mencium kening Ellena lalu membalas pelukannya. "Sama-sama Sayang, semua itu aku lakukan semata-mata karena aku peduli padamu." Jawab Kevin sambil mengeratkan pelukannya.
Ellena tersenyum lebar. Wanita itu melonggarkan kepalanya lalu mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam biner mata Kevin yang selalu dingin dan datar. Senyum kembali menghiasi bibir ranum tipis Ellena.
"Ayo masuk ke dalam, aku sudah tidak sabar ingin melihat keadaan rumah baru kita." Ucapnya dan kemudian dibalas anggukan oleh Kevin. Keduanya kemudian berjalan beriringan memasuki rumah mewah yang memiliki tiga lantai tersebut.
Di rumah itu mereka berdua akan memulai hidup barunya. Karena hidup secara mandiri akan mengajarkan mereka berdua menjadi lebih dewasa.
-
-
Ella meninggalkan ruang operasi dengan wajah bengkak dan penuh perban. Demi melancarkan rencananya, Ella melakukan perombakan besar pada wajahnya dengan melakukan operasi plastik agar dirinya tak dikenali lagi.
Dengan wajah barunya itu, Ella akan masuk ke dalam kehidupan Kevin dan Ellena. Dia akan memulai balas dendamnya pada wanita itu lalu merebut Kevin kembali, karena hanya dia yang layak menjadi pendamping hidup Kevin.
__ADS_1
"Berapa lama bengkaknya akan sembuh dan hasilnya terlihat?" Tanya Ella sambil melihat wajahnya dari cermin.
"Bisa hitungan hari, Minggu bahkan bulan. Tergantung kondisi bengkaknya." Jawab seorang suster yang ada di depan Ella.
"Apa tidak bisa dipercepat lagi? Misalnya kurang dari satu Minggu?" Tanya Ella.
Suster itu menggeleng. "Tidak bisa, sebaiknya minum obatnya. Aku permisi dulu," suster itu beranjak dari hadapan Ella dan pergi begitu saja.
Ella memperhatikan kondisi wajahnya sekali lagi. Seringai sinis tersungging di bibirnya. Kali ini dia akan jauh lebih cantik dari Ellena, dan sudah bisa dipastikan jika Kevin akan jatuh cinta dan tertarik padanya.
"Ellena Valerie, lihat bagaimana aku akan merebut kembali Kevin dari pelukanmu. Karena sampai kapanpun juga, hanya aku satu-satunya yang layak bersanding dan sebanding dengannya, bukan dirimu!!"
-
-
"Tuan, Minggu lalu salah satu anak buah saya tidak sengaja melihat wanita itu ada di kota ini. Dia mendatangi salah satu rumah sakit terbesar di kota ini dan menurutnya, Nona Ella pergi menemui dokter spesialis bedah plastik."
"Segera selidiki dan cari tau apa yang dia lakukan di rumah sakit itu. Laporkan padaku dengan segera!!"
Laki-laki berkaca mata itu lantas mengangguk. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Kevin mengangguk. Dia yakin jika Ella sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik. Dia harus tau sebelum ada masalah besar yang terjadi.
Jika memang seperti apa yang dia pikirkan. Tentu saja Kevin tak tinggal diam. Jika Ella berani melakukan sesuatu yang bisa mengancam keselamatan Ellena, maka dengan tangannya sendiri dia akan menyingkirkannya. Kevin tak akan membiarkan dia hidup.
-
-
"Yakkk!! Gosong lagi, gosong lagi!!"
__ADS_1
Ellena menatap nanar pada beberapa telor mata sapi yang tampak menghitam diatas piring. Ia mencoba menyiapkan makan malam dengan membuat telor mata sapi. Bukannya mendapatkan hasil seperti yang dia harapkan. Semua telor yang dia masak malah gosong semua.
Ia juga ingin seperti para istri yang lain. Berguna dan bisa melayani suaminya dalam segala situasi dan kondisi. Pandai melakukan pekerjaan rumah, salah satunya adalah memasak. Tapi memasak justru menjadi kelemahan Ellena.
Dia memang sangat payah dalam pekerjaan rumah tangga yang satu itu. Meskipun demikian, tetapi Ellena sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Kevin. Salah satunya dengan menyiapkan sarapan ataupun makan malam, tapi nyatanya hasil yang dia dapatkan tak seperti yang diharapkan.
"Ell, apa ini?" Kaget Kevin setibanya di rumah dan mendapati banyak telor gosong diatas piring.
Ellena menghampiri Kevin dan menghela napas berat. "Awalnya aku ingin menyiapkan makan malam untukmu, tapi malah gagal total. Semua telor yang aku masak gosong dan tidak layak makan." Ujarnya.
Kevin mendengus berat. "Kenapa masih memaksakan diri?! Aku tidak pernah menuntutmu harus bisa memasak, kalau begitu kita makan malam di luar saja, atau mungkin biar aku saja yang memasak untukmu?"
Mata Ellena seketika berbinar mendengar penawaran Kevin. Wanita itu mengangguk dengan semangat, apalagi Ellena sangat tau bagaimana rasa masakan Kevin. Dibandingkan dirinya, tentu Kevin lebih jago memasak.
"Boleh, kau harus membuatkanku spaghetti bolognese."
Kevin mengangguk seraya mengusap kepala coklat Ellena penuh sayang. "Baiklah, kalau begitu aku ganti baju dulu." Kemudian Kevin meninggalkan Ellena begitu saja. Sambil menunggu Kevin kembali, Ellena membantu menyiapkan bahan-bahannya supaya nanti saat Kevin kembali dia tinggal memasaknya saja.
Dan tak butuh waktu lama. Kevin terlihat menuruni tangga rumah baru mereka dengan pakaian berbeda. Celana hitam dan kemeja abu-abu gelap lengan terbuka. Kevin menghampiri Ellena yang tampak begitu antusias menunggu dirinya.
"Aku sudah menyiapkan bahan-bahannya, kau masaklah dengan tenang. Biar aku yang menyiapkan buah untuk cuci mulut," ucap Ellena yang kemudian dibalas anggukan oleh Kevin.
Wanita itu mengeluarkan beberapa buah berbeda dari dalam kulkas seperti anggur, apel, melon dan mangga. Setelah mencuci buah-buahan itu sampai bersih dan mengupasnya, kemudian dia menyusunnya di dalam sebuah mangkok buah. Apel dan melon dia potong dadu, sedangkan anggur Ellena biarkan tetap utuh.
Dan setelah lebih dari 30 menit. Masakan Kevin selesai, selanjutnya Kevin dan Ellena melewati makan malamnya dengan tenang. Tak ada lagi perbincangan hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
-
-
__ADS_1
Bersambung.