Gairah Liar Istri Kedua

Gairah Liar Istri Kedua
Bab 26: Ella Kena Mental


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa pernikahan Kevin dan Ellena sudah memasuki bulan ke lima.


Dan selama lima bulan berumah tangga, tak pernah sekalipun terjadi perselisihan diantara mereka berdua, baik itu dari hal terkecil sekalipun. Karena Kevin selalu mengalah pada Ellena, bagi Kevin menjaga perasaan Ellena adalah yang paling utama.


Ellena menghampiri Kevin yang sedang bertelepon dengan seseorang. Dia sendiri tidak tau siapa yang Kevin hubungi, tapi dari ekspresi yang dia tunjukkan, sepertinya mereka membahas sesuatu yang sangat penting.


"Nanti aku akan menghubungimu lagi. Dan pastikan barang itu berada di tanganku malam ini juga!!" Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja lalu menyimpan kembali ponselnya di saku celananya. Ia berbalik badan dan sebuah pelukan hangat menyambutnya.


"Aku rindu, mama. Ayo pergi mengunjunginya."


Jari-jari besar Kevin membelai rambut panjang Ellena dengan penuh kelembutan. Sepasang biner matanya yang biasanya selalu terlihat dingin memancarkan kehangatan. Sedangkan Ellena yang ditatap seperti itu oleh Kevin langsung memerah.


"Huh, jangan menatapku seperti itu, Tuan Muda Xi. Kau membuatku merinding!!" Ucap Ellena mencibir.


"Dasar kau ini, itu namanya tatapan cinta. Memangnya salah ya jika seorang suami menatap istrinya dengan penuh cinta?" Ellena menggeleng. "Lalu kenapa kau malah melayangkan protes padaku karena aku menatapmu dengan penuh cinta?"


"Aku tidak memprotesmu!! Aku hanya gugup saja. Apalagi kau jarang sekali menunjukkan tatapan seperti itu, lihatlah bulu kudukku sampai berdiri," ujar Ellena. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya.


Alih-alih marah dan kesal karena sudah dijitak oleh Kevin. Wanita itu malah terkekeh geli, ia membuka lebar-lebar kedua tangannya lalu berhambur ke dalam pelukan Lucas. "Dasar kau ini," ucap Lucas lalu membalas pelukan Ellena.


Ellena memeluk suaminya dengan erat. Saat ini mereka berdua sedang berada di ruangan kerja Kevin, Ellena sengaja datang mengantar makan siang untuk dia. Sudah sejak seminggu yang lalu. Kevin sibuk dikantornya, dia selalu berangkat pagi dan pulang menjelang malam.


Cklekk...


Perhatian keduanya teralihkan oleh suara decitan pada pintu. Terlihat seorang wanita memasuki ruangan tersebut, dan siapa lagi wanita itu jika bukan Ella.


Alih-alih melepaskan pelukannya. Ellena malah semakin menjadi-jadi dengan mencium bibir Kevin. Tentu saja dia melakukannya dengan sengaja. Tujuan Ellena adalah membuat Ella panas dan terbakar api cemburu.


Ellena terus memagut bibir Kevin, dan parahnya lagi Kevin malah membalasnya dengan mel*mat bibir Ellena. Dan tentu saja itu membuat Ella semakin panas, dia benar-benar kena mental terlebih lagi saat Kevin memperdalam ciumannya dan membunuh jarak diantara mereka berdua.

__ADS_1


Tak tahan melihat kemesraan mereka berdua. Ella pun memutuskan untuk pergi dari ruangan Kevin. Niat awalnya dia datang untuk menggoda dan membujuk Kevin, tapi diluar dugaannya, ternyata Ellena ada di dalam.


Saat Ella sudah tidak ada lagi, buru-buru Ellena melepaskan ciumannya. Dia tertawa keras sambil memegangi perutnya. Sedangkan Kevin hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dan tentu saja Kevin tau apa maksud Ellena menciumnya tadi, yakni semata-mata demi membuat Ella kesal dan cemburu.


"Apa kau sudah puas sekarang?" Ucap Kevin sambil menyentil gemas kening Ellena. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Puas sekali, ya meskipun belum puas-puas amat sih. Tapi nanti kita lanjutkan lagi, terimakasih sudah membantuku. Kau memang yang terbaik, Key. Aku semakin mencintaimu."


"Terserah kau saja. Kau lapar tidak? Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?" Usul Lucas.


Ellena mengangguk setuju. "Boleh-boleh, kebetulan aku memang lapar." Jawab Ellena menimpali.


Lucas melepas jasnya lalu menggantungnya di Mannequin di samping meja kerjanya. Mengisahkan kemeja putih lengan panjang dan Vest V-neck abu-abu gelap yang senada dengan jas dan celana bahannya.


"Kali ini percobaanku membuat telor mata sapi berhasil. Ya meskipun aku sendiri tidak yakin dengan rasanya. Tapi lumayan karena berhasil."


Ellena menyusun semua makan siang yang ia bawa diatas meja, salah satunya adalah dua telor mata sapi yang ia masak dengan sangat bersusah payah. Meskipun hasilnya masih jauh dari kata sempurna, tapi lebih baik dari sebelumnya. Karena yang sebelumnya gosong dan tidak bisa dimakan.


"Kevin, jangan!!" Seru Ellena ketika Kevin hendak mengambil telor itu dan memakannya. Mata pria itu memicing. "Kenapa?"


"Aku masih tidak yakin dengan rasanya. Sebaiknya tidak usah dimakan dan lebih baik kita makan siang yang makanan dari restoran saja." Ucapnya.


"Kenapa memangnya, toh ini kau membuatnya juga dengan cinta. Lagipula tidak ada ceritanya jika orang akan mati hanya kerena makan telor mata sapi yang gagal dimasak. Dan terlalu sayang jika makanan yang sengaja kau siapkan untukku harus terbuang sia-sia tanpa tersentuh sama sekali." Ujar Kevin panjang lebar.


Mata Ellena langsung berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja Kevin sampaikan. Dia begitu terharu dengan apa yang pria itu katakan. Apa sebegitu besar rasa cinta yang Kevin miliki untuknya, dan seharusnya Ellena tak perlu bertanya-tanya lagi, karena memang sebesar itu cinta yang Kevin miliki untuknya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Ellena menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa terharu saja. Ayo kita makan sekarang, aku sudah sangat lapar." Ucapnya. Kevin mengangguk, lalu keduanya menikmati makan siangnya dengan tenang.

__ADS_1


-


-


"Nyonya, kita sudah sampai."


Nyonya Marissa segera turun ketika sang sopir membukakan pintu untuknya. Hari ini dia pergi untuk menghadiri sebuah acara amal, yang merupakan rutinitas rutin yang selalu dia lakukan setiap bulannya. Kali ini tempatnya di Busan.


Ibu satu anak itu memasuki sebuah bangunan yang memiliki dua lantai. Itu adalah sebuah panti asuhan. Ya, disinilah acara amal kali ini diadakan. Rencananya Nyonya Marissa hendak memberikan bantuan untuk biaya sekolah anak-anak panti.


Tappp...


Langkah kakinya terhenti saat ia berpapasan dengan seorang wanita yang sama sekali tak asing baginya. Sama halnya nyonya Marissa, dia pun terkejut. "Nona besar," ucap wanita itu yang merupakan mantan asisten rumah tangga yang dulu pernah bekerja di rumahnya.


"Bibi Wang, kau kah ini!" Tanya Nyonya Marissa memastikan.


"Ya, Nyonya. Ini saya, Wang Liuni. Nona masih ingat pada saya."


"Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Orang yang paling aku percaya dan juga paling aku benci!!" Jawab Nyonya Marissa menimpali.


Wang Liuni tau betul kemana arah pembicaraan wanita di depannya ini. Dan dia memang pantas mendapatkan kebencian dari mantan Nonanya ini.


Karena dialah orang yang telah memisahkan Nyonya Marissa dari anaknya puluhan tahun lalu atas perintah kedua orang tua Marissa. Karena menurut mereka berdua, anak itu adalah musibah dan aib keluarga karena lahir diluar nikah.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2