Gairah Liar Istri Kedua

Gairah Liar Istri Kedua
Bab 31: Kebahagiaan Yang Sempurna


__ADS_3

Positif...


Hasil DNA membuktikan jika Kris benar-benar putra Nyonya Marissa yang hilang puluhan tahun yang lalu. Antara sedih, bahagia, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Saking bahagianya Nyonya Marissa sampai tidak bisa berkata-kata, yang dia rasakan saat ini terlalu luar biasa.


Wanita itu menghampiri Nyonya Xi dan mereka berdua berpelukan. Tangis Nyonya Marissa pecah seketika, begitupula dengan Nyonya Maria, wanita itu ikut menangis juga. Tentu saja bukan tangis sedih melainkan tangis bahagia.


"Maria, akhirnya aku berhasil menemukan putraku yang hilang. Kris, ternyata dia memang putraku, anak kandungku!!!"


Nyonya Maria mengangguk. "Kau bisa merasa lega sekarang. Karena putramu tumbuh menjadi pria yang sangat hebat, luar biasa dan yang terpenting dia baik serta memiliki etika yang tinggi."


"Itu semua berkat didikan kalian berdua. Jika kalian tidak mendidiknya dengan baik, tidak mungkin putraku bisa tumbuh menjadi pria yang hebat dan luar biasa.", Tuturnya.


"Mama,"


Perhatian keduanya teralihkan oleh seruan seseorang dari arah belakang, Nyonya Marissa menoleh dan mendapati Kris berjalan menghampirinya. Wanita itu terpaku ketika terus tiba-tiba berlari dan memeluknya, yang pelukan itu refleks dibalas oleh Nyonya Marissa


Air mata Nyonya Marissa tak bisa terbendung lagi. Dia pikir dia telah kehilangan putra pertamanya, tetapi tuhan begitu baik hingga mempertemukan mereka kembali setelah berpuluh-puluh tahun berpisah. "Kris, putraku." Ia memeluk Kris dengan erat. Ia sungguh tidak percaya dengan respon yang diberikan oleh Kris. Ia pikir ia akan membencinya. Tapi ternyata tidak.


Bukan Tanpa alasan memang semua itu berkat campur tangan Nyonya Maria, tanpa penjelasan mungkin sampai sekarang Kris belum tau jika Nyonya Marissa lah ibu kandungnya yang sebenarnya. Sebenarnya Kris sudah lama merasakan getaran aneh ketika berpandangan dengan Nyonya Marissa. Namun dia tidak tahu getaran Apa itu.


Dan sampai akhirnya Nyonya Maria memberitahunya jika Nyonya Marissa adalah ibu kandungnya. Kris benar-benar merasa bahagia karena memiliki dua ibu yang begitu baik dan sangat menyayanginya.


"Ja..Jadi kau adalah Mamaku? Mama yang telah melahirkanku?" Nanya Marissa mengangguk, membenarkan apa yang Kris katakan.


"Benar, Nak. Aku adalah ibumu, ibu kandungmu. Orang yang telah melahirkanmu, Kris." Ucap Nyonya Marissa.


Rasa haru tak hanya dirasakan oleh ibu dan anak tersebut, tetapi semua orang yang ada di sana termasuk Kevin dan Ellena. Mereka berdua juga datang ke rumah sakit tempat Nyonya Marissa melakukan tes DNA.


Ellena terkejut, bahagia juga tidak percaya jika ternyata dia memiliki seorang kakak. Dan parahnya lagi, kakaknya itu adalah orang yang selama ini berstatus sebagai kakak iparnya. Namun disisi lain dia juga merasa bahagia karena memiliki kakak sebaik Kris.


Lengkap sudah kebahagiaan yang dirasakan oleh Nyonya Marissa. Bagaimana tidak, tak lama lagi dia akan menerima cucu pertamanya lalu putranya yang hilang selama puluhan tahun akhirnya bisa ia temukan kembali.


"Ma, kita harus merayakan momen bahagia ini." Ucap Ellena memberi usul.


"Bukan ide yang buruk. Kita makan besar di restoran bintang lima. Biar mama yang traktir." Ucap Nyonya Marissa menimpali.


Ellena dan Kris saling bertukar pandang. Kakak beradik itu sama-sama tersenyum dan.... "Setuju!!" Berseru dengan kompak.


.


.


Usai merayakan momen bahagia tersebut, Kevin dan Ellena memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Ellena mengatakan Jika dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Sejak kehamilannya memasuki usia ke lima, Ellena memang mudah merasa lelah. Dan setelah menempuh perjalanan selama kurang dari tiga puluh menit, keduanya tiba di rumah.


Ellena langsung pergi ke kamarnya sementara Kevin pergi ke dapur. Dia terlalu banyak minum malam ini, dan Kevin berencana untuk menetralkan alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya dengan air kelapa.


Di kamar, Ellena langsung tertidur pulas. Dia benar-benar lelah, sampai-sampai wanita itu tidak mengganti pakaiannya terlebih dulu. Ellena tidur dengan pakaian yang sama seperti yang ia pakai sebelumnya.


Pintu kamar terbuka dan sosok Kevin memasuki kamar bernuansa putih gold tersebut.


Di bibir Kevin tertarik ke atas melihat wajah polos Ellena yang sedang terlelap. Lelaki itu mendekati sang istri lalu duduk di samping ia berbaring. Dengan lembut Kevin membelai dan mengusap kepala Ellena, hatinya menghangat melihat wajah polos Ellena ketika sedang terlelap.


Lalu pandangan Kevin bergulir pada perut wanita itu yang sedikit membuncit, Kevin mengusap perut Ellena dengan lembut. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan buah hatinya 4 bulan lagi. "Sehat-sehat di dalam sana, Nak. Dan jaga baik-baik mamamu," lalu Kevin membungkuk untuk mencium perut Ellena.

__ADS_1


Pria itu beranjak dari duduknya lalu melenggang ke arah kamar mandi. Kevin berniat untuk mandi terlebih dulu sebelum pergi tidur. Tubuhnya berkeringat dan itu membuatnya kurang nyaman.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Kevin kemudian berbaring di samping Ellena. Satu kecupan ia daratkan pada kening wanita itu sebelum dia menutup mata dan pergi ke alam mimpi mengikuti jejak Ellena.


-


-


Tubuh Alex gemetar hebat saat duduk berhadapan dengan seorang wanita bernama Vania. Orang yang Ellena dan Kevin jodohkan dengan Kevin. Perempuan di depannya ini sangat cantik, persis seperti yang ada dimimpinya. Dan dipandang dengan senyum lembut oleh Vania membuat tubuh Alex berkeringat tak karuan.


Vania menatap pria itu dengan bingung. "Kau baik-baik saja?" Ucapnya memastikan.


Alex mengangguk. Meyakinkan pada Vania Jika ia baik-baik saja. "Ya, baik-baik saja. Vania, silahkan pesan apapun yang kau inginkan. Biar aku yang mentraktirmu." Ucap Alex berusaha tenang.


Vania menggeleng. "Nanti saja, ada hal serius yang harus aku sampaikan padamu. Aku setuju dengan rencana perjodohan ini. Tapi bisakah kau menikahiku setelah Ellena melahirkan? Aku ingin momen bahagia kita disaat keluarga kecilnya sudah lengkap."


Alex mengangguk dengan cepat. "Tidak masalah, yang penting kau setuju aku sudah sangat senang." Ucap Alex begitu bersemangat.


Dan mereka berdua pun sudah sepakat untuk menikah setelah Ellena lahiran, karena di moments bahagia itu Vania ingin keluarga Ellena sudah lengkap dan sempurna.


-


-


Hari demi hari Ellena lewati dengan mulus tanpa masalah sedikit pun. Sudah tidak ada lagi benalu-benalu yang mengusik ketenangan rumah tangganya dengan Lucas, dan usia kandungan Ellena sudah memasuki trimester ke tiga. Dan waktu persalinan pun semakin dekat.


Kini Kevin lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, dia tidak tega jika harus meninggalkan Ellena sendirian dalam keadaan perut sebesar itu. Apalagi dokter mengatakan jika persalinan Ellena hanya menunggu waktu saja, entah siang atau malam.


Wanita itu mengangguk. "Sakitnya semakin menjadi, dan k*ntraksinya juga semakin sering." Jawabnya.


"K*ntraksi? Kau sudah mulai merasakan k*ntraksi? Sejak kapan, kenapa tidak memberitahuku?" Ucap Kevin.


"Dari semalam, baru sedikit k*ntraksi. Tapi sekarang sudah semakin parah," jawabnya.


"Lalu tunggu apa lagi, kita ke rumah sakit sekarang juga." Tanpa membuang banyak waktu, Kevin segera membawa Ellena ke rumah sakit. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan istri dan calon buah hatinya.


.


.


Nyonya Marissa dan Nyonya Maria berlari-lari menyusuri lorong rumah sakit. Keduanya langsung pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika Ellena akan segera melahirkan. Dibelakang dua wanita itu tampak Kris yang ngos-ngosan karena mereka meninggalkannya.


Tak terlihat sosok Kevin di depan ruang bersalin. Karena pria itu ikut masuk ke dalam menemani Ellena. Dia tidak tega jika harus membiarkan sang istri berjuang sendiri ketika melahirkan anak mereka.


Sementara itu...


Ellena mencoba mengatur napasnya yang tersengal, menghitung setiap tarikan dan hembusan untuk menstabilkan dirinya agar tidak panik. Rasa sakit yang tidak pernah terbayangkan olehnya, bahkan berkali-kali lipat menghantam tubuhnya, jika diibaratkan seperti rahimnya mau runtuh.


Kram di perutnya hampir membunuh kesadaran Ellena, ia kelelahan, jiwa dan raganya sungguh tidak mampu bertahan lagi. Tetapi dia harus tetap bertahan karena ada yang harus dia perjuangkan.


Disampingnya, Kevin berusaha menguatkan Ellena yang seperti sudah tak mampu bertahan lagi. Kevin menggenggam tangan Ellena agar tetap kuat, kalimat-kalimat menenangkan tak henti-hentinya dia bisikkan di telinga wanita itu. Meyakinkan pada Ellena jika semua akan baik-baik saja.


"Aghhh..."

__ADS_1


Ellena terus mengerang. Setiap detik memberikan ketegangan, Kevin tidak kuat mendengar suara kesakitan itu, begitu menusuk telinganya.


Tangan Kevin diremas begitu kuat oleh Ellena, bahkan sangat erat hingga ia berharap agar gadis itu tidak meremukkan tulang tangannya. K*ntraksi Ellena semakin parah, dia sudah pembukaan penuh dan para tim medis telah bersiap untuk membantu proses persalinannya.


Semua telah dipersiapkan. Para tim medis pun sudah diposisi masing-masing dan Kevin sedang menggenggam tangan Ellena dengan kuat. Nyawanya seperti tertarik keluar dari tubuhnya saat melihat langsung pers*linan Ellena.


Sedangkan di luar ruang pers*linan. Nyonya Maria dan Nyonya Marissa tampak panik. Sudah hampir satu jam belum ada tanda-tanda jika bayinya telah dilahirkan sampai akhirnya...


"OEEE...OEEE... OEEE..."


Terdengar suara bayi menangis dari dalam ruang persalinan, mereka berdua pun merasa lega begitu pula dengan Kris. Pria itu langsung menangis histeris saking bahagianya.


Di dalam ruang pers*linan, Kevin langsung jatuh lemas setelah proses pers*linan selesai. Sangat panjang dan juga berat, kini dia tau betapa berat perjuangan seorang Ibu. Ia bangkit dari posisinya lalu menghampiri Ellena lalu mengecup keningnya.


"Dia lahir dengan sehat dan selamat. Selamat, Sayang, kau adalah pemenang."


Sang pewaris dari seluruh kekayaan Xiao telah lahir. Seorang putra pertama yang nantinya akan mewarisi semua kekayaan sang ayah. Dan Kevin berharap semoga kelak sang putra menurun sifat ibunya, bukan sifatnya.


Semua segera menemui Ellena setelah dia dipindahkan ke ruang inap. Nyonya Marissa dan Nyonya Maria sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertama mereka. Baby Xi akan menjadi kesayangan mereka semua nantinya. Kyra dan Kris jadi ingin memiliki anak juga saat melihat Baby Xi.


"Ayo semua berkumpul. Kita harus mengabadikan momen ini." Seru Kris.


Moments seperti ini tentu saja tidak boleh di lewatkan. Harus segera diabadikan. Semua orang terlihat begitu bahagia, termasuk Ellena. Rasa sakit yang dia rasakan seolah memudar begitu saja. Tergantikan dengan kebahagiaan yang tak terkira.


Ellena dan Kevin saling bertukar pandang. Sebuah kecupan mendarat mulus di kening Ellena. Kevin tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya dengan kata-kata. Hidupnya terasa sempurna dengan kehadiran buah cintanya dengan Ellena. Semua terasa begitu luar biasa.


"Terimakasih telah membuat hidupku sempurna, sayang. Aku bahagia memiliki kalian berdua. Aku mencintaimu, Istriku."


"Aku juga mencintaimu!!"


-


-


Gugup terlihat jelas di raut wajah Alex. Seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Pernikahannya dan Vania dilangsungkan setelah Ellena melahirkan. Dan saat ini usia Baby Xi sudah genap lima bulan. Tak hanya Alex saja yang merasa gugup, tapi Vania juga.


Prosesi berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Alex dan Vania akhirnya resmi menjadi suami istri. Semua turut bahagia untuk mereka berdua.


"Selamat ya untuk kalian berdua. Jangan ditunda lagi segera launching baby-nya." Ucap Ellena lalu memeluk Vania.


"Kami memang tidak berencana untuk menundanya. Karena lebih cepat lebih baik." Jawabnya.


"Semua sudah disini, ayo kita berkumpul dan berfoto." Lagi-lagi Kris-lah yang menjadi pencetus pengabadian moments. Dia tidak ingin jika momen-momen seperti ini sampai terlewatkan.


Semua berkumpul jadi satu. Baby Xi tidak berada di pelukan orang tuanya tapi di pelukan kedua mempelai. Keduanya sangat bahagia, semua tersenyum dengan suka cita.


Ellena dan Kevin sama-sama tak menduga jika kebahagiaan mereka yang sempurna akan datang secepat ini. Semua rintangan yang mereka alami dimasa lalu membuat mereka menjadi dewasa. Dan kebahagiaan seperti ini benar-benar sempurna dan terasa luar biasa.


-


-


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2