Gairah Liar Istri Kedua

Gairah Liar Istri Kedua
Bab 30: Pernikahan Untuk Alex


__ADS_3

Hari demi hari terlewati dengan baik. Tak ada lagi masalah yang menerpa kehidupan Kevin dan Ellena, sejak kematian Ella beberapa bulan lalu, hidup mereka kini menjadi tenang, aman dan tentram. Tak ada lagi orang yang berusaha mengusik ketentraman rumah tangga mereka berdua, meskipun beberapa benalu mencoba mendekat dan mengusik. Namun bisa teratasi dengan mudah.


Tidak terasa usia kandungan Ellena memasuki bulan ke-4. Janin di dalam perutnya tumbuh dengan sehat, dan sudah bisa di pastikan jika dia berjenis kelamin laki-laki. Seperti yang Kevin harapkan.


"Kenapa?" Kevin menghampiri Ellena yang tampak meringis sambil memegangi pinggulnya.


"Uhh, pinggangku sakit." Jawab wanita itu sambil memegangi pinggangnya.


"Duduk dulu," Kevin menuntun Ellena dan memintanya untuk duduk.


Akhir-akhir ini Ellena memang sering mengeluhkan sakit pinggang, lebih tepatnya saat lebih tepatnya setelah usia kandungannya memasuki trimester kedua. Dan menurut dokter itu adalah hal yang wajar bagi ibu hamil. Tapi sayangnya rasanya sedikit menyiksa, dan terkadang membuat Ellena merasa tidak nyaman sama sekali.


"Apa memang begini rasanya orang sedang hamil, apa dulu saat sedang mengandungku, Mama juga sering mengeluhkan sakit pinggang?" Ellena penasaran.


Kevin Magelang. "Aku sendiri tidak paham, tapi mungkin saja. Sebaiknya duduk dulu, kau itu tidak boleh sampai kecapean, jadi jangan bandel dan nurut apa yang aku katakan!!" Ellena mengangguk, karena jika ia mengatakan tidak pasti Kevin akan menceramahinya panjang lebar.


"Tunggu sebentar, aku buatkan susu untukmu." Ucap Kevin, Ellena mengangguk.


Sembari menunggu Kevin, Ellena hendak melihat-lihat perlengkapan bayi di online shop. Ellena ingin sekali membelinya, akan tetapi waktu persalinannya masih lama, masih sekitar 5 bulan lagi. Dan terlalu awal Jika ia membelinya sekarang.


Tak sampai 10 menit, Kevin kembali dengan segelas susu hangat untuk Ellena. Karena Ellena tidak menyukai rasa vanila, jadi Kevin membuatnya yang rasa coklat. "Minum dulu," Kevin memberikan susu itu pada Ellena, wanita itu tersenyum lebar lali mengambil susu itu dari tangan Kevin.


"Tumben jam segini masih di rumah. Apa kau tidak ke kantor?" Tanya Ellena.


Kevin menggeleng. "Aku sengaja ambil cuti beberapa hari. Lagipula ada Alex yang bisa menghandle semua pekerjaanku di kantor." Jawab Kevin.


Ellena mengangguk paham. Alex memang selalu bisa diandalkan. Dia yang selalu membantu Kevin selama ini, dan tanpa adanya Alex, pasti suaminya sudah kalang kabut menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Sekali-kali kau harus memberikan cuti dan bonus pada Alex karena dia sudah banyak berjasa selama ini. Tanpa bantuannya, kau sudah kalang kabut tidak karuan." Ucap Ellena memberi saran.


Kevin mengangguk. "Itu juga yang aku pikirkan, Tapi sayangnya Alex tidak membutuhkan liburan dan bonus tambahan. Setiap kali aku memberikan bonus dia selalu menolak, dan alasannya karena gaji yang aku berikan setiap bulannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari." Ujar Kevin panjang lebar.

__ADS_1


"Lalu apa yang dia inginkan sebenarnya? Tidak mungkin dong dia tidak menginginkan apapun di dunia ini,"


"Ya, aduh satu hal yang sangat dia inginkan dan ingin segera ia wujudkan, yakni menikah dan membina rumah tangga."


"Jika memang itu keinginannya lalu kenapa tidak kau kabulkan saja, lagi pula uangmu juga tidak mungkin habis jika hanya untuk membuat pesta kecil-kecilan saja." Ucap Ellena.


"Uang memang tidak menjadi masalah bagiku, tapi masalahnya ada di mempelai wanitanya. Jangankan calonnya, teman wanita saja Alex tidak memilikinya, jadi bagaimana dia bisa menikah." Jelas Kevin menuturkan.


Alih-alih merasa prihatin, Ellena malah tertawa geli mendengarnya. Jika masalahnya ada di calon mempelai wanita maka Ellena bisa membantunya, kebetulan sekali dia juga memiliki seorang teman yang kebelet ingin segera menikah. Sama halnya dengan Alex, dia juga belum memiliki pasangan apalagi calon suami.


"Jika Itu masalahnya maka serahkan saja padaku, Aku memiliki seorang teman yang kebelet untuk segera menikah. Tapi sayangnya dia juga tidak memiliki calon, jadi bagaimana jika kita jodohkan saja mereka berdua?" Usul Ellena.


"Kedengarannya bukan ide yang buruk, kau atur saja pertemuan untuk mereka berdua. Dan jika keduanya sama-sama cocok, maka aku akan menikahkan mereka berdua dihari itu juga." Ucap Kevin.


"Setuju!! Baiklah, kalau begitu masalah ini serahkan saja padaku. Aku Pasti bisa menanganinya dengan baik," ucap Ellena dengan senyum yang sumringah.


Memang sudah saatnya Alex memiliki pasangan. Usianya sudah memasuki kepala tiga. Tetapi sampai detik ini dia belum juga memiliki pasangan, dan hal itulah yang membuat orang tua Alex merasa cemas dan khawatir, mereka takut jika putranya nantinya malah menjadi perjaka tua. Dan hal itu pula yang membuat Alex ingin segera menikah dan membina rumah tangga.


Kevin mendekati Ellena. "Benarkah?" Wanita itu mengangguk. Kemudian Kevin meletakkan tangannya di atas perut Ellena yang sedikit membuncit. Pria itu tersenyum lebar merasakan gerakan janin di dalam perutnya."Kau benar, Sayang. Aku juga merasakannya," jawab Kevin menimpali.


"Dia sangat aktif, yang tandanya dia tumbuh dengan sehat." Kevin mengangguk.


Dapat merasakan pergerakan janin Ellena di dalam perutnya, membuat Kevin dapat merasakan perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Rasanya begitu luar biasa sampai-sampai tidak bisa Kevin ungkapkan dengan kata-kata.


"Kenapa kau meneteskan air mata?" Ellena menatap Kevin dengan bingung.


Kevin menggeleng. "Ini sangat luar biasa, aku hanya merasa terharu merasakan pergerakannya." Jawab Kevin tersenyum.


Dan rasanya Kevin masih tidak percaya jika tak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah, hal luar biasa yang tidak pernah iya pikirkan sebelumnya. "Aku juga merasakan hal yang sama, dan aku berharap saat dewasa nanti dia tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti pada kita." Ucap Ellena, Kevin mengangguk.


Kemudian Kevin membawa Ellena ke dalam pelukannya, memeluk tubuh itu dengan penuh kehangatan dan kelembutan sambil sesekali mengecup keningnya. Ellena adalah sumber kebahagiaannya, dan Kevin akan melakukan apapun untuk membuat wanita itu selalu merasa bahagia.

__ADS_1


-


-


"Marissa, tumben sekali kau datang kemari? Ayo masuk."


Nyonya Xi mempersilahkan Nyonya Marissa untuk masuk ke rumahnya. Iya tidak tahu angin segar Apa yang membuat besannya itu jauh-jauh berkunjung ke negeri asalnya, yakni China.


"Maria, ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu. Dan ini mengenai Kris,"


Nyonya Xi yang bernama Asli Maria itu lantas memicingkan matanya dan menatap sahabat yang merangkap sebagai besannya itu penuh tanya. "Ada apa dengan, Kris? Apa dia membuat masalah saat berkunjung ke Korea bulan lalu?"


Nyonya Marissa menggeleng. "Bukan karena hal itu, tapi ini jauh lebih penting karena menyangkut kebenaran yang tidak pernah aku ketahui selama ini. Apakah dia adalah putra kandungmu?"


Ibu tiga anak itu memicingkan matanya mendengar pertanyaan Nyonya Marissa. Dia penasaran kenapa wanita itu tiba-tiba bertanya apakah Kris putra kandungnya atau bukan.


"Maria, Pasti kau bingung kenapa aku bertanya seperti ini. Aku kehilangan putraku hampir 30 tahun yang lalu sesaat setelah dia dilahirkan. Dan aku mendengar jika putraku itu diadopsi oleh pasangan dari keluarga Xi, jadi aku hanya ingin memastikannya saja benar Kris putra kandungmu atau bukan? Meskipun aku mengetahui kebenarannya, Aku tidak akan mengambil dia darimu. Aku hanya ingin tahu, dia itu benar putraku yang hilang atau bukan. Karena firasat seorang ibu tidak pernah salah."


Mendengar apa yang Nyonya Marissa katakan, membuat hati nyonya Maria terenyuh. Dia bisa ikut merasakan apa yang wanita itu rasakan, pasti sangat berat dipisahkan begitu lama dengan putra kandungnya sendiri.


"Ya, Kris memang bukan putra kandungku. Kami mengadopsinya ketika dia masih bayi, aku dan Marcell sudah lama menikah tetapi belum dianugerahi putra juga. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, dan dari Kris-lah kami berdua bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua."


"Jadi benar, Kris bukan putra kandungmu?"


Nyonya Maria mengangguk. "Kita lakukan tes DNA saja untuk membuktikan jika dia benar putramu atau bukan!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2