Gairah Liar Istri Kedua

Gairah Liar Istri Kedua
Bab 23:


__ADS_3

Ella segera menghentikan langkahnya ketika melihat Kevin yang baru saja turun dari mobil mewahnya. Dengan langkah lebar, pria itu berjalan memasuki gedung perusahaannya yang memiliki puluhan lantai. Ella pun segera mempercepat langkahnya supaya bisa mengejar Kevin.


Brugg...


Dengan sengaja Ella menabrakkan tubuhnya pada Kevin seperti yang ada di adegan film-film. Bukannya tangan hangat Kevin yang menangkapnya, malah lantailah yang menjadi pendaratan pertama pantat Ella. Wanita itu menatap kesal pada pria itu. Dan tanpa berkata sepatah kata pun, Kevin pergi begitu saja.


Dan bukan Ella namanya jika menyerah begitu saja. Ia bangkit dari posisinya dan bergegas mengejar Kevin yang sudah berjalan menjauh darinya. "Tuan, tunggu!!" Seru Ella. Membuat Kevin mau tidak mau menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Ucap Kevin dingin.


"Anda pasti Tuan Xiao, pemilik perusahaan ini. Perkenalkan, aku adalah Miska. Aku sekretaris baru di perusahaan ini. Tuan Frans yang menerimaku."


Kevin hanya menatap datar uluran tangan Ella tanpa berniat untuk membalasnya. "Oh, jadi kau sekretaris baru itu. Bekerjalah secara profesional dan jangan merugikan perusahaan ini, atau aku akan memecatmu secara tidak hormat!!" Ucapnya dan pergi begitu saja.


Rasanya Ella tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kevin tetap bersikap acuh dan dingin padanya? Sungguh sulit dipercaya, atau mungkin dia hanya berpura-pura bersikap acuh dan dingin padanya? Ella tidak akan menyerah apalagi sekarang ia memiliki ruang lebih untuk mendekati Kevin.


"Terus saja bersikap dingin dan acuh padaku, tapi lihat dan tunggu bagaimana seorang Ella akan membuatmu tergila-gila padaku, Xi Kevin!!"


-


-


Kabar tentang Ella yang sudah berhasil masuk ke dalam perusahaan milik suaminya telah sampai ke telinga Ellena. Dia mendapatkan kabar jika wanita itu masuk ke sana dan berkerja sebagai sekretaris.


Frans yang mengabarinya, tapi dia hanya bilang jika ada sekretaris baru di perusahaan dan tentu saja Ellena langsung tau siapa orang itu.


Setelah memagut dirinya di depan cermin guna memastikan penampilannya ada yang kurang atau tidak. Dan setelah dirasa tidak ada yang kurang, Ellena mengambil tasnya dan melenggang pergi. Dia akan menyusul Kevin di kantornya.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit berkendara. Ellena tiba di kantor suaminya, beberapa pegawai dan staf yang tidak sengaja berpapasan dengannya segera membungkuk begitu melihat kedatangan sang Nyonya besar, dan Ellena hanya menyikapinya dengan senyum tipis.


"Presdir, sedang ada tamu dan tidak bisa diganggu!!"


Gerakan tangan Ellena terhenti begitu ia mendengar suara familiar seseorang masuk dan bergaul di telinganya. Lantas ia menoleh dan mendapati seorang wanita berjalan menghampirinya. Wajahnya memang terlihat asing, namun tidak dengan postur tubuh dan suaranya. Dan tentu saja Ellena mengenali betul siapa wanita yang berdiri di hadapannya ini.


"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kau sekretaris baru di perusahaan ini?" Ucap Ellena pura-pura tak tau apa-apa.


"Ya!! Dan Presdir memerintahkan padaku supaya tidak membiarkan siapa pun mengganggunya, jadi silahkan saja pergi!!"


"Memangnya siapa yang memberimu wewenang untuk melarangnya masuk?!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak keduanya menoleh dan mendapati Kevin berjalan menghampiri mereka berdua.


Ellena beranjak dari hadapan Ella. "Dia bilang kau sedang ada tamu dan tidak bisa diganggu lalu melarangku untuk masuk ke dalam, padahal aku datang untuk menemuimu." Ujar Ellena. Dia melaporkan Ella yang melarangnya untuk masuk pada Kevin.


"Aku keluar sebentar untuk menadatangani beberapa berkas penting. Kau adalah istriku, Ell. Tidak seharusnya kau meminta persetujuan dari siapapun untuk masuk ke dalam ruangan ku!! Dan untukmu, jaga batasanmu. Kau disini hanya sebagai sekretaris, bukan pemimpin. Jadi kau tidak memiliki wewenang untuk memerintah atau melarang siapa pun yang ingin menemuiku!!"


Tangan Ella terkepal kuat mendengar apa yang Kevin katakan. Rasanya dia ingin sekali membunuh Ellena detik ini juga, bagaimana bisa Kevin tetap bersikap dingin dan acuh padanya. Padahal sekarang dia sangat cantik.


Ella mengangguk. "Baik, Presdir. Saya mengerti." Ucap Ella menimpali.


"Ayo masuk." Kevin merangkul bahu Ellena lalu membawanya masuk ke dalam ruangannya. Ellena menoleh kebelakang, dia menyeringai sinis pada Ella yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


Ella pikir dia bisa mengalahkan Ellena. Jika ingin merebut Kevin darinya, dia harus berpikir dua kali lipat karena ia bukanlah orang yang bisa untuk di remehkan. Karena sampai kapanpun juga, Ella tak akan mampu mengalahkannya.


.


.

__ADS_1


Ellena mendaratkan pantatnya pada sofa di ruang kerja suaminya. Wanita itu terkekeh geli mengingat bagaimana ekspresi Ella tadi. Dia sampai memerah karena menahan amarah. Ellena benar-benar puas karena berhasil membuat wanita itu terkena mental.


"Apa yang membuatmu terlihat begitu senang?" Tegur Kevin penasaran.


Ellena mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Bukan apa-apa. Hanya lucu saja lihat bagaimana sekretaris barumu itu berulah. Sepertinya dia berusaha untuk membuatku jauh darimu, dia mencurigakan." Ungkapnya.


Kemudian Kevin mengambil tempat disamping Ellena. "Apa kau tidak merasa dia mirip dengan seseorang?" Tanya Kevin memastikan.


Ellena mengangguk. "Ella, kan? Ya aku merasa dia memang tidak asing. Wajahnya mungkin memang berubah, tapi postur tubuh dan suara. Tidak mungkin bisa mengecoh, ditambah lagi dengan sikap dan perilakunya. Aku benar-benar ingin tertawa keras karenanya. Dia begitu niat, apa dia pikir dengan merubah total penampilannya maka bisa mengecoh kita berdua?" Tutur Ellena panjang lebar.


Ternyata Ellena lebih peka dari yang Kevin pikirkan. Ya, memang benar apa yang Ellena katakan. Boleh saja Ella merubah total penampilannya. Tapi sikap dan perilakunya tak bisa menipu orang-orang yang sudah mengenalnya dengan baik.


Ellena bangkit dari duduknya lalu berpindah keatas pangkuan Kevin. Kedua tangannya memeluk leher pria itu. "Apa yang kau lamunkan?" Tegur Ellena sambil mengunci sepasang biner matanya.


"Tidak ada, kau mau tetap disini atau pulang?


"Kau sendiri bagaimana? Apa pekerjaanmu sudah selesai? Aku maunya pulang denganmu," jawab Ellena dengan manja.


Kevin mengangkat kedua tangannya dan memeluk pinggang ramping Ellena. "Aku sih terserah kau saja. Mau tetap disini atau pulang. Aku sudah tidak ada pekerjaan lagi, semua sudah di handle oleh Axel." Jawabnya.


Ellena tersenyum lebar. "Kau memang yang terbaik, Key. Kalau begitu bawa aku pergi jalan-jalan, sudah lama aku ingin melihat bunga Canola. Ini sudah musim semi, pasti di Busan bunga cantik itu sedang bermekaran." Ucap Ellena dengan mata berbinar-binar.


Kevin mengangguk, mengiyakannya. Mana mungkin dia bisa menolak permintaan ataupun ajakan Ellena. Selama ia mampu memberikannya, Kevin pasti akan melakukan apapun untuknya. Karena bagi Kevin kebahagiaan Ellena adalah segalanya. Jadi mana mungkin dia bisa mengabaikannya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2