GARAKJI

GARAKJI
1


__ADS_3

Gerimis datang lagi" ku tadahkan tanganku merasakan rintikan hujan sore hari.



"Choha... Silahkan berteduh. Anda baru pulang dari perang. Silahkan beristirahat", "Kasim Hong, apa aku nampak kurang sehat? Tubuhku cukup tangguh dari musim seperti ini" jawabku berlari menunggangi kuda keluar dari sangkar emas ini.



"Hiks...hiks...hiks" sayup-sayup aku mendengar tangisan wanita. Ku padarkan pandanganku, waspada. Hanya pepohonan, dan air sungai yang lamban terlihat. "Hiks..hiks.." pendengaranku fokus pada suara yang bersumber di bawah jembatan. Ku tali kudaku di dekat pepohonan dan ku langkahkan kakiku berdiri diatas jembatan.



Nampak bayangan hitam terpantul di air sungai "siapa disana?" Ucapku menggertak. Hiks..hiks.. Hanya isak tangis yang terdengar. Ku lompati jembatan dan turun ke bawah aliran sungai



Byur....


Splashhh...


"Pabo! Siapa kau? Apa kau pesuruh ayahku? Apa kau pembunuh bayaran? Apa maksudmu datang secara tidak wajar ini?" Dia bersungut-sungut marah. Matanya yang masih penuh air mata ditambah pakaiannya yang basah kuyup terkena cipratan air sungai hasil perbuatanku.



"Tunggu... Ku bisa bicara baik-baik jangan menuduhku seenak jidatmu!" Ucapku jengah. Aku pun berjalan ke pinggiran sungai, ku dudukan diriku di sampingnya.



"Bicaralah tuan. Atau aku akan pergi" ucapnya bangkit menjauhiku.



"Dari pakaianmu seharusnya kau bersikap sopan, tutur katamu juga tak urakan seperti itu. Terlebih pada orang yang baru kamu temui." Ucapku mengkritik.



Terpancing ucapanku membuatnya menghampiriku kini kami berhadapan. "Harusnya ucapan itu berlaku untuk anda. Melihat gadis bagsawan sepertiku anda harus tahu diri, bukan mengolokku" ucapnya sengit.



__ADS_1


"Baiklah... Aku mengalah maafkan aku nona."



"Itu baru pantas" ucapnya bangga



Ha..ha..ha "bangsawan mana yang punya putri tak tau diuntung sepertimu?" Ucapku menyela



Ku lihat mimik wajahnya yang berubah. Penuh kesedihan tanpa ku ketahui penyebabnya.



"Ah.. Memang benar. Aku tak berguna. Bahkan wajah ayahku pun tak mau melihatku"



"Benarkah? Mungkin karena kau terlalu jelek" godaku




"Kau tak takut menceritakan urusan pribadimu padaku?"



"Untuk apa aku takut. Kau orang istana. Dari pakaianmu kau prajurit yang baru pulang perang. Entah lambat atau tidak aku juga terpaksa masuk istana"



"Kalau terpaksa, ya jangan datang"



"Katamu aku anak tak tau diuntung? Setidaknya biar hidupku menguntungkan keluarga, bukankah para bangsawan ingin mempererat hubungan dengan cara seperti ini? Ya sudah aku pilih saja biar jadi anak yang tau balas budi." Dia blak-blakan tanpa ragu.


__ADS_1


"Itu kalau takdirmu baik, kalau tak cukup beruntung kamu akan meratapi seumur hidupmu sendirian. Menjadi selir yang kesepian di pojok istana.."



"Biarlah. Asal dari luar keluargaku tau aku masuk istana dan menjadi selir. Bahkan hubungan terlarang dengan pangeran juga aku terima. Asalkan kelak keturunan raja selanjutnya hadir dari rahimku."



"Kau gila?! Apa kau seperti binatang yang tak punya tujuan hidup? Ah.. Aku terlalu kasar. Tapi ini olokan yang pas untuk pikiranmu. Kau tak tau pangeran orang seperti apa!" ucapku melepas cenkraman tangannya di leherku.



"Bukankah pangeran juga menikah hanya demi mendapat keturunan?


Lantas mana salahku?


Aku wanita. Aku yang punya rahim.


Aku seorang putri yang punya bakti pada keluargaku.


Kelak jika aku jadi ibu putra mahkota, itu sepadan dengan balas jasa ke orangtuaku, pada negaraku, dan menjamin hidupku."



"Lantas bagaimana hatimu?" Tantangku



"Meskipun aku tau dan punya hati, apa menuruti hati menjamin kedamaian hidupku?"



"Aku tak tahu tapi, jika itu iya.. Mungkin aku mau mempertimbangkan kau jadi pilihan hatiku"



"ck..ck..ckk...kau sebagai pria bagaimana mudahnya menawarkan hatimu pada gadis yang baru dikenal"



"Aku pria.. Aku punya kuasa" senyumku.

__ADS_1



"Itu dua hal yang berbeda" tungkasnya.


__ADS_2