GARAKJI

GARAKJI
7


__ADS_3

“aku boleh bertanya sesuatu?”



“apa yang tidak bisa disampaikan anda jung jeong mama?”



“SELAMAT DATANG CHEONA” sambut para dayang istana ratu.



Percakapan itu terhenti seiring kedatangan sang raja.



“bagaimana kabarmu ratuku..?” hambur sang raja memeluk jung jeong mama yang terbaring lemas.



“ah ba mama saya pamit undur diri” ucap wang seja tak enak.



“nak... bolehkah hari ini saja kita jadi satu keluarga..?” tanya Jung Jeong mama lemas.



“mungkin lain waktu. Saya permisi” ucap wang seja menghormat dan pergi.


*************



Di lain tempat di depan altar kuil desa setempat nampak dua wanita mengenakan pakaian serba putih dengan wajah ditutupi jang ot putih. Salah seorang membawa baki berisi dupa dan bunga.


“Heo Ni agi anda akan membawa pergi kemana lagi. Bukankah kita keluar hari ini hanya untuk ke kuil saja..?”



“bagaimana rasa mentari hari ini seol ? apa kau mau menyiakan waktu hari ini..? barang sehari membelot pun tak akan ada yang tau. Ayo kita berkeliling sebentar”




“aa.. aku tak mau dipukul lagi. Ku mohon anda kembalilah. Ayo kita menyulam atau belajar menjahit di rumah. Ayo.. ya? Ku mohon..?”



“sstt... diamlah” bungkam Heo Ni menutup mulut pelayannya bersembunyi di balik kerumunan orang yang hilir mudik keluar kuil.



“dia..? bukankah dia..?”

__ADS_1



“ye.. itu orangnya” ucap Heo Ni memandang sosok laki-laki bertubuh tinggi berjubah biru dengan gat khas yanban yang melintas di depannya.



“ayo kita temui saja. Kita minta hidup yang layak”



“belum saatnya. Permainan baru akan dimulai seol” ucapnya tersenyum licik, dengan pandangan pelayannya yang ketakutan menyiratkan, banyak polemik yng belum terungkap dihadapannya.



‘kita dari wadah yang sama orabeoni, kenapa takdir langit kau dan aku berbeda’ gumam batin Heo Ni kesal.


*************



“ck..ck..ck sulaman sapu tangan kecil seperti itu menyiratkan kepelitanmu!” ucap wang seja bersandar diatas gerbang tembok sebuah paviliun.



“kau datang lagi tuan prajurit setelah aku usir..?” ucap Yu Na menggenggam sapu tangan yang belum selesai dibuatnya.



“aku lama tidak melihatku, takutnya kau merindukanku” ucap wang seja




“kalau bukan rindu, seharusnya ruang itu sudah terisi cinta” goda wang seja mengambil paksa sapu tangan yang disimpan Yu Na.



“dasar prajurit muka tembok. Betapa bodohnya orang istana mempekerjakan orang sepertimu. Sudah tidak kenal malu tak tau etika pula.



Bersama wanita luar dari keluarga terhormat bersikap seperti itu ha..ha”



“kau mau menganggap raja negeri ini bodoh..?”


“mana berani aku menyalahkan raja yang agung. Setidaknya penanggung jawab kemiliteran lah yang kena imbasnya”



“penanggung jawab militerkan diserahkan pada wang seja choha”


__ADS_1


“haha..benar!”



“kau berani menghina wang seja dibelakangnya tapi masih mau membuatkannya hadiah ya.. sungguh ironis.”



“mana berani aku menghina. Toh kau tidak akan melaporkannya”



“kalau aku melapor?”



“paling-paling aku dan kau bersekongkol. Tentu kau tak mau terlibatkan? Maka jangan melapor”



“gadis cerdik. Hari ini aku maafkan. Tapi ada harga untuk itu”



“kau mau memerasku?” ucap Yu Na setengah tak percaya. Pandangan dirinya dan laki-laki itu sejajar didepannya laki-laki itu berjongkok dan berbisik dekat dengan wajahnya. Orang yang tak tau tentu sudah salah kira dengan mereka.



“kau mau apa?”



“buatkan aku satu. Sapu tangan seperti ini dengan namaku hanya namaku tanpa gelar”



“boleh saja”



“kau berani..?”



“kenapa tidak”



“siapa namamu tuan prajurit”



“dengarkan baik-baik aku tidak akan mengulangnya lagi, namaku ialah nama yang tidak boleh disebut. Nama yang tidak boleh ditulis dalam tulisan manapun. Lie Min Oh”


__ADS_1


ucap wang seja tersenyum dan beranjak pergi.


Yu Na yang masih tertegun hanya bisa diam mendengar dan mencerna sendiri sedangkan orang dihapannya telah berlalu layaknya angin.


__ADS_2