
“ck..ck..ckk.. kau sebagai pria bagaimana mudahnya menawarkan hatimu pada gadis yang baru dikenal”
“aku pria..aku punya kuasa” senyumku
“itu dua hal yang berbeda” tungkasnya.
“ah, hari sudah menjelang malam aku pamit dulu” ucapku meninggalkannya dan berjalan menjauh ke tempat kudaku menunggu.
“semoga kita tak bertemu lagi” teriak dirinya berjalan berseberangan arah denganku.
*************
__ADS_1
Tuk..tuk..tuk....
khih...khih..
“choha anda kembali, syukurlah” ucap dayang dari kediaman ibuku. “ada apa ?” tanyaku terburu langsung saja ku tinggalkan dayang yang belum menjawab pertanyaanku.
“jung jong mama, ananda menghaturkan salam” hormatku sembari membungkuk di depan kamarnya.
“aku tak ingin berjumpa siapapun, suruhlah dia kembali” teriak ibuku sayup-sayup diiringi batuk berat. Aku tak mau berkilah ku langkahkan kakiku kembali ke istana timur.
“kasim Hong aku ingin mandi” ucapku melepas senjata yang dan mantel perangku. Air hangat bercampur rempah terbaik di ibukota ini, wewangian buah dan bunga yang dikeringkan sebagai minuman terlezat ini. Serta minyak kayu cendana sebagai pewangi tubuhku ini. Aku merentangkan tanganku dan para kasim siaga mengganti pakaianku dengan pakaian resmi istana. Tubuh yang berharga pikir mereka.
__ADS_1
“apa anda ingin makan malam choha ?”, “ya” ucapku singkat. Aku hanya perlu duduk dan para kasim berdatangan membawa aneka menu terbaik yang diolah dayang istana. Sayur lobak yang dibumbui, daging bebek terbaik, sari anggur pilihan, hingga kue kenari dan wijen menjadi pemandanganku setiap hari, makanan mewah pikir mereka.
“aku selesai” ucapku setelah mencicipi dua suap nasi dan sayur “anda lama belum pulang mohon habiskan hidangan malam ini choha” ucap para kasim membungkuk. Ku hela nafas dan memakan nasi semangkuk lagi. “sudah” ucapku berdiri dan meninggalkan mereka. “aku ingin rehat, kalian keluarlah” ucapku tak ingin diganggu.
Kamar yang ku miliki penuh cahaya lilin yang menyala diatas ukiran naga emas. Jendela-jendela pun tertutup rapat hanya terhalang kertas minyak. Walau kamar ini luas tak ada barang yang bagiku privasi. Hanya kasur bersulam emas dan rak buku yang berjajar.
Dug, tak..tak.. ku ketuk alas lantai dibawah kasurku. Ku geser dan nampaklah ruang rahasia yang hanya aku dan raja yang tau. Ruang bawah tanah yang menuju lokasi terpencil disudut istana, penjara para pemberontak yang dihilangkan identitasnya oleh rajaku, ayahku.
Ruangan tanpa cahaya, tak ada lilin maupun sinar bulan tak mapu menembusnya. Kegelapan yang menyiksa dibandingkan kehancuran hidupnya, mati secara perlahan dalam kegelapan, istilah inilah yang cocok bagi mereka.
“siapa itu?” teriak seorang laki-laki yang nampak tua. Aku hanya diam dan mendekatinya. “kau putra dari raja lalim itu?” tatapnya marah. Aku hanya mengangguk. “kau tak tau, kehancuran keluargamu akan segera dimulai. Ini karma! Raja yang lalim akan jadi semakin serakah. Ha..ha..ha” teriaknya mencengkram jeruji penjara. “kau berbohong” tuduhku sembari mengeluarkan belati. “terserah, kau mau percaya atau tidak. Aku sudah tak mau berurusan dengan keluarga si lalim” ucapnya menutup telinga dan menjerit-jerit. Cih.
__ADS_1
***********************