GARAKJI

GARAKJI
3


__ADS_3

“siapa itu?” teriak seorang laki-laki yang nampak tua. Aku hanya diam dan mendekatinya. “kau putra dari raja lalim itu?” tatapnya marah. Aku hanya mengangguk. “kau tak tau, kehancuran keluargamu akan segera dimulai. Ini karma! Raja yang lalim akan jadi semakin serakah. Ha..ha..ha” teriaknya mencengkram jeruji penjara. “kau berbohong” tuduhku sembari mengeluarkan belati. “terserah, kau mau percaya atau tidak. Aku sudah tak mau berurusan dengan keluarga si lalim” ucapnya menutup telinga dan menjerit-jerit. Cih.



“makanlah jika kau ingin melihat mentari” ucapku melihat nampan makanan yang masih penuh tak tersentuh. Ku balikkan badanku dan meninggalkannya sendiri.



Dung.....dung....dung



Suara genderang penanda pagi sudah dipukul. “kasim Hong” teriakku dari balik pintu kamar. Seluruh dayang dan kasim masuk membawakan aneka pakaian, makanan dan minuman untukku. “choha anda tidak ke aula cheona..?” ucap kasim Hong saat aku baru meminum teh ku. “ya” ucapku memejamkan mata menahan amarah. Ck..ck.ck... ayah macam apa dia. Bahkan aku ingin menikmati sebentar waktuku pun tak mampu.


****************



Di sisi lain, rumah kediaman menteri Choi Yeon Im.



Cip..cip..cip..cip.. suara burung bersahutan dari atas dahan. “bahkan aku sebagai manusia kalah dengan hewan yang bisa terbang bebas sesuka hati” ucapku bersandar dan menopang dagu di jendela kamar.

__ADS_1



“putri Choi Yu Na, silahkan sarapan, anda sudah ditunggu tuan menteri” ucap pelayan mengetuk pintuku.



“Eomoni selamat pagi” ucapku memberi hormat pada ibuku yang duduk di samping tuan menteri. “berilah salam pada ayahmu” perintah ibu yang berucap tanpa menatapku. “pagi tuan menteri Choi” ucapku membungkuk. “haishhh... aku ayahmu Yu Na, meski bukan secara biologis” ucap tuan menteri menghela nafas.



“makanlah yang banyak putriku” ucap menteri Choi menambahkan ikan di mangkuk yang masih penuh. “terima kasih tuan menteri” ucap Yu Na tak membantah.




“itu hanyalah ucapan halus untuk mengontrol orang yang masuk ke istana sesuai dengan jalan para menteri kan ayah?” ucap Yu Na meletakkan sumpit. “saya sudah kenyang, mohon undur diri dulu” sambungnya.



“kau sebagai anak perempuan beraninya berbicara tanpa ampun pada tuan menteri” omel ibuku menatap tajam diriku. Huhhhh.... ku hela nafas panjang dan kembali duduk menghabiskan ikan yang diberikan tuan Choi.


***********

__ADS_1



“cheona datang, berilah hormatmu” teriak kasim yang mengiringi rombongan sang raja di tempat pelatihan. “sempurna!” plok...plok...plok... ucap sang raja dari belakang wang seja yang membidik anak panahnya. “ah ba mama... anda datang, salam dari anakmu” ucapku menunduk dihadapannya. “kemampuanmu tak diragukan wang seja” puji sang raja, “benar itu bakat dari Cheona”, “masa depan kerajaan kita kelak akan cerah”, “anda sungguh beruntung Cheona” sambung para menteri menjilat ayahku.


“aku tau kedatangan ah ba mama tidak mungkin karena ketidakpentingan, mari saya antar ke istana Timur dan bergurau” ucapku bersikap ramah. “kau sungguh cerdik” gumam sang raja berjalan ke kediamanku.



Di istana Timur



“kau sungguh menjaga privasimu ya nak..” ucap sang raja melihat hiasan di istana persis seperti awal dibangunnya. “kasim sediakan camilan untuk kami, kami akan berbicara empat mata” ucapku mengkode agar para pengawal dan kasim yang berjaga menjauh.



Ku lihat Ah ba mama mengeluarkan sekantong buntalan dari saku jubahnya. “nak... berikanlah ini nanti sebagai mas kawin bagi dia yang setia denganmu. Kau tau ? meskipun wanita bukan tujuan kita sebagai pemimpin, tapi memimpin dan bersanding dengan yang dicintai itu menentramkan.” Ucapan sang raja berbeda dari biasanya. Wajah yang kini dihadapanku seperti seorang ayah yang menginginkan kebahagiaan anaknya. Berbanding terbalik dengan sosok yang dikenal para tawanan, dan para pengawal istana, sosok yang lalim tak kenal ampun.


**********



__ADS_1



__ADS_2