GARAKJI

GARAKJI
8


__ADS_3

“dengarkan baik-baik aku tidak akan mengulangnya lagi, namaku ialah nama yang tidak boleh disebut. Nama yang tidak boleh ditulis dalam tulisan manapun. Lie Min Oh” ucap wang seja tersenyum dan beranjak pergi.



Yu Na yang masih tertegun hanya bisa diam mendengar dan mencerna sendiri sedangkan orang dihapannya telah berlalu layaknya angin.



Sepanjang malam tubuh Yu Na berguling gelisah dalam kamarnya. “apa yang tak bisa tertulis? Aneh-aneh saja. Apa namanya layaknya mantra atau semacam jimat yang tak boleh ditulis sembarangan. Memangnya ada nama yang seperti itu..? huh kau membuatku berpikir keras tuan prajurit. Jebal”



Nama yang tak boleh disebut



Nama yang tak boleh ditulis



Lantas bagaimana aku memanggilnya



Untuk apa memberi nama yang diejapun sudah merepotkan saya.. akhhh



‘tok..tok..tok’



“putri sarapan sudah siap. Anda mau mandi dulu atau bagaimana..?”



“oh... masuklah pelayan Sung aku mau ganti dulu” ucap Yu Na menguap lesu



“aigoo... apa yang membuat anda seperti itu nona? Mata anda seperti kurang tidur wajah anda tidak berseri. Ini tidak benar, anda harus istirahat yang cukup. Hadiah untuk wang seja choha itu penting dan anda menjaga kesehatan itu lebih penting”



“oh ayolah pelayan Sung kehormatan keluarga itu terpenting. Hanya seperti ini dikompres sebentar nanti juga hilang” ucap Yu Na bangkit membiarkan pakaiannya diganti oleh pelayan.


************

__ADS_1



Di sudut desa jauh dari pemungkiman penduduk nampak bangunan besar tapi banyak tertutupi bambu. Hanya jalan setapak yang samar antara rumput dan semak belukar menegaskan bahwa tempat itu bisa dikunjungi.



“ampuunn...”



“ku mohon...ampuni nona tuan Heo”



“aku seol yang bersalah tolong jangan dipukuli lagi nona Heo Ni”



Nampak seorang pelayan menjerit meminta pengampunan untuk seorang gadis yang tengah menunduk dengan kaki berlumuran rumpur dan darah, berbanding terbalik dengan yang meminta ampunan dia tidak menitihkan air mata maupun ekspresi menyesal di wajahnya.



Setiap pukulan hanya ditahan dengan menggigit bibir menahan erangan.




“baik-baik terima kasih tuan Heo” ucap seol menggendong majikannya Heo Ni yang hanya bungkam tertunduk.



Di dalam kamar



“sudah aku katakan kita terlambat pulang hanya membuat anda susah”



“ye”



“aku mohon anda jangan berulah lagi”


__ADS_1


“ye”



“baiklah. Aku menyerah dengan kegigihan anda nona Heo Ni mari berjanji kedepannya anda harus sehat tidak tergores lagi”



“seol-ah.”



“ye nona Heo Ni anda memerintahkan apa..?”



“bagaimana aku berjanji tidak tergores lagi jika hanya tubuh aku mampu namun batinku yang bertahun-tahun bukan lagi goresan Seol, tapi sudah hancur jadi bongkahan tak terhitung”



“aa...akuu tau perasaan anda. tapi bisakah sedikit saja anda memaafkan masa lalu untuk kedamaian hidup anda..?”



“apa salahku seol..?


apa dosa yang harus aku tebus..?


apa aku salah jadi anaknya..?


apa aku salah hidup bersaudara dengan laki-laki itu..?


kami hanya dari ayah yang berbeda tapi punya wadah yang sama apa itu pilihanku sendiri seol-ah..?


apa aku salah pilih..?


kenapa eomoniku harus direbut..?


kenapa abeojiku tak mau mencariku..? kenapa keluargaku tak sadar kehilangan diriku..? kenapa tuan Heo mengambilku jika untuk disiksa..?


kematian mungkin lebih indah dari inikan seol-ah..?”



“anda berbicara tak tau aku menanggapi apa. Nona Heo Ni kuatkan batin anda, ku mohon”


__ADS_1



__ADS_2