GARAKJI

GARAKJI
11


__ADS_3

Yu Na yang kesal langsung terbungkam menatap papan tanda nama khas ukiran istana yang tertulis istana timur, dialah pemiliknya wang seja choha.



Wang seja hanya tersenyum puas dengan tatapan gadis di depannya yang terkesima. Sang gadis pun hanya terbelalak tanpa kata.


“respon yang biasa ternyata. Ku harap setelah tau kebenaran ini esok di perayaan ulang tahunku kau tidak memberiku sesuatu yang mengecewakan” ucap wang seja mengacak rambut Yu Na dan mengajaknya pergi kembali ke kediaman menteri Choi.



***********


Di sisi lain di kediaman saudagar Heo nampak perbincangan dua orang yeoja



“apa anda yakin nona Heo Ni ingin pergi ke istana itu ? bukankah disana tempat orang yang anda benci berada?”



“ah..seol ? apa kau pernah dengar pepatah keluar kandang singa masuk kandang harimau ?”



“mana mungkin nona Heo Ni. Setidaknya berbohong sedikit untuk alasan kita keluar apa tidak mungkin?”



“jika semudah itu kenapa kita selalu kembali lagi kesini?”



“anda benar juga ternyata. Lantas apa yang akan anda bawa sebagai persembahan untuk istana?” diliriknya buntalan yang nampak tebal.



“ku dengar wang seja adalah jendral hebat. Mungkin baju perang dari kain tapi pedangpun tak bisa menembusnya bisa berkesan untuk pertemuan awal kita.” Ucap Heo Ni sembari keluar kamar diikuti seol yang membawa banyak buntalan.



“aku sudah siap tuan Heo” ucap Heo Ni sembari masuk ke tandu yang akan mengantarnya ke istana.


__ADS_1


“ku harap bisa mendengar hasil yang membahagiakan. Sampai jumpa Heo Ni anakku” ucap tuan Heo tersenyum penuh maksud.



“sampai jumpa” ucap heo Ni mencoba tersenyum hatinya terasa tersayat mendengar kata ‘anak’ yang dilontarkan tuan Heo.



***************



Bruk...bruk....



“segeralah bersiap!!! Waktu terbaik memasuki gerbang istana akan berakhir. Jangan lupa berilah kesan pada jung jeong mama.” Gedor seseorang dari ruang kamar Yu Na.



“iya..iya... aku sudah bersiap. Bahkan ayampun belum bangun” ucap yu Na membuka kamar.


“baiklah. Sarapan sebentar.”




Chima merah dengan atasan merah jambu. Sedikit riasan wajah menjadi pemanis kecantikan Yu Na.



“hadiahmu..?” tanya eomoni



“sudah” ucap Yu Na membawa buntalan kecil di sakunya sebuah hiasan kepala untuk seorang Jendral mungkin menjadi kesan tersendiri. Batin Yu Na sedikit ragu.



“ku tunggu hasilnya.” Ucap eomoni menepuk bahu Yu Na menyiratkan tak ada jawaban selain harus bisa.


__ADS_1


“anda tidak ikut saya eomoni..?”



“aku hanya akan menanti di kediaman ini” ucap eomoni menghindari tatapan Yu Na, berganti menatap bayangan dirinya dan berlalu meninggalkan Yu Na berangkat sendirian.



“eomoni anda orang seperti apa sebenarnya..?” gumam Yu Na berlalu memasuki tandu yang membawanya pergi.



Di perkarangan rumah tuan Choi, wanita yang tak lain ibu dari Yu Na bergumam sendirian mengingat masa lalunya.



Flashback on....



(“kakak, aku mau menjadi permaisuri jika kelak dinikahi pangeran.” Ucap seorang yeoja kecil.


“kakak juga mau.” Ucap sang kakak yang tak lain ibunya Yu Na.


“bagaimana rasanya hidup di istana..?”


“kakak juga belum tau.”


“kelak jika para pangeran memilih kita aku harap yang jadi permaisuri adalah kakak”


“kau juga pantas kok jadi permaisuri Lin Chia Ri”


“kakak Chia Ra lebih aku sukai”


Huh... berdebah dengan ungkapan kakak dan adik jika ternyata hati yang mulia hanya ada dirimu.


Karena laki-laki itu, aku dicap sebagai pendosa, aku dicap sebagai wanita murahan.


Chia Ri aku tau kau yang seharusnya mundur tapi kenapa kau menjebakku, membiarkan malam itu aku dinodai olehnya. Ahhhhhh... hidupku hancur karenamu.



Keluh sang eomoni menjerit teringat kehormatannya dirampas dan dirinya dikeluarkan paksa dari istana.)

__ADS_1


__ADS_2