GARAKJI

GARAKJI
12


__ADS_3

Tengah malam di istana timur...



“kalian berdua saudara kembar yang manis. Untuk apa harus terkungkung di istana demi mendapatkan hati yang mulia” ucap seorang laki-laki berjanggut pada dua yeoja yang berumur sekitar 15 tahun.



“jangan..jangan ganggu kami. Aku mohon. Jika anda minta harta aku akan menyerahkannya” ucap Chia Ra mencoba berani



“ya kami akan memberikan harta kami. Asalkan tuan mau membiarkan kami pergi” sahut Chia Ri



“ha...ha...ha.... harta apanya. Seluruh istana ini dan seisinya akan jadi milikku. Kalian akan senang dengan berpihak padaku.”



“jadi... anda tidk butuh kami. Biarkan kami pergi tuan”



“tidak semudah itu putri tuan Lin. Kalian keluarga si tua sombong dan berlagak. Sudah seharusnya si tua itu mati karena keluarganya hancur.”



“jangan libatkan keluargaku. Ayahku tidak tau apa-apa”



“omong kosong. Si tua yang tuli tidak mendengar perintah para yanban dan berlagak suci itu kau bilang tidak tau apa-apa? Cih!”



“anda tuan yang terhormat ku mohon lepaskan kami. Kami akan membalas kebaikan anda dikemudian hari” ucap Chia Ra



“keduanya atau satu cukup membuat keluarga kalian malu untuk bernafas di bumi ini”



“jangan!!!!” diseretnya Chia Ra yang berteriak ke luar menuju ujung gelap istana. Si adik Chia Ri hanya bisa bungkam sesenggukan.



“jika kau ingin mengangkat martabat keluargamu. Diamlah dan anggap tidak tau apa-apa” ucap seseorang berjubah hitam yang tak tau datangnya dari mana. Mata yang tajam dan arogan milik seseorang yang dihormati calon raja masa depan, sang wang seja Lee Lian.



Keesokan paginya....


__ADS_1


“Ku dengar anak dari menteri Lin ada yang bertindak tidak senonoh dengan orang asing di istana ini.”



“bagaimana dia masih memiliki muka..?”



“aku jika menjadi dia lebih memilih untuk mati”



Terdengah banyak para menteri yang membicarakan kejadian tadi malam, sang menteri Lin yang baru saja sembuh dari asmanya hanya bisa mencoba menenangkan diri. Berharap itu semua bukan yang semestinya.



“beri hormat kalian, calon raja baru datang” ucap petugas upacara penobatan sang raja mengumumkan.



“semoga anda sehat selalu”



“semoga raja berjaya”



“duduklah...” terima kasih kalian sudah datang diacara penobatanku. Ini memang sangat mendesak, karena negeri ini ingin memiliki pemerintahan yang stabil ku harap aku yang raja muda bisa mendapat dukungan dari para menteri” ucap sang raja tersenyum manis.




“menteri Lin..?” tanya sang raja



Sang menteri Lin maju dihadapan raja


“ku dengar salah satu putrimu sudah mengotori istanaku. Ku harap engkau tidak keberatan aku menegakkan keadilan demi kesucian istana ini”



“hamba mengikuti kebijakan cheona” jawab


menteri Lin menahan malu



“seret pendosa itu keluar istana dan ikat tubuhnya biar ditarik kuda keliling negeri ini hingga tewas. Bagaimana mungkin keluarga seorang yanban bisa begitu tercela” ucap sang raja seakan menusuk telinga menteri Lin.



“mohon hamba yang hina ini meminta ijin berbicara cheona”

__ADS_1



“kau mau bernegosiasi..?”



“ye..”



“ku harap tidak mengecewakan. Kau tau kan mendiang raja terdahulu menginginkan aku menjalin hubungan dengan keluargamu karena martabat dan pengajaranmu yang lurus. Tapi rupanya lurus yang dimaksud nampak disalahartikan oleh putrimu.”



“hamba tidak memiliki muka cheona. Ku harap janjiku pada mendiang raja terdahulu bisa ditepati oleh salah satu putriku yang tidak terlibat, dan mohon maafkan satu putri hamba yang lain”



“aku menerima usulanmu untuk menggantikan salah satu putrimu menjadi pasanganku. Tapi aku menolak untuk tidak terlibat dalam hukuman putrimu yang lain”



“ku mohon biarkan hamba yang menebusnya. Biarkan dia hanya diusir. Ku mohon biarkan bia hidup. Mereka berdua putri hamba”



Bungkuk menteri Lin menangis dihadapan raja. Bimbang karena nasib salah satu putrinya dipertaruhkan.



“Jenderal Im umumkan”



“ye cheona”



Keesokan hari ditengah kota... hukuman salah satu putri menteri Lin diringankan dia hanya diseret keluar istana disuruh menjauh dari lingkungan istana.



Disisi lain sang raja bersama Chia Ri, anak menteri Lin yang lain sedang mengadakan upacara pernikahan.



Langkah terseok di tengah pasar... Chia Ra yang terlupakan dengan pakaian yang terkoyak berjalan menuju tiang gantung tempat jasad menteri Lin dibiarkan jadi tontonan orang lalu lalang.



“abeoji... anda kenapa harus menanggung hukuman Ra..? aku anak yang tidak berbakti. Hiks..hiks...” sesal Chia Ra dihadapan jasad ayahnya, sesal memenuhi pikiran dan hatinya.



Tangisannya menjadi-jadi tanpa ada yang peduli, hidupnya serasa hancur, lambat laun ditengah terik matahari pandangannya buram menghitam. Brukk, dia tak sadarkan diri.

__ADS_1



Flashback end


__ADS_2