GARAKJI

GARAKJI
6


__ADS_3

“jika berkata jujur diabaikan. Jika ucapan tentang peristiwa tak mengenakkan hati dibungkam. Lantas berpura apa bisa jadi pilihan demi keamanan?” ucapnya tidak setuju



“ya.. asalkan nyawa selama apa salahnya”



“huh. Pantas saja perlakuan orang hanya dilihat dari penampilan” ucapnya berdiri.



“pintu gerbang mau aku tutup. Silahkan melanjutkan perjalanan anda tuan prajurit” ucap dirinya menyuruhku pergi.


*************



ku tatap laki-laki itu pergi. Dia bukan siapa-siapakan ? kenapa hatiku berdesir.



Apapun yang aku katakan selalu saja dibalik olehnya.



Bagaimana mungkin demi nyawa sendiri itu pilihan terbaik. Cih!



Pantas saja orang lain tak tau statusmu tuan prajurit. Kau sendiri yang berpandangan begitu.



“Putri Choi Yu Na anda dipanggil tuan besar ke paviliun utama” suara wanita parubaya



“oh. Baiklah” ucap Choi Yu Na berjalan masuk kedalam ruangan.



Tok..tok..tok



“masuklah, aku sudah menunggumu”



“ye tuan menteri, apa yang mengharuskan diriku menghadap di kediaman anda?”

__ADS_1



“ku dengan kuli yang kau sewa membuat keributan dengan pamanmu”



“hanya masalah kecil, tuan Rong tak punya ikatan darah. Dia bukan pamanku dan anda paham itu”



“apa kau tak bisa memaafkan ? setidaknya berdamailah sedikit dengan keadaan agar hidupmu tanpa dendam.”



“oh... apa ada yang harus dikatakan lagi? Saya mau undur diri.”



“ya silahkan”



Belum sempat Yu Na membuka pintu dia berucap kembali “untuk kuli yang bermasalah sebenarnya dia hanya prajurit istana yang menyamar. Mohon jangan membuat keributan”



“prajurit ? "




"apa kau memiliki hubungan khusus dengan prajurit istana ? ku harap akhirilah. Bagaimanapun citra dirimu harus bersih demi sampai di kursi sejanim.”



“ye.. aku paham maksud anda. Tenang saja. Hadiah peringatan kelahiran wang seja choha juga sudah aku beli tinggal disiapkan. Kemungkinan dua minggu lagi sudah selesai. Saya permisi”



Terasa kaki Yu Na lemas tak bertenaga


Entah keberanian dari mana yang merasukinya, dari seorang putri pendiam dan penurut kini sebersit rasa ingin memberontak selalu tercermin di matanya.



“andaikan anda tak memiliki hubungan darah dengan raja hari ini mungkin aku bisa menghormati anda tuan menteri Choi” ucap Yuna menatap bangunan paviliun utama.


************


__ADS_1


Istana timur



“choha... anda dipanggil jung jeong mama menghadap di istananya” ucap rombongan dayang yang menjemput wang seja choha.



“ada apa dengannya?” ucap wang seja khawatir.



Tak perlu waktu lama, kini dihadapan wang seja choha sosok wanita anggun yang terbaring lemah. “bagaimana keadaan anda ? anda nampak tak sehat. Aku akan mencarikan tabib terbaik jika anda mau.”



“anakku, kau tak perlu gusar. kita sudah bersama itu cukup. Kunjungilah aku tiap waktu itu cukup nak”



“anda harus sehat, anda harus bisa memimpin kediaman ini”



“aku sangat sehat. Ini hanya soal waktu” ucap jung jeong mama menggenggam tangan wang seja.



“nak.. jika aku sanggup memilih waktu. Aku ingin kita hidup di rumah mungil bersama dan tidak terpisah tembok tinggi ini.”



“cerita sedih seperti itu kenapa diingat? Sudahlah. Hari ini dan waktu depan itu milik kita. Asalkan anda sehat aku juga bahagia”



“aku boleh bertanya sesuatu?”



“apa yang tidak bisa disampaikan anda jung jeong mama?”



“SELAMAT DATANG CHEONA” sambut para dayang istana ratu.


***********



__ADS_1


__ADS_2