
Waktu yang sama di sisi lain pasar
Drap...drap...drap....
“beri hormat kalian... rombongan wang seja choha akan datang” umum pasukan berkuda sepanjang jalan utama pasar.
Semua yang lalu lalang membungkung, mundur dengan teratur.
“Hei...berhenti” teriak wanita yang ditarik yeoja kecil itu.
Bruk....
“awas!!!!!” teriak wang seja pada wanita yang jatuh hampir terkena kudanya.
Wanita ini lagi...ck...ck..ckk... dunia yang sempit atau kita yang berjodoh. Batin sang wang seja menahan senyum.
“hei!!! Kau putri bangsawan mana kenapa tidak tau etika? Rombongan pangeran datang bukannya menghindar baris seperti seharusnya tapi menyerobot barisan”
“iya..iya... aku salah seperti ini tapi sebagai prajurit kau juga tidak sopan berkata kasar seperti itu padaku”
“kau belum tau kemurkaan wang seja choha? Kau akan tau rasa”
“ya..ya.. aku akan minta maaf sendiri. Toh wang seja bukan dirimu” ucap Yu Na pada prajurit yang menghardiknya.
“kau sombong sekali rupanya” ucap seorang laki-laki dari belakang prajurit dia masih menunggangi kudanya. Kuda hitam dengan sedikit warna putih di dahinya mengesankan bahwa dia kuda bangsawan. Kuda yang hanya ada satu di negeri ini, kuda milik kerajaan. Kuda bermata tajam seperti pemiliknya.
“aku sombong karena aku perlu meluruskan. Jadi bukan salahku sepenuhnya” ucap Yu Na sembari membersihkan debu dari chimanya.
Tuk...tukk..tukk...
__ADS_1
“kau masih ingat aku..?” ucap wang seja menarik paksa tubuh Yu Na ke atas kuda.
“kalian kembalilah. Aku kenal putri ini kerabat jauhku. Hiatttt” ucap wang seja berlalu pergi.
Menembus pemukiman yang makin lama makin jarang. Menembus perkebunan yang berujung pada pepohonan lebat, hutan perbatasan negeri ini.
“ho... buka” ucap wang seja mengacungkan telunjuk jarinya seperti ilusi pepohonan yang rimbun seakan terbelah membuka jalan setapak seperti dunia lain.
Yu Na yang tertegun hanya bisa memilih diam, terlalu takut melihat sekeliling seperti slide yang terhempas. Dia hanya bisa memegang erat chimanya.
‘kalau tak mau terjatuh. Pegang aku bukan pakaianmu” ucap wang seja tanpa melihat kearah Yu Na.
“maaf” bisik Yu Na memegang kerah jubah wang seja.
Drappp....drap..... hiatttt!!
Langkah kaki kuda terhenti di depan air terjun yang nampak lembap disekelilingnya.
Uhuk...uhk...
“kau sengaja mencekikku. Bisa ku anggap pemberontakan” ucap wang seja menarik paksa Yu Na turun dari kuda.
Yu Na hanya diam menempelkan dirinya pada tubuh wang seja, pandangannya takut dan bingung.
Deg..deg...deg..... suara degup jantung Yu Na terdengan nyaring
“kau ketakutan padaku?” ucap wang seja menjitak dahi Yu Na
“ahh...” Yu Na pun tersadar dan buru-buru menjauhkan diri.
__ADS_1
“kau kagumkan dengan pesonaku” ucap wang seja bangga
“cih.”
“hanya itu ucapannya pada penyelamat ini?”
Ditatapnya sang wang seja dan menarik nafas dalam-dalam..
“ya..aku tau aku salah. Aku sudah mengganggu perjalananmu. Tapi kau juga salah sudah membuatku malu dengan membawaku kabur begitu saja”
“akukan melakukan ini untuk menyelamatkanmu”
“menyelamatkan? Kau lihat? Aku itu wanita. Jika aku dibawa kabur pria lain, apalagi aku wanita bangsawan, seorang wanita terhormat yang masih lajang. Gadis yang belum berkeluarga. Setidaknya tuan prajurit tidak gegabah seperti ini”
“aku tidak mung...”
“mungkin! Ini seperti lelucon bagimu. Tapi sebagai wanita. Aku akan malu. Akan dikucilkan masyarakat dan bagaimana kelak wang seja akan melihatku ?bagaimana akan menjalin hubungan denganku..? Reputasiku sebagai wanita hancur ditanganmu tuan prajurit bodoh”
“kau tak paham?”
“apa yang harus aku pahami?” ucap Yu Na sebal.
“lihatlah baik-baik” perintah wang seja
Yu Na yang setengah marah belum paham maksudnya
“aku tau kau pria. Jubahmupun aku tau itu mahal harganya” ucap Yu Na kesal.
Yu Na yang kesal langsung terbungkam menatap papan tanda nama khas ukiran istana yang tertulis istana timur, milik pria yang berdiri di depannya, dialah wang seja choha.
__ADS_1