GARAKJI

GARAKJI
5


__ADS_3

“seharusnya pakaian yanban lebih pantas wang seja choha”


 “sama saja. Mau itu yanban, sangmin, cheomin, semuanya sama. Hanya pakaian yang berstatus tidak akan merubah kepribadian orangnya.” Ucapku mengingatkan.


 “terserah anda wang seja choha, tapi pandangan diluar apakah sudah sama dengan penilaian anda. Silahkan dinikmati” ucap dirinya membukakan aku pintu.


**************


Pasar tradisional


“hoi..! kau kuli panggulkan ? meh! Aku ada tugas untukmu.” Teriak seorang pelayan wanita menepuk bahuku.


“tolong kau bawakan ini. Semua ini barang milik nona kami. Tenang saja ada imbalan yang pantas untukmu” ucap pelayan paruh baya itu menyerahkan buntalan berisi aneka kain.


“ayo!! Jangan malas. Cepat! Cepat!” ucap pelayan itu mengajakku menuju kedai.


Depan kedai seorang gadis muda dengan banyak barang bawaan mendekati kami. “kepala pelayan Sung kenapa lama sekali. Pasar ini kan banyak orang”


“maaf putri saya sudah datang dengan kuli yang anda minta”


“oh.. ayo cepat bawakan” ucap gadis itu tanpa melihatku.


Wajahnya familiar, aku pernah melihatnya tapi entah dimana. “kepala pelayan, tuanmu dari keluarga mana? Aku pernah melihatnya” ucapku pada pelayan itu.


“ck.. tutup mulutmu. Kau siapa berani menanyakan tuan putri. Lihat dulu statusmu. Walau kau gagah dan tampan jika hanya kuli panggul ku harap dimimpipun tidak menanyakan ucapan seperti itu.” Bentak pelayan itu padaku.


Ternyata seperti ini. Tidak salah juga Hyung nim menyuruhku memakai pakaian yang lebih pantas. Kepalang basah sudahlah hanya hari ini saja. Lain kali bisa saja aku menghukum kalian sekeluarga dengan mudah.


Tidak ku sangkah jarak dari rumah gadis itu cukup jauh. “jika begitu jauh kenapa tidak bawa kereta barang saja” ucapku.


“aihhh hanya berjarak seperti ini saja minta mereka barang? Kau pikir jika sedikit-sedikit menggunakan kereta barang lalu orang sepertimu tugasnya apa?” ucap gadis itu tetap berjalan tanpa melihat ke arahku.

__ADS_1


Dug.. brak...


Dua orang berlari dari arah belakangku menabrak dan membuatku terjatuh. “bagaimana orang sepertimu tertabrak saja bisa terjatuh. Cih tak punya tenaga.” Ucap salah satu orang yang menabrak dan memunguti barang bawaanku yang tercecer.


Ternyata dia begitu berani. Untung saja kau tidak melihat diriku yang asli. Jika kau sengaja tentu itu penghinaan bagi istana.


“iya maafkan saya.”


“kata maafmu tak berharga. Kau sudah membuatku harus malu di depan gadis yang menwan ini. Benarkan nona ?” ucapnya menatap gadis itu.


“seharusnya saya yang malu sudah ditabrak tapi menanggung salah” ucapku tak mau kalah


“berani kau ? Hon Gu Im cepat pukul orang ini” ucapnya marah.


Aku yang sperti ini jika melawan akan ketahuan. Biarlah luka sedikit dan kita lihat apa gadis itu tak akan tinggal diam.


Bug..bug... bug...


“Sudah cukup! Anda berwawasan kan tuan Rong kenapa begitu payah ? membesarkan masalah yang anda buat sendiri. Hari ini sudah cukup. Kepala pelayan ayo pergi dan ajak kuli itu.” Ucapnya dingin


Di depanku ada bangunan yang penuh pohon bambu, dibukanya gerbang rumah itu. “maaf aku membawamu masuk dari gerbang belakang rumah. Aku akan mengobatimu dulu” ucap gadis itu mengajakku duduk di depan paviliun.


“tuan putri anda jangan mengotori tangan anda. Itu sudah makanan sehari dia.” Ucap kepala pelayan merebut baki yang dibawa gadis itu.


“cukup. Kau bawa semua belanjaan ini ke kamarku dan tutup mulutmu. Ini urusanku” ucapnya berlalu mendekatiku.


“hanya luka lebam. Dikompres dan diolesi minyak ini anda akan sembuh tanpa bekas tuan” ucapnya membersihkan darahku di tangan dan bahu.


“tungg.. tuan?” ucapku tak percaya


“jika anda menyamar, seharusnya totalitas juga penting.” Ucapnya menunjuk diriku.

__ADS_1


“apa anda tidak sadar aroma cendana milik tubuh anda sendiri tuan?” ucapnya menyengir


“berarti pelayanmu dan orang pembuat masalah itu tak punya hidung” simpulku


“ha..ha..ha itu bukan salah mereka tuan. Aromanya tidak seberapa kuat. Hanya aku saja yang ingat saat awal kita bertemu.” Ucapnya menutup baki dan duduk disampingku.


“penciumanmu tajam ya.. seperti kucing” ucapku menyunggingkan senyum da merebahkan badanku disebelahnya.


 “sudah diobati masih meledek. Dasar pembuat masalah. Licik!” celetuk dirinya


“bukan aku yang membuat masalah. Hanya pandangan mereka saja yang buram.” Belaku


“pandangan mereka tidak buram. Pemikiran anda yang menyimpang. Ha..ha...ha”


“hanya pakaian bagaimana bisa mengubah status dengan mudahnya, itu lelucon”


“hanya pakaian bisa mengubah gelar seseorang tuan. Anda harus ingat. Bahkan walau keluarga sendiri saat terhukum pun kadang tidak berstatus terhormat lagi.” Ucapnya menegurku


“misalnya..?”


“seperti kejadian raja terdahulu. Anda tau kan ? seperti apa polemik dan keadaan kini yang berubah” ucapnya enteng


“kau berani sekali sebagai wanita berkata hal terlarang dengan tidak mempertimbangkan nyawamu.”


“jika berkata jujur diabaikan. Jika ucapan tentang peristiwa tak mengenakkan hati dibungkam. Lantas berpura apa bisa jadi pilihan demi keamanan?” ucapnya tidak setuju


“ya.. asalkan nyawa selamat apa salahnya”


“huh. Pantas saja perlakuan orang hanya dilihat dari penampilan” ucapnya berdiri.


“pintu gerbang mau aku tutup. Silahkan melanjutkan perjalanan anda tuan prajurit” ucap dirinya menyuruhku pergi.

__ADS_1


__ADS_2