
Di istana Timur
“kau sungguh menjaga privasimu ya nak..” ucap sang raja melihat hiasan di istana persis seperti awal dibangunnya. “kasim sediakan camilan untuk kami, kami akan berbicara empat mata” ucapku mengkode agar para pengawal dan kasim yang berjaga menjauh.
Ku lihat Ah ba mama mengeluarkan sekantong buntalan dari saku jubahnya. “nak... berikanlah ini nanti sebagai mas kawin bagi dia yang setia denganmu. Kau tau ? meskipun wanita bukan tujuan kita sebagai pemimpin, tapi memimpin dan bersanding dengan yang dicintai itu menentramkan.” Ucapan sang raja berbeda dari biasanya.
Wajah yang kini dihadapanku seperti seorang ayah yang menginginkan kebahagiaan anaknya. Berbanding terbalik dengan sosok yang dikenal para tawanan, dan para pengawal istana, sosok yang lalim tak kenal ampun.
“ha... anda membuat saya tergelak Ah ba mama. Anda menyuruh saya mencari pasangan hidup sesuai keinginan saya dan di sisi lain menjadi raja yang berhasil. Ck..ck..ckkk” ucapku menujuk dirinya.
“apa maksudmu ?” tanya sang raja dingin.
“anda tau ini dimana ? bagaimana mungkin gadis polos yang aku inginkan bisa masuk ke sini jika pintu gerbang yang dilapisi para penjabat itu terlalu tinggi. Walau aku ingin itu sungguh tak mungkin ah ba mama”
__ADS_1
“tentu bisa. Bantuan para menteri dengan standar yang tinggi menjadi hal yang pantas untuk mendapatkan mantu terbaik wang sejaku”
“bantuan ? bantuan yang menguntungkan diri sendiri bagi mereka maksudmu?” ucapku menggertak.
“terserah menurut pandanganmu. Tapi ingatlah. Posisi puncak itu runcing, hanya ada satu orang yang bisa berdiri dan lainnya menatap wang seja”
“jika puncak tanpa kawan ini membahagiakan aku tak mempermasalahkan” ucapku menantang.
“hari ini aku hanya ingin meyerahkan ini saja, sampai jumpa saat makan malam” ucap ah ba mama pergi meninggalkan buntalan kecil di meja yang ku hadap.
Melalui gerbang istana yang ada di utara aku meninggalkan kediamanku. Jemu dengan suasana formal yang terasa lamban.
“hei, Hyung apa kau disini ?” teriakku di depan bangunan kecil yang tertutupi semak. “sudah ku bilang aku bukan Hyung nim mu wang seja choha” ucap laki-laki yang berpenampilan sederhana.
__ADS_1
“haiss, jika tak ada orang tak masalahkan ? aku sendiri memang tidak punya kakak, kau sendiri tidak punya adik.” Degggg... suasana menjadi canggung.
“dia masih hidup, aku punya seorang adik dan anda sudah tau itu” ucap dirinya sendu.
“hoo.. pinjami aku baju rakyat lagi. Aku ingin berkelana atau berburu.” Ucapku berlari ke kamarnya membuka jubah pangeranku.
“anda orang yang aneh wang seja choha, istana yang punya banyak kain dan pelayan serta para tukang jahit kenapa tidak anda suruh”
“itu sama saja membuka jubahku pada mereka. Semua akan tau kedokku” ucapku berganti pakaian sangmin
“seharusnya pakaian yanban lebih pantas wang seja choha”
“sama saja. Mau itu yanban, sangmin, cheomin, semuanya sama. Hanya pakaian yang berstatus tidak akan merubah kepribadian orangnya.” Ucapku mengingatkan.
__ADS_1
“terserah anda wangh seja choha, tapi pandangan diluar apakah sudah sama dengan penilaian anda. Silahkan dinikmati” ucap dirinya membukakan aku pintu.
**************