
..."Jangan lah bersifat ragu untuk melakukan sesuatu atau hati mu akan membeku di hamparan salju."...
Pandangan yang menabjukan mata, suhu dingin bertebaran di udara. Cuaca yang begitu ekstrim ternyata menjadi sebuah tempat yang cukup indah untuk dijadikan pemadangan mata. Udara dingin membawa gumpalan salju berterbangan kesana kemari. Suara angin yang kencang disertai rintik rintik putih berjatuhan.
Ria mengarahkan tangannya ke atas dan rintik rintik putih yang biasa di sebuah puing salju itu berjatuhan ditangannya. Rasanya menabjukan memegang sebuah puing puing salju. Tangannya terasa menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Tak ada kata yang bisa diungkapkan untuk mengungkapkan keindahan alam yang mungkin berbahaya ini.
Ria memulai perjalanan nya untuk mencari sang penjaga alam yang dingin ini. Saat berjalan tak disangka sangka ia menemui sebuah bangunan bangunan yang dibentuk dari es. Bangunan itu seperti rumah dan sepertinya memiliki penghuni. Di depan bangunan bangunan itu ada sebuah api unggun yang menyala.
Dengan Percaya diri, Ria segera menghampiri rumah yang terbuat dari es tersebut. Ia mengetuk rumah tersebut dan dibukakanlah sebuah pintu dari rumah tersebut.
"Permisi apakah ada seseorang di dalam." Ucap Ria sambil mengetuk pintu.
"Hmm... Siapa kamu, kenapa kamu bisa berada di alam sini." Tanya seseorang yang keluar dari rumah dan melihat Ria.
"Maaf, sebelumnya perkenalkan namaku Ria, aku adalah seorang roh yang sedang mencari buah kerd dan jalan keluar dari alam ini." Ucap Ria
__ADS_1
"Nama yang unik nak, kamu sedang mencari buah kerd? Itu hanyalah buah dongeng yang dipercaya dapat menghidupkan roh kembali ke dunia sebelumnya. Sudahlah berhenti saja untuk mencari buah yang hanya khayalan itu." ucap roh itu.
"Tidak akan, aku akan berjuang untuk dapetin buah itu walaupun hasilnya bakalan kosong tetapi satu hal yang pasti, dengan prinsup usaha tak akan mengkhianati hasil, aku akan mendapatkan buah yang katanya hanya khayalan itu." Ucap Ria
"Dasar Roh keras kepala, Lalu kamu menemuiku untuk apa nak?." Ucap roh tersebut.
"Aku ingin mencari jalan keluar untuk keluar dari dunia ini." Balas Ria
"Alam ini dikenal dengan prinsip tekad, jadi belajarlah untuk menjaga tekadmu. Kamu harus pergi berjalan ke arah alam es yang semakin dalam, bahaya mungkin akan semakin banyak. Tetapi kamu bisa menemukan sang penjaga alam ini disana." ucap roh itu
"Baiklah terimakasih atas informasinya, aku akan pergi berangkat untuk segera memasuki area dalam di alam es ini." balas Ria
Suara hembusan angin yang terdengar begitu keras, sehingga suara lainnya dikalahkan oleh hembusannya. Saat di perjalanan yang suara nya ditutupi oleh hembusan angin, tiba tiba ada bongkahan es yang sangat besar menutupi jalan Ria. Ia terjebak oleh bongkahan tersebut dan tak dapat melanjutkan perjalanan ini. Ria kembali harus dibuat putar otak untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Ia berpikir apakah saatnya mengeluarkan air yang diberikan oleh penjaga kedamaian, tetapi otaknya bekerja, bahwa sebuah air yang dituangkan ke es tak akan memberi dampak apa apa terhadapnya, jadi Ria mengurunkan niatnya untuk menggunakan tetesan air tersebut, dan berpikir bahwa tetesan air ini akan lebih berguna saat suatu situasi di lain waktu.
__ADS_1
Bongkahan es yang menjadi penghalang Ria, kurang lebih seperti penghalang yang ada di alam sebelumnya dan yaitu penghalang roh, yang hanya dapat di tembus oleh benda benda selain roh, untuk membukanya membutuhkan kunci dari seorang penjaga alam tersebut. Kini berbeda situasinya, waktu itu ia diberi sebuah daun yang ternyata berguna sebagai kunci, kini ia tak memiliki apa apa untuk di jadikan kunci yang bisa membuka bongkahan itu.
Ria tiba tiba terpikirkan akan suatu hal yang menurutnya, ia harus memikirkannya sejak awal bongkahan es itu tepat di depannya. Ia ingat bahwa kini ia memiliki sebuah tongkat sihir api yang bisa memudahkan perjalanannya.
"Astaga kenapa aku bodoh sekali, tidak berpikiran untuk menggunakan tongkat yang diberikan tadi." Gumam Ria
Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke bongkahan es itu, tetapi Ria tidak tahu cara untuk menggunakan benda itu. Ia lupa menanyakan kepada sang penjaga keberanian, Ia mengayunkan tongkat sihir itu dan mengarahkannya ke arah bongkahan es dan tak terjadi apa apa kepada bongkahan tersebut. Entah bagaimana cara mengoprasikan tongkat sihir yang ia pegang.
Ria pantang menyerah dan terus menerus mengulangi gerakan yang berbeda beda dan berharap tongkat sihir itu bisa mengeluarkan sihir untuk membantunya melewati bongkahan es di depannya. Saat Ria mencoba gerakan terakhirnya keluar lah api dari tongkat itu dan membuat Ria terkejut. Api yang keluar mengagetkan Ria dan membuatnya tak percaya bahwa ia baru saja bisa mengeluarkan api dari tongkat sihir pemberian Sang penjaga prinsip di alam tandus. Ria kembali mengangkatnya dan mengeluarkan gerakan yang sama seperti saat api berhasil keluar dari tongkatnya dan ia berteriak agar terlihat seperti penyihir penyihir lainnya.
"Adazio esferato." Ucap Ria dan mengarah kan tongkatnya ke bongkahan es
Api itu keluar dari tongkat Ria dan melesat ke arah bongkahan es itu dengan cepat. Selang beberapa detik es itu bukan meleleh tetapi malah pecah menjadi kristal kristal kecil. Ria menutup mata dengan lengannya agar serpihan serpihan itu tak mengenainya. Kini ia dapat melanjutkan perjalanan karena sudah tak ada penghalang lagi di depannya. Perjalanan terasa semakin dingin, rasa menyerah pun memenuhi perasaan di hati Ria. Ia memutuskan duduk untuk beristirahat dann menciptakan api unggun dengan menggunakan sihirnya.
"Adazio esferato." Teriak Ria mengarahkan sihirnya ke suatu tempat
__ADS_1
Api itu keluar dari tongkat sihirnya tetapi saat sampai di tanah yang tertutup salju itu, api yang diciptakan oleh tongkat sihir Ria lenyap seketika dan tak meninggalkan panas sedikitpun. Perjalanan Ria sepertinya akan berhenti sementara karena ia sudah sangat kelelahan berpikir dan perjalanan yang ia lalui sudah sangat panjang. Ia beristirahat tanpa menyalakan api unggu di sekitarnya.
Cuaca dingin terus menyelimutinya, hatinya seperti mulai mengeras karena dinginnya cuaca yang tak ada hentinya membawa salju salju ber terbangan. Mata Ria seperti mulai terlelap dan badan ia sudah hampir melemas seluruhnya. ia terpejam dan berharap semoga tak ada lagi yang menganggu mimpinya seperti saat saat sebelumnya. Yang ia inginkan saat ini adalah beristirahat tanpa gangguan dan dapat beristirahat dengan tenang meskipun dalam kondisi yang tak menguntungkan.