Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)

Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)
Penerbangan


__ADS_3

Penerbangan ke negara M akhirnya sudah didepan mata. Diva bersiap-siap berangkat dengan didampingi oleh para bodyguard yang berada disekitarnya namun tetap tidak nampak dan tidak menonjol didepan umum.


"Selamat siang nona, boleh lihat tiket dan paspornya?" tanya seorang petugas pintu masuk bandara saat Diva hendak masuk ke ruang tunggu setelah check in dengan mesin. Karena negara M termasuk salah satu negara yang bisa dikunjungi tanpa visa, maka persyaratan yang diminta hanya berupa tiket pesawat dan paspor saja.


"Ini" gadis itu langsung menyodorkan persyaratan yang diminta.


"Baik, terima kasih, semoga perjalanan anda menyenangkan" setelah memeriksa data diri dan kecocokannya dengan kartu tanda pengenal, maka gadis itu pun bisa masuk dan menunggu pesawatnya.


Sambil menunggu pesawat, Diva sibuk mencari informasi tentang geng mafia yang menjadi gembong narkoba di negara M. Ia sama sekali tidak mempedulikan keberadaan orang-orang disekitarnya. Bahkan ketika ada seorang pria yang sejak ia datang terus memperhatikan dengan seksama.


..........


"Maaf permisi" karena Diva mendapat kursi di ujung sebelah jendela pesawat, maka ia harus berjalan melalui kursi orang lain dengan agak miring terlebih dahulu sebelum ia sampai di kursinya sendiri.


"Silahkan" jawab orang tersebut yang tidak lain adalah pria yang sejak tadi memperhatikan Diva saat duduk di ruang tunggu mengamatinya.


"Terima kasih" angguk Diva sambil kemudian dia duduk dan mencari posisi nyamannya.


"Nona mau ke negara M?" tanya sang pria setelah pesawat yang ditumpangi lepas landas.

__ADS_1


"Iya" angguk Diva dengan senyum.


"Nona tinggal di sana?" tanyanya lagi.


"Tidak, saya hanya akan liburan saja" jawab Diva sekenanya.


"Ohhhhhh" dia hanya ber oh ria saja sambil mengembangkan senyum manisnya.


"Apa nona sudah tau destinasi wisata apa saja yang akan dikunjungi selama di negara M nanti?" sang pria seperti mencari celah untuk dapat mengobrol dengan Diva.


"Sudah, nanti teman saya yang akan memandu selama disana" Diva menjawab sekedarnya karena ia sudah mulai mencium gelagat pria ini yang ingin melakukan pendekatan dengannya.


"Terima kasih, nanti malah jadi merepotkan" Diva masih memasang wajah manis.


"Ahh tidak kok, aku malah sangat senang" jawab sang pria.


"Eh maaf ya permisi sebentar" Diva memajukan badannya dan memandang dua bodyguard yang biasa menemaninya kemana pun ia pergi.


"Sayanggggg, aku mau duduk bersamamu boleh tidak?" Diva menatap Pram dan Budi dengan penuh makna yang sudah dipahami oleh keduanya dengan sangat baik.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Budi langsung paham dan berdiri untuk bertukar tempat duduk dengan Diva.


"Terima kasih" Diva tersenyum dan kemudian ikut berdiri saat Budi menghampirinya.


"Maaf ya, aku pindah duduk dekat kekasihku, tukeran sama kakak ini" Diva berkata kepada pria yang duduk disebelahnya sambil melangkah keluar dari barisan kursi yang didudukinya.


"Oh iya" dengan kikuk pria itu menjawab.


"Ishhhh menyebalkan sekali, baru juga kenal sudah sok akrab saja!" Diva yang sudah duduk di kursi Budi yang berada di seberang kursinya, kemudian menggerutu kepada Pram yang hanya tersenyum karena paham akan kekesalan majikannya itu.


"Apa nona butuh sesuatu?" tanya Pram dengan sopan.


"Tidak, aku hanya mau tidur saja, nanti tolong bangunkan aku ya om kalau sudah sampai" jawab gadis cantik itu kepada pengawal pribadinya yang sudah setia lebih dari sepuluh tahun.


"Baik nona, selamat istirahat" jawab Pram kemudian.


"Terima kasih" Diva tersenyum ramah kepada Pram sebelum akhirnya menutup mata.


Diva pun kemudian menghabiskan waktu perjalanannya dengan tidur dan mendengarkan musik. Ia hanya sesekali terjaga untuk memastikan bahwa perjalanan mereka masih berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2