
Tok Tok Tok..
"Selamat pagi Nona Diva, anda dipanggil oleh Nona Celia untuk sarapan bersama dengannya dan juga Tuan Dante di ruang makan" Bella mengetuk pinta kamar Diva pada pagi hari berikutnya.
"Aku?" Diva terkejut karena tidak menyangka kalau ia akan makan dalam satu meja bersama dengan pria tampan itu.
"Iya, Nona Celia bilang kalau mulai hari ini anda akan makan bersama dengannya di meja makan, jadi saya tidak perlu membawakan makanan anda ke kamar ini lagi seperti kemarin" angguknya sambil menjelaskan ulang apa yang dikatakan oleh Celia kepadanya.
"Oh begitu ya? Baiklah" meskipun masih sungkan terhadap Dante, namun dirinya memang tidak punya alasan yang cukup kuat untuk tidak makan bersama di ruang makan, mengingat kondisinya sudah jauh membaik, bahkan hanya tersisa lebam saja.
"Mari nona saya antar anda ke ruang makan" Bella memberi jalan kepadanya.
"Terima kasih" Diva mengangguk dan kemudian berjalan menuju ruang makan yang tidak begitu jauh dari kamarnya.
...
"Ahhh kau sudah datang, ayo sini duduk di sebelahku" Celia yang melihat Diva berjalan mendekat langsung menepuk kursi kosong di sebelahnya sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih kak" Diva hanya bisa mengikuti arahan Celia tanpa menoleh ke arah Dante saking gugupnya.
"Bagaimana tidurmu semalam? Apa badanmu masih sakit semua?" Celia begitu memperhatikan keadaan Diva.
"Aku sudah lebih baik kak, hanya tinggal sakit sedikit saja" jawabnya apa adanya.
"Ahhh syukurlah, berarti seperti yang sudah aku duga ya? makanya aku bilang sama Bella untuk mengajakmu makan bersama, karena aku pikir kau pasti sudah jauh lebih baik dari kemarin dan sudah bisa keluar dari kamar" terpancar raut bahagia dari wajah Celia.
"Iya aku sudah tidak apa-apa kok" angguknya.
"Ehemmmmm, ini mau makan atau mengobrol terus?" Dante yang sejak tadi hanya memperhatikan dua gadis yang ada di depannya mengobrol kemudian angkat bicara.
"Ck, kau ini benar-benar kaku seperti kanebo kering saja!" Celia berdecak kesal melihat Dante yang tidak sabaran.
__ADS_1
"Kalau kalian masih mau mengobrol, aku mau makan duluan" tidak berekspresi sama sekali.
"Iya-iya ayo kita makan" Celia pun kemudian mulai membalikkan piringnya.
"Ayo Diva makan yang banyak ya, biar kau semakin sehat" menyodorkan piring berisi makanan kepada gadis di sebelahnya.
"Iya kak terima kasih" mengambil sedikit sebagai bentuk rasa hormatnya karena sudah disuguhi.
"Sama-sama" menjawab sambil meletakkan piring kembali ke tempat asalnya.
"Oya Dante, apakah sudah ada perkembangan terbaru mengenai Emily? Jadi kapan aku bisa keluar rumah?" sejak kemarin Celia masih saja terus bertanya kepada Dante.
"Kau ini tuli atau amnesia sih? Kemarin kan sudah aku bilang, tunggu saja sampai waktunya tiba!" mendengar pertanyaan yang sama sejak kemarin membuat Dante menjadi kesal kepada Celia.
"Tapi aku benar-benar sudah bosan dan mati gaya berdiam diri di dalam rumah terus seperti ini!" mengunyah makanannya sambil memggerutu.
"Kan aku sudah bilang, kau tetap bisa beraktivitas di dalam rumah untuk menghilangkan kejenuhan, jadi tidak perlu ke luar rumah" Lagi-lagi memberi usul seperti kemarin.
"Aku kan bukan ibu rumah tangga!" sangat kesal dengan usul Dante.
"Nona, kau bisa masak tidak?" tiba-tiba ide konyol muncul di kepala Dante.
"Eh aku?" Diva menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau" pria itu mengangguk.
"Bisa" menjawab dengan spontan tanpa berfikir panjang.
"Nah lihatlah, nona ini saja bisa, masa kau yang lebih dewasa dari dia tidak bisa!" kini Dante mencibir Celia.
"Kau beneran bisa masak?" Celia tidak percaya, karena jika dilihat dari penampilan Diva, ia layaknya nona besar yang tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur sama sekali.
__ADS_1
"Kebetulan mamaku adalah seorang chef, jadi sejak kecil aku sudah banyak belajar memasak berbagai jenis masakan" jelas cucu keluarga Anderson itu.
"Kalau begitu bantulah aku untuk mengajari dia belajar memasak supaya dia tidak jenuh dan berkicau minta keluar rumah sepanjang waktu" Dante meminta Diva mengajari Celia memasak.
"Aku!?" kembali menunjuk dirinya.
"Iya, kau" jawab Dante dengan yakin.
"Kalau kau berhasil mengajarkan Celia memasak, nanti sebagai imbalannya kau bisa mewawancaraimu, seperti yang kau inginkan semalam!" negosiasi pun dimulai.
"Benarkah?" mata Diva langsung terbelalak dengan pancaran penuh kebahagiaan.
"Tentu saja, aku ini bukan pembohong, kau bisa memegang ucapanku" jawabnya dengan menyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu, aku setuju" tidak ada lagi rasa malu atau sungkan di dalam diri Diva.
"Deal" Dante mengulurkan tangan dan disambut oleh Diva.
"Deal" menggenggam tangan pria itu dengan erat sebagai tanda perjanjian keduanya.
"Ehhhh apa-apaan ini? Kenapa kalian membuat perjanjian semacam ini tanpa melibatkan aku? Memangnya kalian pikir aku mau apa!?" Sementara Celia yang menjadi objeknya protes.
"Emmmm kak Celia jangan marah, nanti kita mulai dari yang sederhana dan mudah saja ya, kakak pasti suka deh memasak di dapur" Diva berusaha membujuk.
"Kau kenapa jadi berpihak pada dia sih?" Celia protes kepada Diva.
"Tidak, aku tidal berpihak pada siapa pun kok, aku hanya ingin membantu kakak saja" ia tidak mau kehilangan kesempatan emas untuk bisa melakukan wawancara eksklusif dengan Dante Alejandro tersebut.
"Tetap saja kau berpihak padanya" Celia sangat kesal.
"Kau ini harusnya bersyukur karena Diva mau membantumu menjadi wanita seutuhnya, kenapa malah menggerutu. Lagian kan kau sendiri yang bilang sangat bosan di rumah, makanya aku bantu carikan kegiatan yang menarik untukmu supaya tidak bosan lagi!" Senyum licik terpancar dari Dante.
__ADS_1
"Tau ah, kalian menyebalkan!" Celia yang sudah tidak bisa menolak, akhirnya menghabiskan makanannya sambil menggerutu, sementara Diva dan Dante tidak menghiraukan gerutuan itu karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Diva dengan rencana wawancaranya, sementara Dante dengan rencananya menghabisi Emily.