
"Silahkan masuk" pengawal yang mengantarkan Diva ke dalam gedung itu kemudian mempersilahkannya masuk.
"Terima kasih" Diva mengangguk sambil tersenyum. Ia yang diajak oleh sang pengawal masuk ke dalam ruangan yang bentuknya sangat misterius kemudian mengeksplor setiap sudut tempat tersebut.
"Tunggulah di sini, bos besar akan segera datang" kata pengawal itu lagi kepada Diva.
"Baik" rasa campur aduk berkecamuk di hati gadis itu karena hal yang dia impikan selama ini akan segara terjadi.
Cukup lama Diva menunggu orang yang paling berkuasa di dalam bisnis gelap tersebut. Namun hal itu tidak membuatnya merasa bosan sama sekali, bahkan ia menjadi sangat bersemangat dan berapi-api.
"Ehemmmm" seorang pria paruh baya berdeham di depan pintu yang baru saja terbuka lebar.
"Selamat pagi" Diva dengan spontan berdiri dari duduknya.
"Pagi" jawab pria bertubuh tambun itu dengan seringai senyum yang aneh. Terlihat giginya mulai keropos dan berwarna hitam, kemungkinan besar karena efek dari obat-obatan terlarang yang dikonsumsinya.
"Perkenalkan nama saya Gadiva Anderson" gadis itu menyodorkan tangannya dengan sopan.
"Nama yang cantik, secantik wajahnya" meraih tangan yang disodorkan oleh Diva.
"Terima kasih" tersenyum sambil mencoba menarik tangannya yang sedang berada di dalam genggaman tangan pria itu.
"Ayo kita duduk" bukannya melepaskan tangan gadis itu, tapi ia malah menariknya semakin mendekat.
"Emmm maaf tuan" Diva memberi kode untuk menarik dirinya menjauh.
__ADS_1
"Jangan sungkan, anggap saja ini rumahmu sendiri" pria itu menyeringai kembali dengan sangat misterius.
"Iya terima kasih" meskipun merasa risih, namun Diva masih berusaha tetap bersikap sopan.
"Kau mau minum apa?" setelah memastikan Diva duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan, pria pun itu kemudian mengambil sebotol minuman berwarna merah marun.
"Tidak usah repot-repot, saya tidak haus kok" menolak dengan halus.
"Nona cantik kenapa malu-malu segala?" sambil menyodorkan segelas wine kepada Diva.
"Tidak, saya bukannya malu, tapi saya memang tidak minum itu" melambaikan tangan tapi tetap dalam mode tersenyum sopan.
"Icip icip dulu saja, ini dari anggur dengan kualitas terbaik loh" tetap memaksa agar Diva mau menerimanya.
"Gadis yang pintar" lagi-lagi seringainya terlihat janggal, bagaikan serigala yang siap menerkam mangsanya.
"Oke, jadi katakan padaku apa yang kau inginkan?" ia duduk di sofa panjang dan memposisikan dirinya bersebelahan dengan Diva.
"Jadi begini, saya ingin membuat sebuah tulisan tentang sepakterjang bisnis di negara M yang selama ini sangat terkenal di dunia, dan teman saya merekomendasikan anda sebagai narasumbernya karena anda dianggap sangat berkompeten di bidang bisnis" Diva merasa berkobar lagi.
"Hemmm, begitukah? memangnya kau tau bisnis apa yang aku jalankan?" menelisik wajah Diva yang terlihat sangat polos.
"Sejujurnya saya tidak begitu paham bisnis apa saja yang anda miliki, namun dari informasi yang diberikan oleh teman-teman, saya yakin bahwa bisnis anda adalah bisnis yang sangat luar biasa" gadis itu mulai mengimbangi pertanyaan sang pria dengan lihai.
"Begitukah?" wajahnya sudah benar-benar tidak bisa berbohong lagi, ia terlihat begitu kelaparan dan siap menerkam mangsanya yang berada tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Tentu saja" angguk Diva penuh antusias.
"Jadi apakah bisa kita mulai sekarang?" karena semangatnya sedang berkobar, maka Diva seketika itu juga melupakan kejadian yang baru saja ia alami.
"Kenapa kau terburu-buru? bukankah kita masih punya banyak waktu?" berkata sambil menggeser posisi duduknya agar semakin dekat ke arah Diva.
"Emmm tuan, anda mau apa?" gadis polos itu berusaha menghindar.
"Dengarkan aku, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang gratis, jika kau ingin mendapatkan berita besar dariku, maka kau juga harus siap untuk memberikan imbalan yang setimpal kepadaku" tangannya mulai mencoba meraih tubuh Diva.
"Tuan apa yang ingin anda lakukan?" tubuh Diva bergetar dengan hebat.
"Jangan takut, kau pasti akan menyukainya" kini tangannya sudah mendarat di pipi mulus gadis yang belum pernah terjamah oleh pria manapun itu.
"Tolong jangan begini, aku mohon jangan" Diva terus meronta dan menepis pria yang semakin merangsek maju.
"Jangan munafik kau, aku tau kau sudah sering melakukannya!" pria itu sudah seperti orang yang kerasukan dan semakin menggila. Ia mencoba melucuti setiap lembar pakaian yang dikenakan oleh Diva.
"Tolongggggg, tolongggggg, tolonggggggg" dengan sekuat tenaga ia berteriak sekencang-kencangnya.
"Percuma saja kau berteriak karena tidak akan ada yang menolongmu di sini" katanya tanpa perasaan kasihan sama sekali.
"Tolong aku mohon, aku hanya ingin bekerja saja hiks hiks hiks" isak tangis Diva pecah karena tubuhnya sudah nyaris terbuka.
"Ahahahahahahaha" bukannya berhenti, pria itu malah semakin menjadi-jadi.
__ADS_1