
"Kau mau kemana lagi hari ini?" Arneta bertanya kepada Diva saat mereka sedang berjalan menyusuri jalanan ibukota negara M.
"Menurutmu tempat seperti apa yang bisa merepresentasikan kehidupan hedonisme kaum urban di negara ini?" Diva balik bertanya kepada temannya itu.
"Hemmmmm tempat apa ya?" berfikir sejenak.
"Sebenarnya ada sih tempat yang bisa dijadikan representasi, tapi memang agak sedikit rawan dan beresiko kalau kita masuk tanpa pengamanan yang ketat" jawabnya.
"Memangnya kenapa?" Diva mengernyitkan dahi.
"Tempat itu terkenal sebagai tempat yang sangat berkelas dan sering dijadikan sebagai ajang adu gaya hidup, tidak jarang terjadi perkelahian dan baku tembak disana karena memang tempatnya sangat bebas dan pihak keamanan pun tidak bisa menyentuhnya karena sang empunya adalah mafia kelas kakap!" jelasnya.
"Woahhh seruuuu, aku mauuuu" gadis itu merasa sangat bersemangat.
"Apa kau yakin?" Arneta mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" karena merasa memiliki bodyguard yang cukup banyak untuk membantunya jika mengalami sebuah kendala, maka Diva tidak merasa khawatir sama sekali.
"Ya aku hanya tidak yakin saja, apalagi kau hanya turis pendatang yang belum tau apa-apa, pasti resikonya akan sangat tinggi!" masih merasa takut.
"Tenang saja, kita pasti akan baik-baik saja kok!" mencoba meyakinkan.
"Baiklah" akhirnya terpaksa mengikuti keinginan sang teman.
__ADS_1
..........
"Ya ampun, asli ini keren sekali!" Diva terkagum-kagum dengan tempat yang ditunjukkan oleh Arneta.
"Apa ini sesuai dengan harapanmu?" Arneta bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja, ini bahkan melampaui dugaanku, aku tidak menyangka kalau tempatnya akan sebagus ini!" Diva tidak bisa menutupi rasa kagumnya terhadap tempat yang belum pernah ia singgahi sebelumnya.
"Bahkan tempat ini layaknya miniatur Las Vegas!" menatap kesekeliling.
"Ya kau benar, tempat ini memang dibangun layaknya tempat hiburan itu!" Arneta senang karena Diva merasa puas.
"Ayo kita masuk!" Diva melenggang memasuki sebuah kasino yang berdiri megah dihadapannya.
"Iya" dengan rasa khawatir Arneta kemudian mengikuti Diva masuk ke dalam kasino bersama kekasihnya dan juga sang calon adik ipar laki-lakinya.
"Diva, jangan bilang kau mau menghabiskan uangmu di sini!" temannya menatap dengan penuh arti.
"Ahhh tidak, aku hanya ingin mencoba beberapa permainan saja kok!" jawabnya sambil sibuk mengikuti instruksi permainan yang sedang ia jalani tersebut.
"Woahhhhhh lihatlah aku menang!" putri dari Dimas dan Gaby berjingkrak kegirangan.
"Bisa cepat kaya aku kalau main ini terus!" celotehnya sambil mengumpulkan uang yang ia peroleh dari hasil bermain judinya itu.
__ADS_1
"Divaaaaa!" Arneta mulai kesal karena temannya jadi tidak fokus menjalankan misi utamanya.
"Iya iya hanya bercanda kok hehehehe" terkekeh melihat ekspresi sang teman yang sangat khawatir.
"Sudah ayo kita keliling dulu, aku mau lihat-lihat lagi permainan yang lain, sekalian mau mendokumentasikannya!" kemudian menarik tangan Arneta dan menggandengnya. Sementara itu kedua pria yang mengantar mereka berjalan mengikuti tepat di belakangnya.
..........
"Eh ada apa sih, kok ramai sekali di sana?" Diva berjalan menghampiri kerumunan orang di sebuah sudut kasino.
"Loh itukan?!" gadis itu terkejut saat melihat pria yang kemarin menabraknya di depan toilet cafe.
"Ternyata sedang ada Dante Alejandro ya disini?" Arneta menyebutkan nama pria itu dengan penuh rasa kagum.
"Kau mengenal pria itu?" Diva bertanya kepada temannya dengan heran.
"Tentu saja, dia itu kan seorang bangsawan kaya raya yang sangat terkenal, siapa yang tidak mengenalnya di negara M ini coba!?" Arneta menjelaskan.
"Dante Alejandro!?" Diva tiba-tiba membeo menyebutkan nama pria itu.
"Iya, dia itu sedang digadang-gadang jadi gubernur baru di ibukota ini" menjelaskan kepada Diva.
"Jadi gubernur di ibukota?" lagi-lagi membeo ucapan Arneta.
__ADS_1
"He em,, dia itu,," angguk sang teman sambil hendak menjelaskan kepada Diva.
"Heeeiiii kau mau kemana!?" namun belum sempat Arneta menjelaskan lebih lanjut, Diva sudah berjalan menjauhinya dan semakin mendekati kerumunan itu.