Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)

Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)
Markas Gembong Narkoba


__ADS_3

"Apa kau sudah siap?" keesokan harinya Arneta datang lebih awal untuk menjemput Diva.


"Tentu saja" jawab Diva dengan semangat.


"Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga" Ia yang sudah merencanakan wawancara dengan ketua geng narkoba langsung membawa tas ranselnya menuju mobil.


"Ya sudah ayo kita jalan" Arneta kemudian membukakan pintu mobilnya.


"Huffffff" meskipun semangatnya begitu membara, namun di dalam lubuk hatinya sang Diva masih merasa ada yang mengganjal.


"Kenapa lagi?" tatap Arneta penuh selidik.


"Aku masih penasaran dengan Dante Alejandro, setelah ini semua selesai aku pasti akan kembali ke sana dan mewawancarainya!" Cucu perempuan dari keluarga Anderson itu tetap berusaha optimis.


"Kau gila? Kau itu sudah ditolak mentah-mentah oleh mereka kemarin, apa tidak malu kalau datang lagi!?" sang teman tidak paham dengan pola pikirnya.


"Yang namanya pencari berita itu tidak boleh mudah putus asa, kau harus terus mencoba dan mencari celah agar informasi yang kau inginkan dapat kau peroleh!" gaya sok profesional terpancar dari wajahnya.


"Tapi Dante itu orangnya tidak mudah ditakhlukkan, ia adalah orang yang sulit disentuh oleh media, bahkan pikirannya sangat sulit ditebak!" Arneta yang sudah cukup lama menetap di negara M cukup paham dengan berita miring yang beredar tentang pria itu.


"Aku tau, tapi aku akan tetap mencobanya lagi, kalaupun gagal, setidaknya aku kan sudah pernah mencoba dan berusaha semaksimal yang aku bisa" katanya.


"Ck, terserah padamu lah kalau begitu, aku tidak peduli lagi!" karena selalu kalah berdebat dengan Diva, maka Arneta pun pada akhirnya selalu mengalah dan menuruti segala keinginan sang teman.

__ADS_1


"Nah gitu dong hehehehe" Diva memeluk Arneta sambil tersenyum penuh arti.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dijanjikan oleh gembong narkoba itu pun mereka pakai untuk mengatur rencana wawancara yang akan dilakukan nanti serta beberapa rencana tambahan untuk mewawancarai Dante Alejandro.


.........


"Kenapa tempatnya aneh begini sih?" Diva yang baru turun dari mobil pun kemudian menatap ke arah bangunan besar dihadapannya yang terkesan kumuh tersebut.


"Namanya juga markas gembong narkoba, ya pasti dipilih yang tidak bagus dan tidak mencolok lah!" Arneta mencoba menjelaskan.


"Hemmm begitu ya?" masih belum beradaptasi dengan tempat tersebut.


"Ayo masuk, kau sudah ditunggu di dalam" gadis blasteran negara M itu kemudian memberi kode kepada Diva untuk mengikuti dirinya dan juga sang kekasih serta calon adik iparnya yang sudah lebih dulu berjalan di depan.


"Oh jadi kalian orangnya?" karena sudah mendapat informasi tentang kedatangan mereka berempat, sang pengawal pun kemudian menatap tamunya dengan seksama secara bergantian.


"Iya benar, kami orangnya" angguk kekasih Arneta.


"Siapa yang ingin mewawancarai bos?" tanya pengawal itu lagi.


"Kami semua" jawab kekasih Arneta lagi.


"Kata bos, hanya satu orang saja yang diijinkan masuk, yaitu wartawan yang ingin mewawancarainya saja, sisanya tunggu di sini!" karena informasi yang diperoleh diawal adalah hanya satu orang wartawan dari luar negeri yang ingin mewawancarai, maka ijin yang diberikan pun kemudian hanya untuk satu orang tersebut saja.

__ADS_1


"Tapi kami ini satu tim" karena merasa khawatir dengan kondisi yang tidak sesuai harapan, Arneta pun akhirnya ikut bicara.


"Maaf tidak bisa" geleng sang pengawal.


"Ada apa?" Diva yang tidak paham dengan bahasa mereka jadi penasaran.


"Mereka hanya mengijinkan satu orang saja yang masuk, sisanya disuruh tunggu di luar" Arneta menjelaskan.


"Ya sudah biar aku saja yang masuk, kalian tunggu di sini" tanpa ada rasa cemas sedikit pun Diva berkata dengan percaya diri.


"Apa kau sudah gila, ini tempat yang berbahaya, kita berempat masuk bersama saja belum tentu bisa keluar dengan selamat, apa lagi hanya kau sendiri!" Arneta jelas sangat takut dengan ide Diva.


"Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja kok" Diva berusaha menenangkan Arneta.


"Tapiiii," Arneta tidak yakin.


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja, percayalah!" sang calon wartawan tersenyum riang. Meskipun ada rasa gentar, namun ia tetap berusaha optimis.


"Aku masuk ya, kalian disini saja" kemudian Diva berbalik ke arah pengawal yang berjaga.


"Let me in" kata Diva dengan lantang.


"Oke" angguk sang pengawal sambil membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Diva masuk, sementara ketiga orang yang lain tetap menunggu di luar.

__ADS_1


__ADS_2