
"Diva, apa kau yakin ini rumahnya?" Arneta menatap tidak percaya saat dirinya menatap bangunan mewah yang berdiri dengan megah di depan matanya.
"Kalau dari yang aku lihat sih alamatnya memang benar yang ini" angguk Diva dengan yakin.
"Tapi apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" meskipun bangunannya sangat mewah, namun kesan yang ditunjukkan begitu mengerikan karena adanya sejumlah pengawal yang berjaga ketat di depan gerbang.
"Kok pulang sih? Kita kan mau ketemu sama Dante Alejandro!" Diva merasa kesal karena sikap Arneta yang berubah setelah melihat situasi di rumah mewah tersebut.
"Apa kau tidak lihat itu, banyak sekali pengawalnya, pasti kita tidak akan lolos" sang teman menunjuk sejumlah pengawal yang sedang berjaga di pos pengamanan rumah itu.
"Ya mana kita tau bisa lolos atau tidak mewawancarai Dante Alejandro kalau kita belum mencoba!?" Diva berusaha optimis dan meyakinkan temannya.
"Hei kau mau apa?" Arneta sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan Diva.
"Kau tunggu disini saja dulu, aku akan kesana sebentar" kata sang Diva sambil berlari kecil menuju kerumunan pengawal yang berjaga di depan gerbang.
..........
"Permisi, apakah ini benar kediaman tuan Dante Alejandro?" tanya Diva dengan rasa percaya diri.
"Benar nona, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu pengawal.
"Aku ingin mewawancarai beliau terkait dengan pencalonan dirinya sebagai gubernur" gadis itu menyodorkan kartu identitasnya.
__ADS_1
"Mohon maaf, tapi tuan Dante sedang sibuk, tidak bisa menerima tamu saat ini" tanpa bertanya kepada sang empunya rumah, pengawal tersebut langsung menolak Diva secara mentah-mentah.
"Tapi tuan, anda kan belum bertanya kepada tuan Dante, siapa tau dia mau menerima permohonan wawancaraku?!" kata Diva.
"Maaf tidak bisa nona" tetap menolak.
"Tapi kemarin dia mau kok berbicara padaku!" sang calon jurnalis tetap teguh pada pendiriannya.
"Mohon maaf nona" dengan sopan pengawal itu berusaha memberi pengertian.
"Tapiii,," Diva tetap bersikeras.
Perdebatan terjadi cukup alot diantara Diva dan para pengawal yang berjaga di depan gerbang.
..........
"Ada apa Celia?" Dante yang mendengar ada suara ribut dari halaman depan rumahnya pun langsung melongok ke arah jendela.
"Itu,," Celia yang sudah berdiri terlebih dahulu diambang jendela menunjuk ke arah Diva.
"Gadis itu??" Dante terkejut melihat gadis yang pernah mewawancarainya itu berdiri di depan gerbang dan beradu mulut dengan para pengawalnya.
"Kau mengenalnya?" Celia memicingkan mata ke arah Dante.
__ADS_1
"Dia mewawancaraiku kemarin" jawab Dante dengan santai.
"Dia juga yang menatapmu dengan kagum di cafe tepi pantai waktu itu kan?" Celia menggoda.
"Aku lupa" meskipun ia mengingatnya, tapi menolak untuk mengakuinya.
"Ah masa? Dia itu cantik loh, sepertinya dia sangat mengagumimu" sang gadis menggoda.
"Dia itu hanya wartawan muda yang sedang memburu berita" sanggah sang pria tampan.
"Aku rasa dia tidak hanya berburu berita saja, tapi dia juga mengagumimu" senyum jahil tersungging di wajah Celia.
"Jangan berfikir yang aneh-aneh, kau itu terlalu banyak menonton drama televisi!" Sudah mulai jengah dengan godaan yang dilontarkan.
"Aku tidak berfikir yang aneh-aneh kok, cuma lagi menganalisa keadaannya saja" tetap menjawab dengan jahil.
"Ck, terserah kau sajalah" beranjak ke arah kamar.
"Heiii, kau tidak mau menerima permohonan wawancaranya?" Celia berteriak saat Dante berjalan menjauh.
"Kau saja!" kemudian menutup pintu kamar dengan rapat.
"Hahahahaha, kau ini, lihat saja nanti, kau pasti akan menjilat ludahmu sendiri!" seperti seorang peramal yang handal, Celia kemudian melayangkan pandangannya ke arah Diva dengan penuh pancaran yang tidak biasa.
__ADS_1