
"Mau sampai kapan kita berdiam diri di sini Dante?" Celia masuk ke dalam ruang kerja dan mulai merajuk karena merasa bosan terkurung di rumah mewah itu.
"Come on Celia, kita baru satu hari berada di sini!" Dante menatap lawan bicaranya tersebut dengan tatapan tajam.
"Kau tau kan aku paling benci berdiam diri di dalam rumah?" katanya dengan wajah memelas.
"Ayolah, jangan menjadi manja begitu" pria itu paling tidak bisa mendengar gadis didepannya merajuk.
"Aku bosan sekali, tidak ada hal yang bisa aku lakukan di sini!" katanya sambil berkacak pinggang.
"Siapa bilang? Kau kan bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, menyapu, mengepel, atau berkebun!" berkata sambil tersenyum geli, membayangkan seorang Celia melakukan pekerjaan rumah tangga tersebut.
"Kau sudah gila atau bagaimana sih? Sejak kapan kau melihat aku melakukan semua itu!?" meskipun ia hanyalah putri dari seorang pengawal pribadi kepercayaan keluarga Alejandro, namun semasa hidupnya ia selalu dimanja layaknya putri kandung oleh kedua orang tua Dante dan belum pernah sekali pun melakukan pekerjaan berat.
"Ck, inilah akibatnya kalau papa dan mama selalu memanjakanmu, kau jadi bodoh dan tidak bisa apa-apa!" berdecak sambil geleng-geleng.
"Kenapa kau jadi menyalahkan om dan tante? Mereka itu mendidikku agar bisa menjadi orang yang hebat, bukan hanya sekedar jadi ibu rumah tangga biasa saja!" membela pasangan suami istri yang sudah ia anggap layaknya orang tua kandung sendiri.
"Tapi dimana-mana wanita itu tetap harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, tidak terkecuali!" Dante kembali menyunggingkan senyum gelinya.
__ADS_1
"Aku ini wanita karir, pekerjaanku adalah di kantor, berbisnis dengan banyak pengusaha!" tidak mau kalah.
"Hemmmm begitu ya??" manggut-manggut dengan mimik wajah menggoda.
"Ck, sudahlah jangan menggodaku terus, katakan saja kapan aku bisa keluar dari sini dan bisa kembali beraktivitas di kantorku?" sudah kehabisan sabar menghadapi ulah Dante.
"Kan sudah aku bilang, setelah aku dilantik!" jawabnya sambil meraih ponselnya.
"Ck, menyebalkan sekali sih!" menggerutu dengan kesal.
"Bukankah kau punya teman baru? Kenapa tidak mengajaknya bermain saja?" memberi ide kepada Celia agar mau bermain dengan Diva.
"Entahlah, kalian kan sama-sama wanita, pasti lebih tau mau bermain apa!" mengangkat bahunya.
"Ck, kau ini benar-benar menyebalkan!" menghentakkan kakinya dan berbalik serta berjalan menjauh dari pria yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
"Ahahahahaha" sementara Dante yang ditinggalkan begitu saja malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi tersebut.
...
__ADS_1
Tok Tok Tok...
Tidak lama berselang setelah Celia pergi, seorang pengawal datang menghampiri Dante dan mengetuk pintu ruang kerjanya tersebut.
"Masuklah" memberi kode dengan jarinya.
"Permisi bos, saya ingin melaporkan perkembangan terbaru tentang Emily" kata pengawal yang baru saja mengetuk pintu.
"Bagaimana?" menatap dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Sampai saat ini dia masih belum mengetahui keberadaan kita, namun demikian dia sudah menyiapkan pasukan khususnya untuk menyerang kita" menjelaskan dengan detail.
"Kalau begitu pantau terus perkembangannya, jangan biarkan dia mengetahui posisi kita apalagi sampai membawa pasukannya kesini untuk menyerang!" memberi perintah.
"Baik bos" angguk pengawal itu.
"Aku sudah menghubungi Diego untuk membantu kita sampai waktu pelantikanku tiba, jadi berjaga-jagalah terus!" lanjutnya.
"Siap boss, kalau begitu saya permisi dulu" memberi hormat sebelum kemudian keluar ruangan.
__ADS_1
"Oke, terima kasih" Dante mengiringi kepergian anak buahnya dengan sebuah anggukan.