
"Woahhh bagus sekali" Diva melayangkan pandangannya sejauh yang ia bisa ke arah tepi hutan di belakang rumah mewah nan megah itu. Ia tidak menyangka jika negara M memiliki hutan yang luas dan terjaga kelestariannya seperti ini. Karena selama ini ia hanya mendengar tentang kisah kriminal dan perdagangan ilegal saja. Tidak ada hal baik yang pernah ia dengar dari negara M tersebut.
"Kau sedang apa sendirian di sini?" Sapa seorang pria yang suaranya sudah mulai familiar ditelinganya.
"Astaga kaget!" Diva langsung melonjak learah belakang sambil memegangi dadanya.
"Aku mengagetkanmu ya? Maaf ya" Dante yang melihat gadis di depannya itu terlonjak kaget kemudian meminta maaf.
"Ah tidak kok, hanya tidak menyangka saja kalau anda juga disini" ia menjadi salah tingkah sendiri di depan pria yang ia kagumi itu.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" menatap Diva dengan teliti dan menelusuri setiap sudut tubuhnya yang kemarin sempat terlihat lebam.
"Aku sudah baik-baik saja" meskipun pada kenyataannya badannya masih sakit semua, namun Diva malu mengakuinya di depan sang idola.
"Benarkah?" mengernyitkan dahi sambil matanya tertuju pada pipi Diva yang berwarna biru keunguan.
"Hanya sedikit sakit di bagian ini hehehehe" akhirnya mengakui kalau dia belum pulih benar.
"Apa Celia sudah memberimu obat?" meraih pipi Diva dan dengan reflek mengelusnya.
"Ah eh apa?" yang dielus gelagapan dan semakin salah tingkah.
"Maaf, aku hanya ingin memastikan saja" menyadari bahwa Diva salah tingkah karena perbuatannya, Dante pun kemudian menarik tangannya menjauh dari pipi gadis itu.
"Eh iya tidak apa-apa hehehehe" berusaha menetralkan suasana.
"Sudah mau gelap, sebaiknya kau masuk dan beristirahat" mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Iya, baik" karena yang dikatakan Dante memang benar dan hari sudah mulai menjelang malam, maka Diva pun menurutinya.
"Ayo" Dante kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu masuk.
"Baik" berjalan mengekor dibelakang Dante.
"Jadi apa rencanamu setelah kau sembuh?" untuk menghilangkan kecanggungan, Dante pun membuka obrolan ringan.
"Hah maksudnya?" Diva tidak begitu paham.
"Kau tidak akan selamanya berada di sini bersama dengan aku dan Celia kan?" menengok ke arah belakang sebentar dan kemudian kembali berjalan.
"Ahhhh itu, iya yang jelas aku akan pulang ke negara asalku dan membuat artikel tentang segala hal yang aku alami selama di sini" mulai paham arah pembahasan Dante.
"Kenapa kau begitu nekad? Apa kau tidak tau kalau hal yang kau lakukan kemarin itu sangat berbahaya!?" kini Dante benar-benar berhenti dan memposisikan dirinya ke hadapan Diva.
"Apa kau tau kalau tindakanmu kemarin itu sangat membahayakan dirimu sendiri? Bagaimana kalau kemarin kami tidak menerobos masuk? Apa kau yakin masih mau hidup setelah hal buruk itu menimpamu!?" menunjuk dada Diva, seolah-olah ia ingin mereka ulang kejadian yang menimpa gadis itu kemarin.
"Maaf" Diva menundukkan kepala.
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku, itu sama sekali bukan urusanku dan aku tidak peduli! Yang aku heran adalah kenapa ada gadis sebodoh dan seceroboh dirimu!?" melihat Diva sangat menyesal Dante pun menurunkan intonasi suaranya yang sempat meninggi sebelumnya.
"Apa? Anda mengatai aku bodoh dan ceroboh?" Diva tersulut dengan perkataan pria itu.
"Lalu apa namanya kalau bukan bodoh dan ceroboh!?" Dante menantang.
"Aku ini seorang wartawan, dimana-mana yang namanya wartawan ya memang begitu, mencari berita yang paling sensasional agar bisa booming!" menjelaskan dari sudut pandangnya.
__ADS_1
"Tapi tidak dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri!" menjawab argumen Diva.
"Kenapa tidak? Buktinya wartawan perang saja langsung terjun ke medan perang dan bertaruh nyawa untuk mendapatkan berita terhangat, artinya itu totalitas!" tidak mau kalah.
"Tapi tetap saja itu semua ada prosedurnya, mereka dibawah naungan sebuah organisasi yang kelak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya, sementara kau ini perorangan dan ilegal, hanya bermodalkan nekad saja!" meskipun terkesan cuek, sesungguhnya Dante berusaha mencari tau mengenai Diva. Ia meminta anak buahnya untuk mencari informasi tentang asal usul Diva dan apa motif dibalik tindakan gadis itu yang sampai nekad masuk ke sarang mafia bengis seperti Enrique.
"Ya aku kan hanya ingin tau saja" merasa kalah berargumen dengan Dante, karena semua perkataan pria itu benar, akhirnya Diva pun menjawab sekenanya.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi, percuma saja buang-buang energi karena ini bukan urusanku!" karena Diva sudah kalah telak, ai pun kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Ehhhh tuan tunggu,,," Diva berlari kecil mengejar Dante.
"Ada apa lagi?" menjawab dengan malas.
"Emmmm, begini, kan aku kemarin gagal mewawancarai bos mafia itu, emmm bagaimana kalau sebagai gantinya aku mewawancarai anda saja?" memberikan usul.
"Tidak!" tanpa berpikir panjang langsung menolak ide gadis kecil di depannya dan melanjutkan langkahnya lagi.
"Ehhhh tuannn, ayolah, aku mohon bantu aku lagi sekali ini saja" memasang wajah sok memelas.
"Ck, tidak!" tetap menolak dan kini bersiap menutup pintu ruang kerjanya.
"Ehhhh tuannnn, yaaahhhh kok ditutup sih!?" merasa kecewa karena Dante menolaknya.
"Huuuhhhhh untung saja kau ganteng, jadi aku tidak sakit hati banget-banget, kalau kau jelek sudah pasti aku langsung membencimu sampai level yang paling tinggi!" menggerutu di depan pintu yang tertutup.
"Ya sudah deh, lebih baik aku istirahat saja" karena misinya gagal, ia pun kemudian kembali ke dalam kamarnya, sementara Dante yang mendengar ocehan Diva dari balik pintu hanya bisa tersenyum geli melihat ulah gadis kecil itu.
__ADS_1