Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)

Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)
Tidak Merespon Apapun


__ADS_3

"Mereka benar-benar sudah gila, aku sudah tidak sabar untuk menghabisi mereka semua terutama Enrique!" kata Dante saat dirinya dan Celia sedang duduk di kursi luar cafe yang menghadap ke lautan lepas.


"Tenanglah, bukannya kau sudah menemui pria yang ingin merebut kekuasaan Enrique dan mengorek informasi darinya?" kata Celia.


"Ya kau benar, dia cukup menguntungkan bagiku, hanya saja nyalinya begitu lemah dan tidak mau melawan Enrique secara terang-terangan!" jawab pria itu.


"Ngomong-ngomong, apa yang tadi kau lakukan dengan gadis itu saat di depan pintu toilet?" tanya Celia dengan penasaran.


"Tidak ada, aku tidak melakukan apapun" Dante menjawab dengan acuh tak acuh karena tidak paham dengan arah pertanyaan Celia.


"Benarkah? lalu kenapa tadi aku melihat kalian berpelukan dan saling tatap dengan begitu mesranya?" gadis itu bertanya dengan blak-blakan.


"Aku tidak sengaja menabraknya saat ia baru keluar dari dalam toilet, lalu gadis itu nyaris jatuh dan aku terpaksa menangkapnya agar tidak terpelanting ke lantai, itu saja" menjelaskan apa adanya kronologi kejadian dirinya saat bertabrakan dengan Diva.


"Ohhhhhhh" gadis itu lalu ber oh ria sambil mengulum senyum yang penuh dengan arti.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tatapan tajam Dante tertuju pada Celia.


"Tidak kenapa-kenapa kok" menggelengkan kepala tapi masih dengan senyumnya yang penuh arti.

__ADS_1


"Kau itu tidak pandai berbohong!" pria itu tau bahwa Celia menggodanya.


"Sepertinya gadis itu tertarik padamu" kemudian Celia mengutarakan asumsinya.


"Ck, sok tau!" berdecak sambil menyeruput kopinya.


"Lihat saja arah jam tiga, sejak tadi dia tidak melepaskan pandangannya dari dirimu sedikit pun!" berkata sambil melirik sesaat ke arah Diva yang sejak tadi terus menatap ke arah Dante.


"Dia itu sedang menatap ke arah laut lepas!" meskipun Dante bisa melihat tatapan Diva yang memang tertuju padanya, namun pria itu tetap berkilah.


"Kau ini selalu saja seperti itu!" Celia menggerutu karena Dante tidak merespon apapun terhadap tatapan Diva.


"Aku mau kau bersikap seperti pria normal pada umumnya yang bereaksi positif terhadap wanita yang ada disekitarmu!" tuntut Celia.


"Jangan terlalu banyak nonton drama, nanti otakmu bisa rusak!" bukannya mendengarkan nasehat wanita yang ada di depannya, ia malah berceramah.


"Tapi gadis itu sangat cantik, lihatlah wajahnya sangat imut dan menarik, pasti banyak laki-laki yang tergila-gila padanya!" Celia memaksa Dante melihat ke arah Diva.


"Kalau begitu kau saja yang mendekatinya, kalau perlu nikahi dia sekalian, nanti aku yang akan memberi kalian modal untuk menikah!" menghabiskan kopi yang tinggal sedikit.

__ADS_1


"Tuh kan, kenapa sih kau ini? nanti kalau kau jadi jomblo sejati bagaimana!?" memukul lengan Dante dengan kesal karena pria itu selalu saja punya jawaban aneh jika dirinya mulai membahas tentang wanita.


"Awwwww kau ini yang kenapa? kenapa senang sekali memukuliku hah!?" menatap kesal kearah Celia yang baru saja memukulnya.


"Habisnya kau menyebalkan" berkacak pinggang.


"Sudahlah, jangan teruskan lagi, ganti topik bahasan saja" Dante malas memperpanjang pembahasan itu.


"Tapi dia cantik sekali Dante!" masih berusaha keras membujuk agar Dante membalas perhatian Diva.


"Celia!" kini reaksinya sudah mulai tidak bersahabat.


"Iya baiklah, terserah kau saja, itu kan hidupmu!" pada akhirnya menyerah juga.


"Nah gitu, baru namanya Celiaku!" tersenyum puas sambil mengacak-acak rambut gadis itu.


"Dante!" kini reaksi Celia yang berbalik tidak bersahabat kerena Dante menghancurkan tatanan rambutnya.


"Hahahahahaha" sementara yang diprotes tertawa dengan renyah melihat reaksi gadis yang dijahilinya menggerutu.

__ADS_1


__ADS_2