Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)

Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)
Memang Begitu Aturannya


__ADS_3

Pagi hari berikutnya, Diva terbangun dengan perasaan sakit dan nyeri disekujur tubuhnya.


"Awwwwww" ia meraba bagian lengannya yang terlihat biru keunguan.


"Nona, anda sudah bangun?" sapa seorang pelayan yang diutus khusus oleh Celia untuk melayaninya.


"Oh eh, iya" Diva terkejut ketika menyadari ada seseorang yang sejak tadi berdiri diambang tempat tidurnya.


"Saya Bella, yang akan melayani anda selama di sini" kata sang pelayan.


"Hai Bella, terima kasih" Diva masih belum terbiasa dengan keberadaan pelayan itu.


"Apakah ada yang bisa saya bantu untuk anda saat ini nona?" Bella bertanya dengan sopan.


"Ah tidak perlu, aku belum butuh apa-apa kok, hanya ingin mandi saja" menggelengkan kepalanya.


"Mari saya bantu kalau begitu" dengan sigap Bella berdiri di belakang Diva dan membuka retseleting gaun tidur gadis itu.


"Ehhhh kau mau apa?" Diva tersentak kaget.


"Bukankah anda mau mandi? Biar saya bantu bukakan bajunya untuk anda" jawabnya sambil tetap mengerjakan tugasnya.


"Aku bisa sendiri kok" namun Diva menolak.


"Lohhh?? Kau mau apa??" lagi-lagi Diva bingung karena pelayan itu melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak wajar.


"Saya ingin memandikan anda" jawabnya dengan polos.

__ADS_1


"Hahhh?? Memandikan aku??" ia terbelalak saking terkejutnya.


"Iya" hanya mengangguk dengan polos.


"Tidak, tidak usah, aku bisa mandi sendiri" pikiran Diva langsung berkelana jauh.


"Tapi nona Celia bilang kalah saya harus melayani anda" Bella menunjukkan wajah cemasnya.


"Tapi tidak dengan memandikan aku juga!" Diva protes.


"Apa anda yakin?" masih merasa takut tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.


"Tentu saja, memangnya sejak kapan ada aturannya seorang pelayan memandikan nonanya?" Diva benar-benar tidak habis pikir lagi.


"Memang begitu aturannya di sini nona" angguk pelayan tersebut untuk meyakinkan Diva.


"Tapi terkecuali aku, tidak usah, tidak perlu!" berlari ke arah kamar mandi dan segera mengunci pintunya.


...


"Bagaimana mandinya? Segar?" sapa Celia yang sudah menunggu saat Diva sedang mandi beberap waktu lalu.


"Eh kak Celia,, iya sangat segar" senyum manis tersungging dengan tulus dari wajah yang segar setelah mandi itu.


"Bagaimana tidurmu semalam? lalu apa luka di tubuhmu baik-baik saja?" Celia menelisik bagian tubuh yang kemarin dilihatnya terluka.


"Hanya sedikit lebam dan nyeri saja, tapi aku tidak apa-apa kok" jawab Diva sambil tersenyum lebar. Meskipun ia baru mengenal Celia, namun entah mengapa rasanya seperti mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu" kata wanita berpenampilan anggun tersebut.


"Oya, aku kesini ingin mengajakmu untuk sarapan bersama, ayo kita ke ruang makan, Dante sudah menunggu di sana" katanya lagi.


"Emmmmm" Diva berfikir keras.


"Kenapa?" tanya Celia sambil menelisik wajah ragu di depannya.


"Boleh tidak kalau aku makan di kamar saja?" meskipun ia menyukai Dante dan sangat penasaran terhadap segala hal yang dilakukan oleh pria itu, namun untuk saat ini ia merasa tidak siap bertemu dengan pria itu.


"Kenapa?" bertanya-tanya.


"Tidak apa-apa, hanya ingin di sini saja" gelengnya menutupi yang sesungguhnya.


"Apa kau sungkan terhadap Dante?" mencoba membaca pikiran Diva dari raut wajah yang tersirat, sementara yang ditanya tidak menjawab apa-apa.


"Dia memang begitu, sangat dingin, cuek dan terkesan tidak peduli, tapi percayalah dia adalah orang yang sangat baik dan peduli dengan sesamanya, jadi jangan hiraukan dia ya" Celia mencoba meyakinkan.


"Tidak, bukan begitu,," menjadi gelagepan karena seolah lawan bicaranya bisa membaca pikirannya dengan tepat. Meskipun sesungguhnya Diva tidak peduli dengan sikap dingin yang ditunjukkan Dante, namun ia benar-benar malu dan tidak punya muka untuk bertemu dengan pria itu setelah kejadian memalukan yang dialaminya kemarin.


"Aku tidak punya muka bertemu dengan Dante, karena dia telah melihatku dalam kondiai yang paling menyedihkan dan memalukan" katanya di dalam hati.


"Baiklah kalau begitu, kau makan di sini saja dulu ya, biar nanti Bella yang akan melayanimu" Celia bergegas untuk sarapan.


"Bella, layani nonamu dengan baik ya" pesannya sebelum keluar kamar kepada sang pelayan.


"Iya siap" angguk Bella dengan sigap.

__ADS_1


"Bye, sampai ketemu nanti ya" melambaikan tangan sebelum keluar kamar.


"Bye kak Celia, terima kasih sebelumnya" membalas lambaian tangan Celia sambil mengiringi kepergiannya dari kamar itu.


__ADS_2