Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)

Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)
Kematian Enrique


__ADS_3

"Tolongggggg,, jangannnnn,, aku mohonnnnnn hiks hiks hiks" Diva menangis tersedu-sedu saat dirinya sudah tidak bisa lagi melawan pria yang hendak merebut mahkotanya tersebut.


"Diam kau gadis bodoh, jangan munafik kau!" hardik pria itu sambil memukuli Diva berulang kali dengan cukup keras ketika kesabarannya sudah mulai habis saat Diva terus memberontak menolak ajakannya.


"Aku mohon, jangan lakukan itu padaku" gadis itu menutupi area pribadinya yang sudah hampir terbuka dengan sempurna.


"Kenapa memangnya hah? Bukankah kau ini sudah terbiasa melakukannya? apa salahnya jika kita melakukannya sekali saja?" pria itu benar-benar tidak mempedulikan rasa frustasi yang dialami oleh Diva.


"Tidak, aku belum pernah melakukannya, dan tidak akan pernah melakukannya dengan orang lain yang bukan suamiku!" berteriak dengan keras.


"Benarkah? Tapi sepertinya itu akan terpatahkan kali ini hehehehe" seringai licik terpancar jelas di wajah pria itu.


"Tolonggggg,, siapapun yang ada di luar sana,, aku mohon tolong akuuuuu" Diva mencoba mendorong tubuh beraroma aklohol itu dari hadapannya dengan sekuat tenaga.


"Jangan buang tenagamu dengan percuma, karena tidak akan ada satu orang pun yang dapat membantumu disini!" pria itu sangat yakin bahwa perjuangan Diva membela diri akan sia-sia belaka.


BRAKKKKK...


Namun tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar dan sesosok pria tampan bertubuh kekar masuk dengan menodongkan senjata.


"Jangan bergerak!" katanya sambil menodongkan senjata tersebut ke arah kepala pria yang hampir merebut mahkota Diva.

__ADS_1


"Brengsek, apa maumu!" karena urusannya terganggu, sang kepala geng narkoba itu menggeram kesal.


"Hahahaha, kau masih bertanya apa mauku? Tentu saja aku mau nyawamu Enrique!" kata pria tampan pembawa senjata yang tidak lain adalah Dante Alejandro.


"Beraninya kau!" Enrique yang tidak punya perlindungan apapun hanya bisa pasrah dalam kesalnya.


"Bangun, cepat menjauh dari gadis itu!" hardik Dante dengan tegas.


DORRRR DORRRR DORRRR...


Tiga letupan tepat mengenai kepala Enrique, yang membuat pria itu langsung jatuh tersungkur seketika.


"Ya Tuhannnnn" Diva yang melihat kejadian tidak mengenakkan tepat di depan kepalanya tersebut langsung teriak histeris dan hampir pingsan.


"Tenanglah aku baik-baik saja" senyum kemenangan tersungging diwajah tampan Dante.


"Dia??" Celia menatap Enrique dengan tatapan tertegun.


"Dia pantas mendapatkannya" katanya sambil menyimpan senjatanya kembali.


"Apa kau puas sekarang?" Celia menatap wajah Dante dengan seksama.

__ADS_1


"Seperti yang kau bayangkan" menendang tubuh berlumur darah itu untuk sekedar memastikan bahwa ia memang sudah tidak bernyawa lagi.


"Jadi kita sudah bisa pulang kan sekarang?" merasa misinya sudah selesai, Celia pun ingin segera kembali ke rumah besar mereka.


"Bosss rencana kita bocor, Emily dan anak buahnya menuju ke arah sini, jumlah mereka lumayan banyak, kita bisa kalah!" seorang pengawal memberitahu Dante dengan wajah yang panik.


"Brengsek, gadis itu minta dihabisi juga rupanya!" Dante lupa kalau adik perempuan Enrique yang bernama Emily memiliki kekuasaan yang cukup kuat untuk melawannya.


"Sudahlah Dante, targetmu adalah Enrique, dia sudah mati, jadi jangan cari perkara baru lagi!" Celia yang sudah lelah dengan rencana balas dendam Dante mencoba meredakannya.


"Ayo!" ia yang merasa tidak punya urusan dengan Emily pun kemudian bersiap untuk pergi.


"Tunggu, bagaimana dengan dia?" Celia menghentikan langkah pria itu sambil menunjuk ke arah Diva.


"Bukan urusan kita!" Dante tidak mau ambil pusing.


"Apa kau tidak lihat dia dalam keadaan yang tidak berdaya? Lihatlah tubuhnya penuh lebam dan pakaiannya sudah terkoyak semua seperti itu!" Celia berjalan ke arah Diva yang masih syok karena kejadian tidak mengenakkan yang beruntun ia alami baru saja.


"Bos, kita tidak punya banyak waktu lagi, Emily semakin dekat!" pengawal yang tadi memberikan info tentang kedatangan adik perempuan Enrique mengingatkan Dante lagi.


"Ayo Dante bantu aku!" Celia melepaskan jaketnya dan mengenakannya ke tubuh Diva yang hampir polos.

__ADS_1


"Ck, minggir!" mendorong tubuh Celia menjauh dan memberinya ruang di dekat Diva.


"Ayo jalan!" pada akhirnya Dante pun mengalah dan menggendong Diva berjalan ke luar bangunan itu dan menuju ke dalam mobilnya.


__ADS_2