Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)

Gelora Cinta Sang Mafia (I Love You My Diva)
Kak Celia


__ADS_3

"Apa kau baik-baik saja?" Celia bertanya kepada Diva saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya" anggukan lemah ditunjukkan oleh Diva, sementara pakaiannya sudah koyak dan kini tubuhnya hanya tertutup oleh jaket yang diberikan oleh Celia.


"Syukurlah" senyum ramah tersungging di wajah Celia.


"Dante, bagaimana sekarang?" kini tatapan Celia ke arah pria tampan yang duduk di barisan depan sebelah supir.


"Kita ke rumah tepi hutan" menjawab tanpa menoleh.


"Lalu bagaimana dengan nona ini?" kembali menatap Diva yang duduk di sebelahnya dengan penuh tanda tanya.


"Menurutmu?" bukannya menjawab, Dante malah mengajukan pertanyaan balik kepada Celia.


"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja disekitar sini, pasti akan sangat berbahaya dan jadi sasaran empuk gerombolan bajingan itu!" Celia membayangkan bagaimana masib Diva bila diturunkan oleh mereka ditengah jalan dalam kondisi yang mengenaskan seperti itu.


"Oke" hanya menjawab singkat.


"Oke apa!?" mengernyitkan dahi mendengar pria di depannya menjawab dengan jawaban tidak jelas.

__ADS_1


"Oke, terserah kau saja bagaimana baiknya" ia tidak mempedulikan nasib Diva sama sekali, karena saat ini yang ada dalam pikirannya adalah kematian Enrique dan kemenangan yang selama ini ia tunggu-tunggu, serta keberadaan Emily adik dari sang pemimpin gembong narkoba yang tidak kalah berpengaruhnya dari sang kakak.


"Kau ini ya, menyebalkan sekali" Celia memukul Dante dengan emosi.


"Ck, sudahlah Celia, kau atur saja, aku masih ada pekerjaan yang lebih besar ketimbang mengurusi nasib gadis ini!" Dante pun tersulut emosi.


"Ck" akhirnya Celia hanya bisa menyerah dan membiarkan Dante larut dalam pikirannya sendiri yang sedang bercampur aduk antara rasa senang atas kematian Enrique dengan rasa khawatir karena keberadaan Emily yang bisa mengancam mereka sewaktu-waktu.


...


"Ayo kita turun" Celia menuntun Diva keluar dari dalam mobil.


"Kita ada dimana?" kegelapan malam malam membuat Diva mengernyitkan matanya agar bisa melihat sekitar dengan lebih jelas lagi. Perjalanan panjang yang membutuhkan banyak waktu membuat mereka tiba di tempat itu saat waktu sudah dalam keadaan gelap.


"Ohhhh" gadis yang sedang terluka itu hanya ber oh ria saja.


Meskipun sebenarnya ia bisa dengan mudahnya memanggil para pengawalnya untuk membawanya pulang ketempat ia menginap, tapi entah mengapa Diva malah memilih untuk pasrah mengikuti semua yang dilakukan Celia terhadap dirinya. Dengan penuh keyakinan Diva beranggapan bahwa Celia adalah orang yang baik dan jujur. Selain itu Diva pun sangat penasaran dengan Dante Alejandro, sehingga ia pun rela mengikuti pria itu kemanapun ia pergi.


"Kau istirahatlah di sini, nanti aku akan meminta pelayan untuk membawakan pakaian ganti dan makan malam untukmu" setelah berjalan memasukin rumah besar bergaya klasik, mereka pun tiba di salah satu kamar yang posisinya dekat dengan ruang tamu.

__ADS_1


"Iya baik nyonya, terima kasih" angguk Diva dengan senyum manisnya yang sopan.


"Jangan sungkan ya, jika butuh sesuatu bilang saja padaku atau pelayan" kata Celia lagi.


"Baik nyonya" kembali menjawab.


"Heyyy kenapa kau memanggilku nyonya? Aku belum setua itu tau!" Celia berpura-pura marah.


"Lalu aku harus panggil apa?" Diva bingung.


"Panggil saja aku dengan namaku, Celia" senyum tulus tersirat dari wajahnya.


"Tapi anda kan jauh lebih dewasa dari saya" jarak usia mereka membuat Diva sungkan memanggilnya hanya dengan nama saja.


"Tidak masalah bagiku" mengangkat bahu dengan cuek.


"Emmmm bagaimana kalau aku panggil kak Celia saja?" cucu keturunan keluarga Anderson itu memberi usul.


"Hemmmm boleh juga, baiklah, panggil aku kak Celia saja kalau begitu" yang dipanggil dengan sebutan kakak pun mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah kak Celia" Diva bersemangat.


"Isitirahatlah, aku akan menemani Dante dulu" kemudian menutup pintu kamar Diva.


__ADS_2