Generation 7 Elemen

Generation 7 Elemen
(9) Pria misterius


__ADS_3

"Kau..."


"Kau manusia..." Ucapku tercekik.


Rasanya benar-benar tidak dapat ku percaya jika ada manusia selain diriku yang ada di dalam hutan ilusi. Aku merasa sangat terkejut ketika melihat yang ku panah adalah manusia. Untung saja yang ku panah adalah lengan kirinya saja.


"Untung lengan kiri yang kena." Ucapku santai.


Cling


Pria itu menatap ku tajam, seketika aku jadi salah tingkah di buatnya. Ku akui ini adalah salahku yang telah tidak sengaja memanah lengan kirinya.


Baiklah karena ini adalah kesalahan ku sepenuhnya, aku tidak bisa membiarkan dirinya terluka sendirian di hutan ilusi, aku harus bertanggung jawab atas hal ini.


Dengan cepat ku keluarkan beberapa obat-obatan herbal yang ku bawa dari istana, dugaan ku pasti benar jika aku pasti akan membutuhkannya.


Pria itu menatap ku intens, dan aku yang menyadarinya pun jadi salah tingkah di buatnya. Kalian pasti akan sama seperti ku bukan jika di lihat secara intens pasti akan salah tingkah sendiri.


Dengan cepat ku racik obat-obatan herbal itu, setelah di rasa sudah selesai aku mulai mengobati luka yang ada di lengan kirinya. Pria itu menepis tanganku kasar, sungguh rasanya begitu menyakiti hatiku. Karena niatku baik, tapi dia malah seperti menganggap ku akan berbuat jahat.


"Luka mu harus segera di obati, jika tidak luka itu bisa terinfeksi." Ucapku mencoba meyakinkan pria misterius itu.


Laki-laki itu mulai luluh untuk ku obati lukanya.


Kenapa tidak dari tadi sih luluhnya. Batinku kesal.


Setelah ku olesi obat itu padanya, aku langsung segera membungkus nya dengan kain yang telah ku siapkan sebelumnya.


"Sudah selesai. Jangan sampai luka itu terkena air." Ucapku memberi peringatan padanya.


Pria itu hanya diam seribu bahasa, aku yang menyadarinya merasa jika aku ini sedang bicara sendiri.


"Maaf." Ucapku tulus meminta maaf padanya.


Pria itu menatap manik mataku lekat, sedangkan aku yang melihat manik mata biru itu serasa sedang di hipnotis. Ya, aku terhipnotis dengan manik mata birunya itu, Manik matanya memang sangat menghipnotis diriku. Tanpa kusadari sudah hampir 2 menit aku terus menatap mata itu.


"Aku harus segera pergi." Ucapku dan berlalu begitu saja.


Pria itu hanya menatap kepergian ku, dan aku dapat merasakannya.


Aku ingin sekali mengeluarkan aura cosmo ku namun itu tidak bisa ku lakukan, alasannya karena kakek yang memberikan amanah padaku agar aku tidak menggunakannya.


Aku terus berjalan mengitari hutan ilusi, rasanya hutan ini tidak ada batasannya atau aku sudah tersesat sama seperti pangeran Han.


Tunggu dulu.


Jika seseorang yang tersesat disini hanyalah pangeran Han, apakah berarti yang telah ku panah tadi adalah Han.


Kau sungguh sangat bodoh Zae, kenapa kau malah tidak sampai situ, padahal tujuan mu hanyalah membawa pangeran Han pulang. Tapi kenapa malah .....


__________


Pangeran Han___


Sudah hampir 2 tahun aku di dalam hutan ilusi ini, aku merasa sangat kesepian dan takut. Aku tidak menyangka jika aku telah bertambah usia sekarang, dan usiaku sekarang adalah 17 tahun.


Jika kalian berpikir, bagaimana caraku hidup itu sungguh sangat mudah bagiku. Aku makan mencari hewan buruan, dan aku minum mencarinya dari sari buah terkadang aku pun minum dan sengaja mengumpulkan banyak air saat hujan tiba.

__ADS_1


Pakaian ku benar-benar sudah sangat kotor karena terkena noda tanah, bahkan noda yang lainnya. Namun semua itu tak dapat meluruhkan semangatku untuk mencari jalan pulang.


Perjuanganku begitu sangat mengerikan. Hampir setiap kali aku belajar menggunakan cosmo ku, selalu saja banyak monster yang bergerak cepat dan akan menghabisi ku. Hingga aku memutuskan untuk menjadi bocah rimba sekarang, walaupun aku masih memakai baju khas pangeran ku tapi itu tidak mempengaruhi perubahan ku.


Hari ini aku memilih untuk berjalan-jalan ke sekeliling hutan ilusi, aku harap aku bisa menemukan jalan atau makanan untukku makan nanti. Dan jangan lupa aku tidak tahu sekarang pagi atau malam, wajar saja kan disini terlampau gelap jadi aku tidak tahu sekarang pagi atau malam.


Aku mulai berjalan tak tentu arah, aku tidak tahu ada di mana sekarang. Yang aku tahu aku terus berjalan tanpa arah, rasanya semakin lama aku disini aku semakin tidak memiliki kesempatan untuk hidup dengan damai lagi.


Tuk


Tuk


Tuk


Aku mendengar suara langkah kaki seseorang, aku penasaran dengan suara itu karena jika aku pikir dia manusia tentu saja tidak mungkin bukan jika ia sengaja masuk kedalam hutan ilusi.


Karena rasa penasaran ku yang begitu tinggi, aku memutuskan untuk melihatnya secara langsing jika dia benar-benar manusia atau bukan.


Kresek


kresek


Suara semak-semak yang berbunyi saat aku bersembunyi di baliknya, aku tahu ini pasti akan ketahuan. Baiklah aku memilih untuk memanjat ke atas pohon, dan tanpa sengaja aku membuat suara lagi hingga...


Ctak


Ada satu anak panah yang berhasil melukai lengan kiri ku. Rasanya sungguh sangat perih, belum lagi darahnya yang masih terusan mengalir tanpa batas.


Ku dengar suara langkah kaki yang berjalan dengan cepat ke arahku, dan betapa terkejutnya aku saat melihat ada seorang gadis cantik yang membawa busur panah serta anak panahnya datang ke padaku.


Gadis itu pun nampak sama terkejutnya dengan ku, hingga ingin mengatakan satu katapun sangat susah ia keluarkan.


"Kau manusia..." Ucapnya tak percaya.


Jelas aku ini memang manusia, memang dia pikir aku ini adalah monster hutan ilusi kah.


"Untung lengan kiri yang kena." Ucapnya santai.


Cling


Aku pun menatapnya tajam, seketika dia jadi salah tingkah karena tatapan ku. Aku dapat melihat dari wajahnya jika dia merasa sangat bersalah padaku, tentu saja harus begitu karena dia sudah melukai lengan kiri ku.


Ku lihat dia mengeluarkan beberapa tanaman herbal dari dalam tas kecilnya itu, dan dengan telaten dia menumbuknya di bebatuan yang ada di sekitar ku.


Aku terus saja melihatnya secara intens untuk lebih memastikan jika dia memang manusia, dan ya aku tidak salah karena dia benar-benar manusia. Selain itu dia juga sangat cantik dengan bola matanya yang berwarna hazel, dan bibir tipis yang sangat imut.


Aku sedikit menyunggingkan senyum kecil saat dia salah tingkah karena aku menatapnya secara intens. Hingga dia mulai ingin membalurkan obat yang sudah ia tumbuknya ke lenganku, aku langsung menepisnya dengan cepat.


"Luka mu harus segera di obati, jika tidak luka itu bisa terinfeksi." Ucapnya mencoba meyakinkan ku.


Dengan sedikit terpaksa aku pun menuruti perintahnya, dan dengan cepat ia melumuri obat itu ke lengan kiri ku. Sungguh ini tidak seperti yang ku bayangkanlah, karena yang ku bayangkan ini akan terasa sangat perih namun ini berbanding sebaliknya, Sensasinya sangatlah dingin dan sejuk.


"Sudah selesai. Jangan sampai luka itu terkena air." Ucapnya.


Aku hanya diam seribu bahasa.


"Maaf." Ucapnya tulus meminta maaf pada ku.

__ADS_1


Aku menatap manik matanya lekat, sedangkan aku yang melihat manik mata hazel itu serasa sedang di hipnotis. Ya, aku terhipnotis dengan manik mata hazel itu, Manik matanya memang sangat menghipnotis diriku. Tanpa kusadari sudah hampir 2 menit aku terus menatap mata itu.


"Aku harus segera pergi." Ucapnya dan berlalu begitu saja.


Sedangkan aku hanya menatap kepergiannya, dan aku dapat merasakannya jika dia sesekali menoleh ke arahku. Sungguh gadis aneh.


Tanpa dia ketahui aku mengikuti nya dari belakang. Itupun tanpa sepengetahuan darinya, karena sekarang cara menguntit ku lebih berhati-hati dari sebelumnya.


_________


Disisi lain...


Kakek guru___


Aku tahu ini pasti akan terjadi sekarang.


Aku melihat Shaining yang begitu cemas pada Zae, dan juga Alex yang merasa sangat bersalah karena tidak bisa mencegah Zae untuk tidak pergi.


Sedangkan aku. Aku hanya terus tersenyum di keadaan seperti ini, tentu saja sikapku ini membuat Surya (Raja matahari) merasa heran denganku.


"Guru. Apakah guru tahu jika ini akan terjadi." Ucapnya yang sedikit mendesak.


Aku kembali tersenyum sendiri seperti orang gila, adalah alasan yang membuat ku tersenyum ?, tentu saja ada dan alasan itu adalah permainan dari yang ilahi untuk mempertemukan Zae dan Han di hutan ilusi.


Sedangkan Surya masih bingung dengan sikap ku ini. Dan aku hanya kembali tersenyum ketika sekelebat bayangan tentang pertemuan Zae dan Han di hutan ilusi yang begitu lucu muncul kembali.


"Guru, bisakah kau bercerita padaku. Jika tidak kau bisa memberi tahuku dimana Zae berada, agar aku dapat dengan mudah mencarinya." Ucap Shaining yang tiba-tiba datang dan membawa pertanyaan.


Sebenarnya aku kasihan pada mereka yang begitu mengkhawatirkan Zae, namun aku tidak bisa memberitahukan dimana Zae berada. Jika aku memberi tahu mereka, semuanya akan berubah.


"Cahaya yang berkilau akan datang, dan mutiara akan keluar dari kubangannya." Ucapku kembali datar.


Sengaja aku mendatarkan wajahku ini, karena jika wajahku berubah datar itu tanda tandanya yang ku katakan sangatlah benar, dan tak dapat terbantahkan.


"Jika cahaya yang berkilau sampai ikut masuk kedalam kubangannya..." Ucapku menggantung.


"Maka mutiara tak akan pernah keluar dari kubangannya bersama dengan cahaya." Ucapku melanjutkan.


Ku lihat Surya mengernyitkan dahinya bingung, namun tak lama Surya nampak sudah paham dengan maksud kata-kata ku, dan dia pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya padaku. Tentu saja aku membalasnya dengan senyuman khas ku.


"Jangan cari Zae..." Ucap Surya akhirnya.


Sedangkan Shaining yang mendengar itu hanya terdiam cengo, rupanya dia masih belum paham dengan kata-kata itu. Aku rasa kata-kata yang ku jadikan clue tidak sulit bukan.


Zae sebagai cahaya, sedangkan Han sebagai mutiara. Mereka memang sangat serasi sekali sekarang di hutan ilusi, maafkan kakek karena tidak bisa membantu kalian keluar dari dalam hutan ilusi. Karena ini adalah takdir yang di berikan tuhan kepada kalian agar kalian dapat menyelesaikannya sendiri tanpa campur tangan orang lain.


_


_


_


Bersambung...


_________


Cuap-cuap author...

__ADS_1


Hai readers...


minta like, komen, sama vote dan rate 5 ya🤗😘


__ADS_2