
Ctak
Bruk
Aku berhasil mengenainya.
Dengan perlahan, dan kesadaran penuh aku menormalkan kembali Cosmo ku ini. Setelah di rasa normal, aku mendekat ke arah kakek guru dan dengan cepat aku mengambil 1 bungkus batang coklat yang di selipkan di balik jubah kakek tadi.
"Yeeee...aku dapat coklat" Ucapku kegirangan.
_
_
Memang benar aku tadi menempatkan sasaran ku pada kakek guru, namun sasaran yang lebih tepatnya adalah 1 batang coklat yang di selipkan di balik jubah oleh kakek.
Aku berlari dan hendak duduk di dahan pohon apel lagi, namun langkah ku terhenti saat kakek menyuruhku untuk berhenti di tempat.
Huufftt...
Padahalkan aku ingin menikmati coklat manis ini.
"Ada apa lagi kek ?." Tanyaku tak senang.
Dia hanya tersenyum tipis. "Kamu sudah bisa sampai Indra ke 6, namun sayangnya kau belum bisa langsung ke Indra 7." Ucapnya sambil berlalu pergi.
"Yang artinya, kakek nyatakan jika kamu belum lulus." Ucapnya lalu pergi ke arah kak Shaining, dan Alex.
"Huaaaaa..." Aku berteriak-teriak tidak jelas.
Membayangkan kejadian yang tadi saja aku hampir mati muda, apalagi jika harus yang lebih dari itu.
___________
Shaining___
"Huaaaaa...." Teriak Zae dengan sangat keras.
Memangnya apa yang sedang terjadi dengannya ?. Bukankah seharusnya dia senang karena berhasil membuka Indra ke tujuhnya, tapi kenapa dia berteriak seperti itu.
Ku lihat kakek guru hanya tersenyum melihat Zae seperti itu.
"Kek, apa yang terjadi dengan Zae." Tanyaku setelah kakek sampai di depanku.
"Dia gagal." Ucap kakek guru santai.
Hampir saja rahang ku jatuh ke bawah jika tidak di tahan oleh Alex. Ternyata Alex juga sama terkejutnya denganku.
"Bagaimana bisa." Ucapku mem-beo.
"Dia baru berhasil membuka Indra ke 6-nya." Ucap kakek masih dengan keadaan santai.
"Bukannya itu Indra ke 7." Ucapku tak yakin.
"Bukan. Zae baru bisa membuka Indra ke 6 nya, bukan Indra ke 7."
__ADS_1
"Lalu panah yang tadi." Ucapku sambil menunjuk kearah Zae yang masih berteriak histeris.
Dia itu seorang tuan putri dari kerajaan matahari, tapi tingkah konyolnya seperti manusia bumi lainnya. Tidak ada tata krama-nya sama sekali.
"Itu adalah bentuk busur panah dari Indra ke 6-nya...."
"Busur panah Indra ke 7 lebih kuat, dan Cosmo yang digunakannya pun tidak main-main." Ucap sang kakek memberi jawabannya.
Berarti baru kali ini Zae bisa membuka Indra ke 6 nya, lumayanlah.
"Cosmo sekuat itupun baru bisa membuka Indra 6 nya, apalagi yang harus membuka Indra 7." Ucap Alex sambil terus melihat tingkah konyol Zae.
"Huaaaaa ......" Teriak Zae semakin pecah.
Ya Tuhan, sungguh anak itu membuat malu bangsa kerajaan matahari.
Dengan langkah cepat aku pun menghampiri Zae yang masih duduk di atas tanah, dan aku menggendongnya seperti membawa karung. Bahkan sudah ku gendong seperti ini pun teriakannya masih saja pecah. Bisa-bisa telingaku lah yang akan bermasalah.
"Sudah diam." Ucapku datar.
Dan seketika itupun dia berhenti berteriak. Memang anak ini selalu menurut apa yang aku perintahkan padanya. Adik yang baik...
"Kakek guru, kenapa aku masih belum bisa membuka Indra ke 7 ku.." Rengek Zae yang mulai pecah' kembali.
Dengan sengaja aku membekap mulutnya dengan tanganku, supaya dia tidak terus-menerus merengek kepada kakek guru. Karena itu sangat memalukan.
"Diamlah." Ucapku dengan nada penekanan.
Di lain sisi, Alex, dan kakek guru hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku bersama Zae.
"Baik kek." Ucapku lantas melepaskan bekapan tanganku dari mulut Zae.
"Asin tau." Ucap Zae yang sedang menjilati bibirnya bekas bekapan tanganku.
"Pasti nggak higienis juga." Ucapnya ketus.
Ingin sekali ku jitak kepalanya itu.
___________
Azaela___
Teng
Teng
Teng
Menikmati coklat sembari melihat kak Shaining, dan Alex yang tengah bertarung pedang.
Dapat ku lihat dan ku rasakan dengan jelas aura cosmo mereka yang begitu kuat sekali, mereka selalu berasumsi jika kita tengah bertarung dengan seseorang nanti, lebih baik gunakanlah tenaga dalam mu dan jangan cuma mengandalkan tenaga luar mu saja.
Ya seperti itulah contohnya. Namun berbeda dengan mereka, aku lebih memilih menggunakan tenaga luar saja di bandingkan menggunakan tenaga dalam.
Aku juga memiliki asumsi ku sendiri, jika kita tengah bertarung dan kita menggunakan tenaga luar, kita dapat menggunakan tenaga dalam jika tenaga luar telah habis sepenuhnya.
__ADS_1
Nyam...nyam...nyam...
Aku terus mengunyah coklat yang di berikan kakek guru padaku, hingga aku tidak tahu jika sedari tadi sang kakek selalu melihat ke arahku.
"Cara makan mu itu seperti orang kelaparan." Ucap kakek guru datar, dan mulus seperti jalan tol.
Ohh ayolah kek, anda tidak tahu betapa sukanya saya dengan coklat silper quin dari bumi ini.
"Coklat ini sangat enak kek, patut kan jika aku menyukainya." Ucapku dengan mulut yang penuh dengan coklat.
Kakek guru hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku, memang benar sih terkadang tingkah ku ini seperti anak kecil.
"Kek, apakah generasi ke 7 dari elemen lain juga sekolah bersama kakek ?."
Entah mengapa tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di benakku. Aku juga jadi penasaran, bagaimana rupanya tampang mereka semua yah.
"Ada yang sekolah bersama, dan ada yang tidak." Ucapnya datar tanpa mengalihkan pandangannya dari Kak Shaining, dan Alex.
"Alasannya." Tanyaku yang masih penasaran dengan jalur cerita ini.
"Untuk generasi yang tidak berguru dengan kakek, mereka sudah di didik langsung oleh keluarganya. Contohnya Ling-Ling dari keraja kipas besi, pemilik elemen angin." Ucap kakek datar.
"Hanya Ling-Ling saja kah."
"Iya." Ucapnya datar dan singkat.
Aku hanya menganggukkan kepalaku untuk memberi jawaban pada kakek jika aku paham, dan kembali melihat pertandingan sengit antara kak Shaining, dan Alex.
Entah kenapa tiba-tiba saja insting ke kanak-kanak kan ku hadir di acara seperti ini.
"Ayo kak Shaining !!!!....
Semangat....
Semangat....
Semangat...." Ucapku sambil menabuh meja yang ada di depan ku.
Sedangkan kakek guru nampak heran dengan yang ku lakukan. Kalau di batin bisa saja kakek mengatakan "Apa yang kau lakukan itu." Ya seperti itulah batinnya, mungkin...
Wow....
Rupanya mereka juga melakukan hal sama seperti yang ku lakukan tadi. Bahkan Cosmo mereka terlihat dan terasa sangat kuat sekali.
Sesekali ku curi arah pandang ke kakek, dan dia hanya tersenyum tipis melihatnya. Bahkan senyum tipisnya pun tak dapat di katakan senyum, karena saking hematnya kakek untuk ber-senyum.
Dan saat aku mengembalikan arah pandang ku pada kak Shaining, dan Alex. Betapa terkejutnya aku melihat mereka yang sudah memegang senjata mereka masing-masing.
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1